
Jonas tidak mengingkari ucapannya, pesta pernikahan mewah yang dengan mengundang banyak tamu berkelas membuat Wiwi merasa dirinya bagaimana butiran pasir di tengah permata.
"Kau kenapa?" Farah yang peka dengan ekspresi temannya mencoba bertanya.
"Lihatlah, pesta mewah ini. Aku merasa tidak pantas!"
"Kenapa kau berpikir seperti itu hah?"
"Aku adalah perempuan kotor, tiba-tiba menikah dengan laki-laki kaya raya dan memiliki segalanya membuat ku sadar jika aku tidak pantas untuk kakak ipar mu!"
"Kita memang perempuan kotor, tapi kita juga berhak bahagia!"
"Tapi aku tidak pernah bermimpi setinggi ini Farah."
"Sudahlah, jangan di pikirkan. Kau ratunya malam ini, apa pun kata orang jangan pernah kau dengarkan."
Wiwi hanya tersenyum sambil memandang suaminya yang sedang asyik bernyanyi bersama Joni.
"Apa kau tidak tertarik mengadakan pesta seperti ini Farah?" tanya Wiwi.
Farah tersenyum, menoleh ke arah Joni.
"Jika dulu aku selalu mengimpikan pesta seperti ini. Tapi sekarang tidak. Bagi ku, hidup baik dan bahagia setiap hari saja sudah lebih dari cukup."
"Aku merindukan almarhum ibu ku sekarang!" ucap Wiwi dengan mata berkaca-kaca.
"Sudah, jangan sedih. Ayo kita bernyanyi...!"
Farah menarik tangan Wiwi, mengajak wanita itu naik ke atas panggung untuk bernyanyi bersama Jonas dan Joni.
Tidak ada lagi kesedihan, mereka sangat menikmati pesta malam ini. Untung saja Farah dan Wiwi memiliki wajah yang cantik, Jadi sekonyol apa pun tingkah mereka akan membuat orang lain tertawa.
Pukul dua belas malam pesta selesai, tamu juga sudah pulang begitu juga dengan Wiwi dan Jonas yang sekarang sudah berada di kamar.
Buk,....
Wiwi yang baru saja selesai membersihkan riasan dan berganti pakaian langsung menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.
"Huh, apa pun masalahnya kasur adalah tempat yang paling nyaman!" ucap Wiwi membuat Jonas tertawa.
"Lalu bagaimana dengan ku hah?"
Tiba-tiba Jonas berada di atas tubuh istrinya.
"Heh, mau ngapain hah?"
"Menurut mu aku mau apa?"
Jonas menatap mata istrinya.
"Mau wik-wik.....!" jawab Wiwi dengan polosnya.
Jonas tertawa renyah, mengecup tipis bibir istrinya.
__ADS_1
"Segala yang ada pada mu telah membuat ku candu. Perkataan mu, sikap dan tingkah mu terutama tubuh mu," ucap Jonas membuat Wiwi melongo.
"Kau ini benar-benar gila...!"
"Kau yang membuat gila, kau yang mengajari cara bercinta. Salah aku atau salah kau hah?"
"Tidak ada yang salah jika keduanya saling menikmati. Sana turun, aku mau tidur...!"
Wiwi mendorong tubuh suaminya.
Tidak melepaskan Wiwi, Jonas tiba-tiba saja memegang kedua tangan istrinya lalu mencium bibir Wiwi.
Saling *******, lidah mereka saling bertaut penuh cinta. Mata yang mengantuk tubuh yang lelah seakan terpanggil hasratnya.
Jari jemari Jonas mulai nakal melepas kancing piyama istrinya. Tidak melepas pengait bra karena Wiwi memiliki kebiasaan tidur tidak menggunakan bra.
Pedang Jonas terus menggesek, semakin keras tidak tahan untuk masuk kedalam gua mencari kehangatan.
Memberi tanda merah di tempat biasa, menyesap dan meremas bagian yang bisa membuat keduanya semakin tergila.
Jleb,....
Batang keras itu telah masuk, mengedut di dalam gua gelap. Bunyi keributan muncul dari perpaduan rumput lebat keduanya.
Bum....bum..plok....
Jonas mulai pandai menggenjot, beberapa gerakkan baru langsung ia praktekkan. Wiwi curiga jika suaminya ini pasti sudah menonton film biru.
Aaaaawww.....
