
Sungguh bahagia hari ini karena hari ini Mawar akan segera bertemu dengan anaknya. Banyak barang yang mereka beli. Jika Mawar hanya membeli banyak pakaian yang lucu-lucu untuk baby Al, beda lagi dengan Wira yang membeli banyak mainan.
Cukup kesulitan untuk membawa barang sebanyak ini namun akhirnya mereka tiba dengan selamat. Pak Norman yang menjemput mereka pun terkejut ketika melihat banyak barang yang di beli majikannya ini.
"Mas sama mbak mau buka toko ya?" tanya pak Norman sambil bergaruk kepala bingung.
"Muat gak muat, harus muat kedalam mobil ini," ucap Wira yang tidak mau tahu. Dari awal Wira sudah menegaskan pada pak Norman untuk membawa mobil yang lebih besar.
Mereka pulang, Mawar sudah tidak sabar lagi untuk mencium dan memeluk anaknya. Wira dapat melihat dengan jelas wajah-wajah bahagia istrinya ini.
Setibanya di rumah, Mawar langsung turun begitu saja dan langsung masuk kedalam rumah.
"Al, mamah pulang sayang....!" ucap Mawar kegirangan, maksud hati ingin langsung menggendong anaknya namun Asti langsung menahannya.
"Kalian ini, pulang gak salam gak apa main nyelonong aja. Cuci kaki tangan atau mandi sana. Mana tahu kalian pulang membawa virus!" gerutu Asti.
"Tapi aku rindu Al mah?" protes Mawar.
"Mamah ini, Mawar benar. Kami sangat merindukan Al," timpal Wira.
"Sana bebersih dulu sana!" selalu lagi Asti menyuruh anak menantunya untuk mencuci kaki dan tangan mereka.
Mawar duluan, wanita ini bergegas membersihkan diri setelah itu barulah menggendong anaknya.
Gemas sekali, Mawar terus menciumi anaknya. Mawar terus menumpahkan rasa rindunya selama satu minggu ini.
"Gantian....!" ujar Wira main ambil anaknya dari gendongan Mawar.
"Mas, aku masih mau sama Al...!"
"Anak papah, ganteng imut seperti marmut. Papah kangen, oma mu jahat gak mau kasih kabar!" ujar Wira terus mencium anaknya sambil menyinggung mamahnya.
"Biarin aja!" seru Asti.
"Mas, sini aku lagi....!"
Mawar dan Wira malah rebutan untuk menggendong Al. Dongkol sekali hati Mawar karena suaminya ini tidak mau mengalah.
Beda lagi dengan Asti yang bingung melihat pak Norman sejak tadi bolak balik masuk membawa banyak barang.
"Wira, sebanyak ini pesanan siapa?" tanya Asti penasaran.
"Semua untuk si tampan ini. Sayang, gendong sebentar!" ujar Wira lalu membongkar mainan yang sengaja di beli di liburan kemarin.
__ADS_1
"Kalian pergi liburan apa berburu mainan hah?"
Asti bergeleng kepala saat Wira membongkar barang-barang tersebut.
Asti heran saat melihat Wira merangkai mobil mainan yang menggunakan aki tersebut.
"Di sini gak ada yang jual apa? kenapa kalian jauh-jauh membeli mobilan ini?"
"Kelihatan bagus dan lucu mah. Jadi, kami membelinya!" jawab Wira.
Sudah lah, Asti tidak peduli. Semua oleh-oleh hanya untuk cucu kesayangan. Sedangkan dirinya hanya dapat angin saja. Sungguh Wira anak durhaka melupakan mamahnya.
"Mamah aku kasih mentahannya aja!" ujar Wira hanya di iyakan Asti.
"Mah, Al rewel gak?" tanya Mawar.
"Ya gak dong, lain kali perginya lama aja. Mamah senang bisa mengurus Al sendirian."
"Dasar nenek-nenek, senang anak kecil tapi bikin anak cuma satu!" celetuk Wira membuat mamahnya kesal.
"Papah kamu yang gak jago. Jadi, salahkan dia...!" sahut Asti membuat Mawar tertawa.
