
Sekali lagi, Wira menatap tidak suka pada tamu yang sejak setengah jam yang lalu belum juga ada niatan undur diri.
Widya, nama tamu tersebut adalah Widya. Wanita berusia dua puluh tujuh tahun, mantan adik ipar Wira yaitu adik kandung dari almarhum Dania.
"Sebenarnya, aku berniat untuk mengajak mas Wira berziarah ke makam kak Dania. Tapi,....!" Widya melirik Mawar yang sedang menggendong anaknya, "sekarang mas Wira sudah punya istri dan anak. Kok bisa secepat ini melupakan kak Dania?"
"Empat tahun menduda menurut mu itu sebentar?" tanya Wira yang gemas ingin mencubit mulut Widya.
"Mas, aku sama Al masuk kamar dulu ya," ujar Mawar yang merasa tidak enak hati, "maaf mbak, aku masuk duluan ya. Anak ku ingin tidur!"
Wira menatap punggung istrinya, lelaki ini paham betul jika sang istri pasti merasa tidak enak hati.
"Menurut ku sih itu terlalu cepat. Entahlah, mas Wira yang terlalu cepat menikah atau aku yang terlalu lama tinggal di luar negeri."
"Dari cara bicara mu ini sepertinya kau sangat tidak terima jika aku sudah menikah. Kenapa?" tanya Wira langsung pada intinya.
Widya membenarkan posisi duduknya.
"Ya menurut ku, mas Wira terlalu cepat untuk menikah!"
"Apa hak mu bicara seperti itu?" tanya Wira dengan menunjukkan langsung wajah ketidaksukaannya.
"Oh ya mas Wira, papah ingin bertemu mas Wira. Kata papah, mas Wira gak pernah datang menjenguknya. Apa karena istri mas Wira yang melarang?"
Nafas Wira naik turun, ingin mengusir mantan adik iparnya ini namun tidak enak hati.
"Jangan membawa istri ku. Dia tidak ada hubungannya dengan ini semua."
"Jika tidak, lalu kenapa mas Wira tidak pernah menjenguk papah. Jangan mas Wira pikir kak Dania sudah meninggal mas Wira seenaknya memutuskan tali silaturahmi. Ingat mas, kak Dania meninggal saat ingin melahirkan anak kalian...!"
Hati Wira semakin panas, kedatangan Widya kali ini hanya untuk mengungkit luka masa lalunya.
"Kau harus pulang, aku masih ada pekerjaan yang lain...!" usir Wira yang sudah tidak tahan.
"Apa mas Wira masih menyimpan barang-barang kaj Dania?" tanya Widya yang tidak menanggapi, "atau sudah mas Wira berikan pada istri baru mas Wira...?"
Wira tidak tahan lagi, lelaki ini berdiri lalu menghampiri Widya dan menarik tangan wanita itu keluar dari rumahnya.
"Jika kau datang hanya untuk mengorek luka lama. Sebaiknya kau pergi saja, Dania sudah lama meninggal. Dania sudah tenang dan jangan coba-coba mengusik ketenangannya!" ucap Wira dengan tegas.
"Yang kau sebut itu adalah kakak ku, hanya untuk melahirkan anak mu sekarang aku tidak memiliki kakak lagi. Dan sekarang malah sudah menikah, dasar lelaki...!"
__ADS_1
Wira tidak menggubris ocehan Widya, lelaki ini langsung masuk ke dalam rumah. Widya yang kesal langsung pergi dari rumah Wira.
Segelas air dingin di teguk habis oleh Wira. Hati yang panas berangsur dingin ketika mendengar suara tangis anaknya.
Wira menghampiri istrinya yang sejak tadi ternyata sibuk menggendong baby Al yang tidak mau tidur.
"Biar mas yang gendong...!"
"Terimakasih mas!" ucap Mawar.
"Apa pun omongan yang keluar dari mulut Widya, jangan pernah kau dengarkan. Sejak dulu dia memang suka seperti itu, suka sekali ikut campur dalam rumah tangga orang."
"Kok gitu sih, seharusnya tidak boleh bersikap seperti itu."