Plok,....plok,...plok,....
Semakin cepat gerakan, Wiwi mulai mencengkram punggung suaminya.
"Aku mau keluar!" bisik Wiwi dengan suara manjanya.
"Tunggu aku sebentar lagi,...!"
Aaaaaah.....aaaaaah.....
ueuuuuuh.....aaaaaah....
Jonas mempercepat gerakannya, maju mundur lalu dengan cepat mengisap put*ng kenyal. Tubuh mereka menggelinjang, suara ******* manja menggema di sudut ruangan. Jonas dan Wiwi saling menyemprotkan lava hangat yang berpadu jadi satu di dalam sana.
Untuk beberapa saat tubuh mereka masih menegang, menikmati indahnya surga dunia yang akhir-akhir ini baru di rasakan oleh Jonas.
Jonas terhempas di samping Wiwi, nafas keduanya sama tak beraturan. Berhubung tubuh mereka sangat lelah, keduanya hanya main satu ronde saja.
Malam telah berganti pagi, begitu seterusnya hingga waktu tak terasa sudah dua bulan berjalan.
Usia kandungan Mawar sudah memasuki bulan ketiga. Di bulan yang sekarang Mawar mulai merasakan gejala ibu hamil pada umumnya.
Mawar sering mengalami muntah-muntah di waktu siang, lebih sering menangis hanya karena masalah sepele.
__ADS_1
Wira menjadi serba salah, mulutnya yang suka ceplas ceplos terkadang tidak bisa di rem. Contohnya seperti ini, hanya karena gurauannya Mawar mendadak jadi pendiam.
"Sayang, masa hanya karena kue apem kamu ngambeknya seharian!"
"Jangan ganggu aku mas!" seru Mawar yang masih fokus dengan buku bacaannya.
"Mas gak bisa kamu diemin begini. Ayo ngobrol, jangan hanya kue apem kamu jadi seperti ini."
"Lagian mas itu bikin kesal, aku mintanya kue apem beneran tapi kamu selalu nyambungnya ke sana. Menyebalkan!"
"Lah, nyatanya kue apem kamu lebih legit dan enak. Apa mas salah?"
Wajah Mawar semakin cemberut.
"Tuh kan, ke sana lagi bahasnya!"
"Mas bercanda sayang, kamu ini kenapa sih kok sekarang jadi suka ngambek sih?"
"Udah, pergi sana. Kamu tu lama-lama nyebelin...!"
Mawar menutup bukunya, wanita ini memilih keluar dari kamar dan menghampiri mertuanya yang sedang mengajari Al berjalan.
Di usianya yang menginjak sepuluh bulan, perkembangan Al sangat pesat. Baby Al sudah bisa berjalan jatuh berkat sang oma yang sangat telaten mengurusnya.
"Mawar, kamu kenapa nak?" tanya Asti heran dengan wajah di tekuk menantunya itu.
"Mas Wira itu mah. Suka sekali membuat ku kesal...!" adu Mawar.
"Jangan kamu ladenin, nanti kamu stres sendiri...!"
"Pakara kue apem aja ngadu sama mamah. Mawar,...Mawar....!"
"Tuh kan mah....!"
"Wira kamu itu kenapa sih, suka sekali bikin istri mu nangis sekarang?"
"Aku cuma pengen makan kue apem di kasih parutan kelapa. Tapi mas Wira terus mengejek ku."
"Sayang, apa mas salah kalau bilang apem kamu lebih legit dan enak hah?"
"Astaga Wira,.....kamu ini memang tidak waras!"
Asti marah, ia melempar mainan cucunya.
"Mah, sakit....!"
"Kamu ini benar-benar keterlaluan. Gak malu sama anak, gak malu sama orangtua!"
"Hajar aja mah...!" celetuk Mawar.
Asti yang geram dengan perkataan Wira langsung mengambil mainan pedang milik Al lalu memukul Wira.
Wira di hajar oleh mamahnya, bukannya apa, sudah gerah sekali Asti dengan tingkah dan lelucon anaknya ini.
__ADS_1
"Wahai suami ku, apa kau sudah puas melihat anak mu yang seribu persen sikapnya menurun langsung dari kamu?"
Asti terduduk lemas, melihat Wira yang sekarang semakin mengingatkannya pada sang suami. Dari gaya bicara dan candaan, Wira benar-benar mirip dengan almarhum papahnya.