Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Chapter 62


__ADS_3

Pagi sekali Asti sudah harus pergi ke bandara karena subuh tadi dirinya mendapatkan kabar jika sang kakak telah meninggal dunia.


Wira tidak bisa ikut menemani mamahnya karena tidak mungkin dirinya meninggalkan Mawar dan anak mereka sendiri di rumah. Asti akan berada di luar kota selama dua minggu, sebenarnya Asti sangat khawatir meninggalkan Mawar bersama dengan Wira mengingat kelakuan anaknya itu yang tidak bisa di tebak.


Sebelum pergi Asti terus mewanti-wanti anaknya agar tidak menyentuh istrinya sampai pada waktunya nanti.


Tentu saja hal tersebut membuat Wira kesal, tapi mau bagaimana lagi karena Mawar lebih memilih mendengarkan ucapan mamah mertuanya.


Pagi pertama tanpa Asti, Mawar di bantu suaminya memandikan baby Al dan juga menggantikan pakaiannya.


Ada satu hal yang membuat Wira ingin jungkir balik, yaitu ketika baby Al buang air besar padahal bocah mungil ini belum ada lima menit selesai mandi.


"Anak mu ini benar-benar menguji kesabaran kita. Belum lima menit loh, kok bisa-bisanya di bab?"


"Namanya juga bayi mas, kamu itu yang aneh!"


"Gemas aku sama Al. Wajah menciplak, suka ngerjain orangtua lagi...!" Wira terus menggerutu sambil membersihkan tumpukan harta karun milik anaknya.


"Apa bedanya sama kamu?" tanya Mawar geram, "udah ah, bersihkan cepat. Aku mau mandi...!" ujar Mawar lalu meninggalkan suaminya yang sibuk membersihkan ****** anak mereka.


"Sayang, kok gitu sih? kenapa jadi aku yang membersihkannya?"


Protes Wira.


"Karena kamu bapaknya mas....!" seru Mawar dari dalam kamar mandi.


Dengan mulut yang terus berkomat kamit, pada akhirnya baby Al sudah kembali bersih dan wangi. Ingin sekali Wira menggigit pipi gembul anaknya yang sudah berusia satu bulan ini.


Sampai sekarang, Wira belum mengizinkan siapa pun datang untuk menjenguk anaknya mengingat baby Al lahir secara prematur. Selain tangan orang rumah, tidak ada yang menyentuh baby Al kecuali Dokter.


"Haus...?" Wira mengajak anaknya bicara, "haus apa lapar?" Wira bertanya pada anaknya, "makanya kerja dong. Gak usah kerja lah, warisan papah banyak buat kamu. Tapi ingat, jangan di hamburkan buat main perempuan ya. Setia seperti papah yang sangat mencintai mamah kamu!"


Sudah gila Wira ini, anaknya yang belum mengerti apa pun sudah di ajak bicara yang bukan-bukan.


Lelaki ini mengambil satu botol susu yang sudah di siapkan Mawar sebelum mandi lalu memberikannya pada baby Al.


"Susu sapi sama susu mamah enak mana Al?" tanya Wira pada anaknya lagi, "kalau papah sih, enakan susu mamah. Kenyal gimana gitu bikin nagih....!"


Wira terkekeh geli sendiri dengan ucapannya. Untuk saja Mawar masih berada di kamar mandi, jika tidak sudah pasti akan kena bogem dari istrinya.


Sedang asyik menggendong anaknya, bi Nami memberitahu Wira jika ada Dimas dan salah seorang karyawan perempuan datang ke rumah untuk minta tanda tangan.

__ADS_1


Wira agak kesusahan untuk tanda tangan karena dirinya sekarang sedang menggendong anaknya.


"Biar saya gendong pak. Sepertinya bapak kesusahan!" ucap Dimas menawarkan diri.


Mata Wira langsung melotot tajam.


"Enak aja mau gendong anak ku. Bikin sana....!" sahut Wira membuat Dimas melongo sedangkan karyawan perempuan tersebut langsung membuang wajah malunya.


"Ehem, belum nikah pak. Mau bikin sama siapa?" ujar Dimas malah menanggapi ucapan Wira.


"Sama dia aja,...!" tunjuk Wira pada karyawan perempuan tersebut.


"Saya pak...?" tanya karyawan yang bernama Mia.


