Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Chapter 101


__ADS_3

"Aku bingung, sejak hamil Wiwi lebih suka tiduran di rumah. Kalau di ajak pergi gak mau...!" keluh Jonas.


"Masih mending istri ku dong, meskipun gak mau di ajak pergi tapi dia suka memasak di rumah."


"Bentar-bentar marah, ngamuk gak jelas. Aku harus bagaimana?"


"Jangan menyalahkan istri mu, mungkin saja itu bawaan dari anak mu. Maklum lah, kau kan jenis manusia yang suka marah-marah!"


"Sana keluar dari ruangan ku!" Jonas yang kesal langsung mengusir adiknya.


"Berani mengusir ku akan ku robohkan gedung ini...!" ancam Joni.


"Cepat robohkan, aku ingin melihat almarhum papah dan kakek menyeret mu ke dasar neraka jahanam!"


"Sebelum mereka menyeret ku, akan ku beri mereka masing-masing satu cewek cantik dan seksi."


Shiit......


Jonas mengumpat, pria ini melempar pena miliknya.


"Aku mau pulang, Farah pasti sudah memasak makanan enak. Bagaimana dengan mu, apa kau tidak pulang kak?"


Jonas memutar bola matanya malas, ingin sekali menendang bokong adiknya ini. Joni, meskipun ia suka pergi-pergi dari kantor tapi semua pekerjaannya sudah selesai dengan baik. Di bandingkan Jonas, Joni lebih pintar dari kakaknya tapi pria ini tidak mau memimpin perusahaan.


"Istri ku, duri-duri kehidupan ku, di mana kau sayang?"


Baru saja Joni membuka pintu ia langsung berteriak mencari Farah.


"Kau memang pantas di sebut bajingan. Entah kenapa kau ini tidak ada romantis-romantisnya sama sekali...!" Farah mengomel.


"Perasaan itu sudah paling romantis deh. Apa lagi yang kau protes hah, nenek lampir!"


Geramnya Farah, ingin sekali mencabik mulut lelaki di hadapannya ini.


"Kau menyebut ku dengan duri-duri kehidupan. Apa maksud mu begitu hah?"


"Ya itu karena kau selalu menusuk-nusuk tongkol ku!"


Plak....


Farah memukul lengan Joni dengan sutil kayu yang sengaja di bawanya dari dapur.


"Kau membuat jas ku kotor!"

__ADS_1


"Untung aku hanya membuat jas mu kotor. Kalau ku seret ke dapur lalu ku goreng bagaimana?"


"Kalau di goreng di wajan aku tidak mau. Tapi, kalau kau menggoreng ku di atas ranjang aku siap dua puluh empat jam!"


Farah mendengus kesal kemudian kembali ke dapur untuk melanjutkan masaknya yang belum selesai. Namanya juga istri, sudah pasti Farah akan mengomel dengan kecepatan tinggi.


"Aku heran, jika setiap istri selalu mengomel setiap hari. Apa darah mereka tidak tinggi?"


Joni bergeleng kepala lalu pergi mengganti pakaiannya yang kotor.


Senakalnya Joni, sejak menikah dengan Farah lelaki ini lebih suka makan masakan istrinya. Sesibuk apa pun ia dengan pekerjaannya pasti saja Joni menyempatkan diri untuk pulang makan bersama dengan Farah.


Selesai makan siang, Joni kembali ke kantor. Farah menutup pintu, lalu kembali ke dapur untuk membersihkan meja makan.


Setelah semuanya selesai, Farah pergi ke kamarnya. Wanita ini duduk di depan cermin rias, menatap dirinya sendiri yang terlihat lebih dewasa sekarang.


"Meskipun aku dan Joni menikah seperti bermain. Tapi, entah kenapa aku merasa bahagia dengan kehidupan ku yang sekarang. Beginikah rasanya bahagia?"


Mata Farah berkaca-kaca, dirinya merasa selama ini hidup yang di jalaninya begitu sia-sia.


Beda lagi dengan drama rumah tangga Jonas dan Wiwi, siang ini ia tidak mau makan. Wiwi sangat menginginkan makan bakso. Tidak ingin membeli di restoran Indonesia, wanita ini meminta Jonas yang membuatnya sendiri.


Seumur hidup Jonas, tidak ada yang berani memerintah melakukan hal selucu ini. Ingin menolak tapi Jonas tidak tega melihat sang istri yang hanya tiduran di atas ranjang tersebut.


