Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Bonchap 105


__ADS_3

"Kenapa kau diam saja, biasanya kau selalu mengoceh!''


Jonas tidak senang melihat Wiwi yang diam. Jonas lebih senang melihat istrinya banyak omong.


"Farah menghubungi ku tadi, dia bilang akan pulang ke Indonesia," ucap Wiwi dengan wajah lesu.


"Lalu, hubungannya dengan mu apa?"


"Ya aku ingin juga...!!"


"Kau pulang ke sana mau ngapain, mau ketemu sama ayah mu?"


Wiwi bergeleng kepala, "tidak, tidak minat lagi. Ngapain bertemu dengan ayah yang sudah tega menjual ku?"


"Kalau kamu mau pulang ya pulang. Tapi, kau harus punya tujuan."


"Selain diri mu, aku tidak memiliki tujuan lain...!" ucap Wiwi dengan menatap mata suaminya.


"Jangan menatap ku seperti itu," kata Jonas dengan wajah gugup.


"Lah kenapa memangnya?"


"Sejak kau hamil kau bertambah cantik. Aku tidak kuat melihat mata mu!"


Shiiit,....


Wiwi tertawa mendengar ucapan suaminya.


"Menggelikan, bilang saja kau sedang ingin...!"


"Hehe,....!" Jonas meringis karena Wiwi bisa menebak isi kepalanya, "tanaman itu harus di siram setiap pagi. Kalau gak ya bakal layu...!"


"Memangnya apa yang kau tanam?"


"Itu,....!!" seru Jonas sambil menunjuk perut buncit istrinya.


"Kerja sana, perasaan sejak aku hamil kau semakin malas berangkat ke kantor."


"Suka-suka aku lah, aku bosnya. Lagian, apa salahnya jika aku hanya ingin berada di samping istri ku hah?"


"Ya tidak salah sih, itu bagus juga!"


"Em, ya sudah. Aku berangkat dulu, ada rapat penting di kantor hari ini. Aku janji akan pulang secepatnya."

__ADS_1


"Iya, hati-hati di jalan suami ku," ucap Wiwi.


"Beri aku obat semangat dulu," ujar Jonas lalu menyodorkan wajahnya minta di cium.


Wiwi mencium wajah suaminya berulang kali. Sudah biasa seperti itu jika Jonas ingin pergi. Wiwi kembali merasa kesepian, Jonas harus menghadiri rapat penting di kantornya.


Setibanya di kantor, Jonas langsung meminta semua berkas pada Sekretarisnya yang sedikit centil ini. Jonas tidak peduli, pria ini juga tidak bisa membedakan orang-orang yang suka mencari perhatiannya.


"Apa semua berkas sudah lengkap?" tanya Jonas.


"Sudah pak, saya sudah menyiapkannya sejak dua hari yang lalu!"


"Oh, baguslah!" seru Jonas membuat sang sekretaris kesal.


"Maaf pak, boleh saya menyampaikan pendapat saya?",


"Cepat katakan!" titah Jonas.


"Bukannya saya mau ikut campur rumah tangga bapak. Tapi, setelah saya cari tahu ternyata istri bapak itu,...ehem,...maaf pak, bekas wanita kupu-kupu malam. Bapak tidak takut jika istri bapak bermain api di belakang bapak? atau bisa jadi anak yang dia kandung sekarang bukan anak bapak?"


Jleb,....


Jonas yang sejak tadi diam mendengarkan ucapan sekretarisnya yang bernama Sania itu langsung mendongak menatap tajam ke arahnya.


"Siapa yang memberi mu izin untuk mencaritahu latarbelakang istri ku hah?" tanya Jonas dengan suara datar, "dari ucapan mu yang terakhir, seolah kau menggiring opini jika istri ku hamil dengan laki-laki lain. Begitu maksud mu?"


Semakin tajam tatapan Jonas, telinganya panas tidak terima mendengar tuduhan seperti ini tentang istrinya.


"Sebelum kau mencaritahu latarbelakang istri ku, aku sudah tahu siapa dia sebenarnya. Aku menerima dia apa adanya, berdasarkan cinta yang aku punya. Tugas mu hanya bekerja di kantor ini, bukan berkomentar tentang keluarga ku. Kau di pecat!" ucap Jonas dengan tegas saat melontarkan kata pecat.