"Ya, kamu kan belum menikah."


"Tapi saya sudah punya tunangan pak!"


"Ya udah, terserah Dimas mau bikin sama siapa. Sama kuntilanak di gudang kantor juga gak masalah!"


Glek,....


"Sudah selesai, sana kembali ke kantor!" usir Wira dengan nada bercanda.


"Terimakasih pak. Kalau begitu kami pergi dulu...!"


Dimas dan Mia pamit pergi, Wira kembali ke kamar.


"Dasar bos gendeng!" umpat Mia.


"Wiro sableng, tapi punya usahanya sukses semua. Heran aku, apa aku harus sableng dulu ya biar bisa sukses seperti pak Wira?" ujar Dimas membuat Mia tertawa terbahak-bahak.


Mia yang bekerja sudah lama di perusahaan Wira tahu betul jika bosnya itu tidak pernah sereceh ini sejak istrinya meninggal dulu. Tapi, sejak Wira kembali menikah, keceriaan Wira kembali lagi seperti dulu.


Sementara itu, Farah dan Wiwi sedang berkemas karena besok siang mereka akan berangkat. Tidak banyak barang yang mereka bawa, karena semua pakaian di tinggal di rumah mami Ger.


"Kau tidak ingin menjenguk mamah mu sebelum pergi...?" Joni bertanya pada Farah.


"Untuk apa?" Farah bertanya balik, "jika aku menemuinya yang ada bahasannya cuma uang dan uang. Aku lelah!"


"Dia ibu mu, setidaknya kau harus memberitahu dia. Dan kau, apa kau tidak ingin menemui ayah mu?"

__ADS_1


"Buat apa juga, toh jika aku menemui ayah ku pasti mereka akan menyeret ku kembali ke mami Ger. Aku tidak mau!"


"Malang betul nasib kalian berdua ini. Sama-sama korban orangtua!" ucap Joni.


"Haduh, kau ini mengatai aku dan Wiwi seolah hidup mu paling sempurna saja. Dasar belut berlendir...!" kata Farah lalu menimpuk pundak Joni dengan tasnya.


"Terserah kau mau mengatai aku apa Farah-Farah. Di Malaysia kita akan tinggal selama sepuluh hari lalu kita akan pergi ke Singapore. Kakak laki-laki ku ada di sana!"


"Wah, kau punya kakak laki-laki?" tanya Wiwi penasaran, "udah nikah belum?"


"Awas saja kalian berani menggoda kakak ku. Akan ku kirim kalian ke rumah mami Ger lagi...!"


"Bajingan satu ini, tidak bisa di ajak bercanda sama sekali...!" geram Farah.


Seharian ini Wiwi dan Farah hanya bersantai di apartemen. Wiwi sejak tadi sudah ngorok sedangkan Farah hanya duduk melamun mengingat sang mamah yang sekarang sedang menjalani masa hukumannya.


Ada rasa tidak tega di hati Farah, namun mau bagaimana lagi karena semua ini adalah hukuman yang harus di jalani atas kejahatan yang di lakukan Yunita.


"Apa yang yang kau lamunkan hah?" Joni mengejutkan Farah.


"Mamah, aku bingung ingin bersikap seperti apa sekarang."


"Terserah kau ingin melakukan apa. Coba lah jangan mengikuti apa kata orang, sesekali kau harus mengikuti kata hati mu. Farah, kau sudah tiga puluh tahun, masa iya hidup mu akan seperti ini terus?"


"Ya tidak, aku juga iri melihat orang lain bahagia. Andai aku dulu menggunakan hati untuk mendapatkan Wira, pasti sudah lama aku hidup bahagia...!"


Plak,...


Auu,.....


"Brengsek! kenapa memukul kepala ku hah?" Farah kesal.


"Jangan mengingat suami orang, sudah ku bilang cari yang jomblo. Aku juga jomblo, kalau kau ingin menikah ya ayo. Asal jangan suami orang!"


"Halah munafik, dulu aja kau mengumpankan ku pada terong tua itu...!"


"Itu kan dulu, bayarannya mahal!"


"Sialan betul kau ini...!" umpat Farah benar-benar kesal dengan Joni.


Sekesal apa pun Farah pada Joni, wanita ini tidak pernah marah karena Joni sudah sangat banyak membantunya.

__ADS_1


__ADS_2