"Jika kau tidak membuatnya sekarang, akan ku pastikan kau tidak akan dapat jatah malam ini. Kau ingat malam ini malam apa kan?"


Jonas dan Wiwi sendiri membuat jadwal untuk melakukan hubungan suami istri setelah Wiwi hamil. Seminggu tiga kali, meskipun kurang tapi Jonas tidak berani meminta lebih karena Wiwi selalu mengatasnamakan anak sebagai alasannya.


Jonas langsung berganti pakaian setelah itu pergi ke dapur. Dengan bantuan beberapa pembantu, Jonas memasak bakso ala dirinya.


"Meat ball,...meat ball,...punya istri sukanya mengerjai ku saja. Heran...!" gerutu Jonas.


"Maaf tuan, itu bukan mengerjai. Tapi, ibu hamil maunya memang banyak. Ini adalah hal yang wajar!" sahut Pembantu Jonas dengan beraninya.


"Kalian perempuan maunya menang sendiri kalau di rumah. Apa pun kesalahannya, kebenaran adalah milik kalian!" gerutu Jonas semakin kesal.


Satu jam berkutat di dapur akhirnya selesai juga. Jonas juga sudah menyiapkan menu bakso di meja makan. Aromanya menyebar keseluruhan penjuru ruangan. Mereka memang tinggal di Singapore, tapi selera makan tetap Indonesia karena beberapa pembantu Jonas memang berasal dari Indonesia.


"Ah seriusan kamu yang bikin?" tanya Wiwi tidak percaya.


"Kau ingin makan bakso yang di meja atau bakso ku di ranjang?"


"Kalau boleh keduanya kenapa harus memilih salah satunya?"

__ADS_1


Wiwi dengan santainya menarik kuris lalu menikmati semangkuk bakso buatan suaminya.


"Enak, ternyata kau berbakat juga jadi kang bakso!"


"Beri saos sedikit, biar tambah enak!" ujar Jonas yang mengambil botol saos, "eh muncrat!"


"Gak enakkan muncrat di luar. Kasihan...!" Wiwi malah mengejek suaminya sendiri.


Jonas menghembuskan nafas kasar, benar sekali yang di katakan Wiwi ini.


"Malam ini boleh muncrat di dalam ya...!" bisik Jonas.


"Berani melakukannya akan ku adukan kau pada Dokter ku!" ancam Wiwi.


"Menyebalkan!"


Wajah Jonas terlihat kesal tapi Wiwi tidak peduli. Semangkuk telah habis, sekarang Wiwi menambah mangkuk kedua. Jonas merasa senang dan bangga karena hasil jerih payahnya di hargai oleh sang istri.


"Bilang pada adik ipar ku untuk mampir setelah pulang kerja. Aku ingin menitipkan bakso ini pada Farah."


"Ah, ngapain ngasih para tupai itu?"


"Kau ini, Farah teman ku. Tanpa dia aku tidak akan berada di sini. Mana mungkin aku melupakan dia, apa lagi kami berdua sudah lama tidak memakan makanan seperti ini."


"Mereka kan bisa membelinya sendiri...!"


"Mau apa tidak?"


Mata Wiwi mulai melebar, membuat Jonas takut di buatnya.


"Iya,...iya,....!"


Wiwi tertawa, ada rasa puas tersendiri jika melihat wajah kesal suaminya apa lagi Jonas suka marah-marah.


"Senyum dong,...!" Wiwi menarik bibir Jonas.


"Apaan sih....?"


"Kalau cemberut terus pasti anak mu ini ikutan cemberut. Apa kau mau di lahir dengan wajah cemberut terus?"


"Hiiiiiii.........!!" Jonas melebarkan senyumnya, membuat Wiwi tertawa, "apa yang kau tertawa kan hah?"


"Sebentar, coba kau ulangi lagi senyum mu...!"

__ADS_1


Dengan polosnya Jonas menurut, "hiiiiiiiiii......!!"


"Sangat mirip dengan ini,....!" kata Wiwi lalu menunjukan gambar monyet tersenyum di ponselnya. Wanita ini tertawa puas namun tidak dengan suaminya, untung saja Jonas mencintai Wiwi, jika tidak sudah pasti wanita ini akan kehilangan nyawanya sekarang karena sudah mengejek Jonas.


__ADS_2