"Pak, tapi pak. Saya kan hanya berpendapat saja!" Sania mulai panik.


"Aku tidak butuh pendapat mu untuk rumah tangga ku. Ku pikir kau akan memberi pendapat untuk pekerjaan. Jadi, silahkan angkat kaki dari perusahaan ku!"


"Tapi pak,.....!!"


"keluar.....!!" usir Jonas dengan nada tinggi membuat Sania ketakutan.


Sania mencoba membela diri, tapi Jonas yang sudah marah besar langsung beranjak dari duduknya dan menyeret Sania keluar dari ruangannya.


Semua karyawan yang melihat hal tersebut hanya bisa melihat dan diam dengan rasa penasaran.


"Berani kau mengomentari tentang istri ku, akan ku binasakan kau!" ancam Jonas dengan sorot mata tajam.

__ADS_1


"Pak, maafkan saya. Saya hanya ingin menyadarkan bapak agar bapak tidak jatuh ke tangan wanita salah." Sania masih kekeh dengan ucapannya.


"Lalu, menurut mu wanita yang benar itu seperti apa hah? seperti kau yang berusaha menghasut bos mu sendiri dan mencoba merusak rumah tangganya. Sania, aku tahu kau karyawan ku yang paling lama di kantor ini. Tapi, kau sudah lancang berkomentar. Sekarang juga pergi dari tempat ini...!"


"Pak, tapi pak....!"


"Security, seret perempuan ini keluar!" titah Jonas lalu meninggalkan Sania yang berusaha meminta maaf padanya.


Mulailah heboh gosip hari ini, Jonas tidak peduli dan langsung membatalkan rapat hari ini. Jonas memilih pulang, hatinya sungguh kesal.


Setibanya di rumah, emosi Jonas langsung redam saat melihat sang istri yang sedang tertidur dengan pulasnya.


Jonas melihat perut Wiwi, kembali teringat dengan ucapan Sania yang mengatakan jika Wiwi bisa saja hamil anak dari laki-laki lain.


Jonas pusing, bingung ingin bersikap seperti apa. Pria ini pada akhirnya memutuskan untuk pergi berendam untuk menghilangkan pikiran kotornya.


Sementara itu, Farah dan Joni yang sudah tiba di Indonesia merasa senang sekali. Kembali ke apartemen mewah mereka yang berada di salah satu wilayah ternama.


Farah yang tidak sabaran langsung bertanya apa tujuan Joni kembali ke tempat ini sebenarnya.


"Sayang, istirahat dulu. Nanti kita bicarakan!" ucap Joni membujuk.


"Kau membuat ku penasaran, cepat katakan. Apa tujuan mu datang ke sini?"


"Kau memilih istirahat atau sama sekali tidak ku beritahu," ancam Joni.


"Kau memberitahu ku atau kau sama sekali tidak mendapat jatah!" Farah balik mengancam.


"Perempuan satu ini, selalu ingin menang sendiri...!" kesal Joni.


"Harus seperti itu jika tidak kalian para suami akan besar kepala!"


"Istirahat sayang, istirahat dulu. Aku janji sore ini aku akan memberitahu mu," kata Joni yang kembali mengalah.


"Aku lelah,...!" keluh Farah.


"Sini aku pijeti....!" ujar Joni dengan senang hati.


Sudahlah, Farah mengalah saja. Lagian menunggu sore hanya butuh waktu beberapa jam saja.


Terus memijati sang istri hingga terlelap tidur, fokus Joni terganggu pada kulit kaki Farah yang nampak membiru.


"Kau pasti lelah, maafkan aku sudah mengajak mu pergi sejauh ini," batin Joni sambil memijat kaki istrinya.

__ADS_1


Sejak Farah hamil, sikap Joni semakin berubah lebih dewasa. Farah adalah prioritas utamanya, Joni hanya ingin membuktikan jika ia bisa membahagiakan Farah.


"Jika di masa lalu aku tidak bisa melakukan yang terbaik untuk mu. Aku harap sekarang dan selamanya aku bisa melakukan yang lebih baik untuk mu," ucap Joni lalu mengecup kening istrinya.


__ADS_2