Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Chapter 46


__ADS_3

Di balik kacamata hitam yang bertengger di atas hidung mancung Wira, pria ini kembali mengingat sosok Dania yang begitu melekat di hatinya.


Dalam hidup Wira, hanya dua kali pria ini jatuh cinta. Dania adalah cinta pertama Wira dan sekarang Mawar lah yang akan menjadi cinta terakhirnya.


Menjadi satu-satunya anak dalam keluarganya, Wira tidak memiliki waktu untuk mengenal banyak wanita karena sejak sekolah Wira sudah di ajarkan untuk mengelola perusahaan sang papah.


Baik Mawar dan Wira, keduanya tak saling membuka suara selain berdoa di dalam hati masing-masing. Wira menggenggam tangan Mawar seakan pria ini takut akan kehilangan.


"Sayang, ayo kita pulang!" ajak Wira, Mawar hanya menurut saja.


Mereka langsung pulang, setibanya di rumah Mawar langsung pergi mandi setelah itu beristirahat.


"Apa yang sedang kau pikirkan hah?" tanya Wira dengan tangan nakalnya mengambil camilan yang hendak di makan istrinya.


"Setiap kali aku melihat pemakaman, aku teringat akan keluarga ku terutama Andini."


"Kenapa memangnya?" Wira kembali bertanya karena penasaran.


"Entahlah, menurut ku kematian adalah keputusan terbaik yang di ambil Tuhan atas rasa sakit yang selama ini di deritanya."


"Sudahlah, jangan di pikirkan lagi. Kasihan anak kita nanti," ujar Wira mengingatkan.


"Mas, besok tak terasa usia kandungan ku sudah memasuki bulan ke lima. Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Mawar yang bingung.


"Istri mas inginnya apa?" Wira bertanya balik, "mau bikin anak lagi juga gak bisa, yang ini aja belum kelar!"


"Kamu ini mas, ada-ada aja!"


"Mas tahu kamu kesepian, makanya mas gak berangkat ke kantor akhir-akhir ini. Mamah akan pulang mendekati bulan kelahiran mu. Tante sakitnya bertambah parah."


"Sore ini kita main yuk mas ke cafenya bu Tia." Ajak Mawar langsung di iyakan Wira.


Sementara itu, Silla dan Desi merasa senang dengan kehadiran Yunita. Pagi ini Yunita memasak makanan enak untuk kedua wanita ini. Sudah lama mereka tidak merasakan masakan rumah seperti ini.


Melihat Silla dan Desi makan dengan lahap, Yunita tersenyum puas.

__ADS_1


"Ternyata, gampang juga mengambil hati kedua perempuan bodoh ini," batin Yunita yang terus berpikir licik.


"Tante,....!"


Silla memanggil Yunita.


"Masakan tante sangat enak. Jika tante mau, tante bisa bekerja di rumah ini. Tidak usah melakukan pekerjaan yang berat, cukup memasak saja karena setiap dua hari sekali akan ada orang yang akan datang membersihkan rumah ini," tutur Silla.


"Terimakasih. Tante sangat terharu atas kebaikan kalian. Di saat anak tante membuang tante, kalian mau menolong tante."


Yunita kembali mengeluarkan jurus sedihnya.


"Sudahlah, jangan di pikirin. Ini ada uang, tante bisa gunakan untuk belanja kebutuhan sehari-hari," kata Silla sambil mengeluarkan setumpuk uang berwarna merah.


Melihat uang di depan matanya, hati Yunita langsung berseri-seri.


"Em, tante. Kami berangkat bekerja dulu, tante hati-hati ya di rumah."


Silla dan Desi kemudian pamit untuk bekerja.


"Tidak ada Farah juga tidak apa-apa. Masih ada Silla yang baik hati yang bisa aku bodohi...!" ujar Yunita lalu tertawa puas.


Sedangkan Bambang yang baru bangun dari mabuknya langsung mengamuk dan marah besar ketika dirinya tidak mendapati Farah dalam apartemennya.