"Dia ikut tinggal bersama aku dan Dania dulu. Setelah Dania meninggal Widya memutuskan tinggal di Singapore karena dia sendiri tidak begitu akur dengan papahnya."
"Lah, kok jahat gitu sih?"
Mawar tidak percaya.
"Ipar adalah maut, sesulit apapun hidup kita ada baiknya tinggal sendiri. Tapi, Widya terus saja memaksa pada kakaknya untuk tinggal bersama kami. Namanya juga sayang adik, Dania selalu melakukan apapun permintaan Widya."
"Tapi, yang seperti itu sudah pasti ipar. Nyatanya banyak hubungan rumah tangga yang kandas hanya dengan salah satu dari pihak keluarga terlalu ikut campur. Menyebalkan,...!" Wira gemas sendiri ketika mengingat Widya.
"Udah ah, jangan di ambil hati. Kalau sudah tahu sifatnya seperti itu. Ada baiknya di hindari saja!" Mawar menepuk pundak suaminya.
Baby Al, jika di gendong Mawar akan lama sekali tidur. Tapi, jika di gendong Wira pasti cepat sekali tidur. Sungguh membuat Mawar iri.
"Al udah tidur. Udah siang juga sebaiknya kamu ikut tidur, mas ada pekerjaan sedikit. Kalau udah selesai mas balik lagi ke kamar."
"Iya mas, kerja yang semangat ya suami ku!" ucap Mawar.
"Cium dulu, baru semangat!" seru Wira.
Cup,...
Mawar mengecup bibir suaminya.
"Yang bawah kapan dong di kecup...?"
"Mas, mulai lagi deh...!!"
__ADS_1
Mawar mencubit perut suaminya. Wira hanya tertawa keluar dari kamar.
Widya, dari rumah Wira wanita ini datang menemui Tia. Widya kenal dengan Tia sejak dirinya menjadi ipar dari Wira. Widya tahu jika Tia dan suaminya sangat dekat dengan Wira.
"Sudah lama kita tidak bertemu. Kamu kemana aja?" tanya Tia yang masih berbaik sangka.
"Sejak kak Dania meninggal aku memutuskan pindah ke Singapore. Eh, kamu sama Bayu udah nikah aja. Aku gak tahu kalau kalian udah nikah."
"Iya, kan saat kita kenal dulu aku dan suami ku udah tunangan."
"Udah punya anak berapa?" tanya Widya yang tidak tahu jika Tia dan Bayu belum memiliki anak.
"Kami belum punya anak," Jawab Tia jujur.
"Lah kok belum punya anak?" tanya Widya seolah mencibir, "tiga tahun nikah ngapain aja? kok kalah sama mas Wira yang baru nikah udah punya anak aja!" cerocos Widya membuat hati Tia sakit.
Tia memaksakan senyumnya, meredam emosi karena di cafenya sekarang sedang banyak pengunjung.
"Ya kalau belum di kasih mau bagaimana lagi? yang penting sabar aja."
"Aku kesal sama mas Wira...!" ucap Widya membuat Tia heran.
"Loh, kenapa memangnya?" tanya Tia yang penasaran.
"Udah nikah aja, masa kak Dania di lupakan!"
"Bukan melupakan, setahu ku Wira masih ingat pada almarhum kakak mu. Lagian, dia menduda cukup lama. Empat tahun, apa salahnya jika dia menikah?"
"Aku gak suka aja!" ketus Widya.
"Kok gak suka, aneh. Apa hubungannya sama kamu?" Tia sebenarnya kesal namun wanita ini penasaran.
"Wajah ku dan wajah kak Dania sangat mirip. Kenapa dia tidak mencoba mendekati ku?"
Jleb,....
Tia sangat terkejut mendengar ucapan Widya yang menurutnya tidak masuk di akal.
"Kau ini aneh, kenapa jadi kau yang ingin mengatur perasaan orang lain? selama ini kemana aja?"
"Aku sebenarnya selalu memantau mas Wira dari sosial medianya. Sebenarnya sudah lama aku ingin pulang tapi aku memiliki masalah yang harus aku selesaikan. Barulah sekarang aku bisa pulang, setelah mas Wira menikah dan punya anak."
__ADS_1