"Papah kurang berpengalaman. Masa iya aku gak punya adik atau kakak."
Wira terus mengejek mamahnya, membuat Asti geram pada anak lelakinya ini.
"Sini cucu ku, sana pergi istirahat saja kalian...!" ujar Asti kemudian mengambil lagi cucu dan membawanya masuk kedalam kamar.
Mawar hanya menurut saja, lagian masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan. Membereskan semua barang-barang ini.
Makan malam yang membuat hati senang, Asti menceritakan bagaimana perkembangan Al selama satu minggu ini. Mawar juga sangat antusias mendengar cerita dari mamah mertuanya ini.
Selesai makan malam, mereka duduk-duduk sebentar di ruang keluarga setelah itu masuk kedalam kamar.
Al bayi yang pintar, tidak rewel bahkan untuk tidur pun tidak harus banyak drama.
"Seminggu di tinggal sudah sebesar ini. Menggemaskan!" ucap Wira yang hendak mencubit pipi anaknya namun di tangan pria ini di tepis langsung oleh Mawar.
"Mas, kamu mau cubit pipi Al ya...?"
"Gak kok!" bohong Wira.
"Halah, mas pikir aku gak lihat apa?"
__ADS_1
"Habisnya mas gemas, sama gemasnya kalau lihat kamu. Ayo kita main kuda-kudaan, mumpung Al udah tidur!" ujar Wira tanpa aba-aba langsung menggendong Mawar menuju tempat tidur.
Sejak malam itu sampai malam ini, Wira belum lagi absen menggenjot istrinya. Meskipun hanya seronde, yang penting bagi Wira bisa menabur setetes dua tetes.
"Sayang, sejak kapan kamu membabat hutan mu ini hah?" tanya Wira yang terkejut ketika mendapati hutan istrinya telah gundul.
"Apa sih mas, seperti itu juga di tanyakan. Bikin malu aja!"
"Lah, sekarang polos seperti tempe mendoan tanpa saos. Kurang kres...kres....!" ujar Wira membuat Mawar tertawa.
Tidak ingin menanggapi ucapan suaminya lagi, jika di tanggapi ceritanya akan semakin menjauh.
Malam telah berganti pagi, Mawar mulai sibuk mengurus anak kesayangannya pagi ini. Rutinitas yang sama seperti ibu-ibu pada umumnya.
"Di mana istri dan anak mu?" tanya Asti.
"Di kamar mah. Mamah masak apa?" tanya Wira balik yang tumben melihat mamahnya masak hari ini.
"Masak soto, katanya istri mu ingin makan soto jadi mamah masakin hari ini."
"Oh, jangan lupa masak yang enak ya...!" ujar Wira hendak berlalu pergi.
"Wira,....!" panggil Asti menghentikan langkah anak lelakinya.
"Iya mah, ada apa?"
"Widya terus datang ke rumah. Menurut mamah ini sangat tidak pantas. Dia hanya mencari kamu, ada baiknya kamu tegur dia. Kasihan Mawar, nanti istri mu salah tanggap."
"Wira mengerti mah. Rencananya hari ini aku ingin bertemu dengan Widya."
"Mamah gemes lihat dia. Suka sekali bikin keributan, beda sekali sifatnya sama almarhum Dania."
"Ya udahlah, jangan terlalu di pikir!"
Ingin sekali Asti menjitak kepala anaknya dengan centong sayur panas ini. Entah kenapa Wira selalu menggampangkan semua masalah, sama seperti almarhum papahnya.
Wira kembali ke kamar, mendapati istri dan anaknya sudah cantik dan tampan. Sungguh, segar sekali pemandangan seperti ini.
"Mawar ku, tetaplah mekar sayang," gurau Wira.
"Setiap hari aku mekar, tidak ada alasan layu bagi untuk layu!" sahut Mawar.
"Tentu saja kau selalu mekar, setiap malam ku sirami...!" ucap Wira dengan gelak tawanya.
__ADS_1
Lucunya, Al juga ikut tertawa membuat Wira dan Mawar gemas pada anak mereka. Lucunya Wira, tidak hanya suka mengerjai istrinya Wira juga suka mengerjai anaknya sampai menangis.