Di tambah lagi semua uang dan barang berharga yang tersisa milik pak tua ini sudah di bawa kabur oleh Farah. Wanita itu sekarang sudah berada di salah satu bar yang ada di kota tetangga.


Ternyata, iming-iming sugar daddy yang di harapkan Darah tidak sesuai dengan kenyataan. Orang yang sudah menjaminnya ternyata seorang mami yang suka menjajakan diri.


"Joni brengsek!" umpat Farah kesal, "dia sudah membohongi ku. Bajingan itu malah menjual ku ketempat ini."


Farah tidak bisa berbuat banyak, melawan pun percuma apa lagi kabur karena tempat ini memiliki banyak cctv dan penjaga yang lumayan ketat. Mau tidak mau Farah mengikuti alur kehidupannya sekarang.


"Andai saja Wira tidak memecat ku, pasti sampai sekarang aku tidak akan seperti ini. Wira, brengsek kau!"


Dari obsesi untuk mendapatkan Wira kini malah berubah menjadi dendam. Farah sangat membenci Wira, sudahlah cinta dan penantiannya sia-sia, Farah tidak akan membiarkan Wira hidup dengan bahagia. Wanita ini juga sudah tidak peduli lagi pada sang mamah yang telah membohongi dan membodohinya selama ini.

__ADS_1


Hari ke hari telah berganti tak terasa satu bulan berlalu. Kehidupan rumah tangga Wira dan Mawar berjalan seperti biasanya. Wira juga sudah tidak lagi mendengar kabar tentang Farah yang tiba-tiba menghilang begitu juga dengan mamahnya. Masih ada satu orang lagi yang suka mengganggu Wira, siapa lagi kalau bukan Silla yang masih suka mencari perhatian Wira.


Hari ini, tanpa sengaja Wira dan Mawar bertemu dengan Silla dan Desi. Tapi, ada satu orang yang sangat di kenali Wira, yaitu Yunita. Wira penasaran kenapa bisa Yunita bersama dengan Silla di mall ini.


"Wira, kau tidak pernah masuk kantor. Apa karena istri mu melarang mu bekerja?" tanya Silla, "Em, kalau aku yang jadi istri mu, aku tidak akan pernah melarang mu untuk bekerja!"


Huft,...


Mawar memutar bola matanya jengah.


"Aku tidak pernah memaksa suami ku. Jadi, bisakah kalau bicara itu di takar dulu?" tegur Mawar dengan tatapan tidak suka.


"Itu bukan urusan mu!" timpal Wira, "apa kau datang bersama tante Yunita?" tanya Wira yang sudah penasaran sejak tadi. Apa lagi Yunita hanya diam saja sambil membuang pandangannya pura-pura tidak mengenali Wira.


"Ya, tante Yunita bekerja di rumah ku dan kami tinggal bersama!" jawab Silla membuat hati Yunita berdebar kencang.


Wira tersenyum tipis lalu berkata.


"Hati-hati dengan orang yang baru kau kenal. Mana tahu menusuk mu dari belakang!"


"Bicara apa kau ini Wira?" Yunita tidak terima.


"Aku bangga dengan akting mu tante. Lanjutkan!" ucap Wira lalu mengajak Mawar pergi.


Silla dan Desi sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Wira. Melihat wajah bingung dari kedua wanita ini, Yunita langsung mengalihkannya dengan pembahasan lain.


Mawar, wanita itu terus menggerutu kesal karena yang dia tahu Silla itu menyukai suaminya.


"Seperti tidak ada laki-laki lain saja. Kenapa harus suami ku?"


"Sudahlah, jangan marah-marah. Mas tidak akan pernah tergoda dengan perempuan yang seperti itu. Meskipun dia berpendidikan, tapi tidak menjamin semuanya."


"Berani menduakan ku, akan ku potong urat batang mu mas!" ancam Mawar.


"Ampun sayang, kalau di potong mas gak bisa main enjot-enjotan bareng kamu dong!"

__ADS_1


__ADS_2