
Joni tersenyum tipis saat melihat gambar yang di kirim kakaknya. Di banding dirinya, Jonas yang pendiam nyatanya lebih kejam. Bahkan ini semua bukan untuk pertama kalinya Jonas melakukan hal seperti ini.
Siapa pun yang sudah menyinggung Jonas, pasti akan berakhir mengerikan. Tidak peduli itu perempuan, tua maupun muda jika sudah menyinggung perasaan Jonas pasti akan di basminya.
"Apa, masih memikirkan Wiwi?" tanya Joni pada istrinya yang seharian ini tidak berselera melakukan apa pun.
"Ya begitulah!" jawab Farah lesu.
Joni memberikan ponselnya pada Farah, menunjukkan gambar yang di kirim Jonas. Farah mual, wanita ini langsung mengembalikan ponsel milik suaminya.
"Kenapa mereka seperti itu?" Farah syok.
"Sudah ku bilang kalau kakak ku itu lebih kejam dari aku."
"Apa Wiwi tahu semua ini?"
"Jangan beritahu dia, nanti Wiwi kepikiran. Setelah ini Jonas akan membuat keluarganya menderita."
"Tidak, aku tidak berani. Bisa-bisa aku yang di sayur lodeh kakak mu!"
Joni tertawa terbahak-bahak saat melihat ekspresi ketakutan dari sang istri.
"Aku jadi takut mengejek kakak mu. Duh, mana selama ini kalau aku bicara selalu ceplos padanya." Farah malah khawatir pada dirinya sendiri.
"Dia tidak akan berani menyentuh mu. Kau dan Wiwi adalah dua orang perempuan yang paling berani menggoda kakak ku itu."
"Tetap saja mengerikan, aku akan bersikap jauh lebih baik lagi kalau ketemu Jonas si jambu busuk itu...!"
Sebenarnya Farah merasa lega dengan ini semua. Farah sekarang bisa bebas pergi ke mana pun mengajak anaknya karena orang yang di khawatirkan selama ini sudah mati.
"Kau memikirkan apa lagi hah?" Joni menyentak istrinya yang melamun.
"Tidak ada, aku hanya memikirkan kapan kau akan membajak lahan ku?"
"Ah,...soal itu. Aku masih takut, aku masih ingat betul seperti apa kepala Vio yang keluar dari jalan lahirnya!"
"Wah, baguslah jika kau sudah tobat. Tidak masalah, aku bisa mencari pria lain...!" Farah malah menggoda suaminya.
__ADS_1
Pletak,....
Joni menjitak kepala Farah.
"Coba saja kalau berani, akan ku jual kau di pasar pemotongan hewan!"
"Lagian, biasanya kau tidak pernah absen tapi kenapa sekarang jadi ciut seperti ini?"
"Ah kau ini, dasar kegatalan!"
"Wah, awas saja kau minta garuk sama aku kalau telur unta mu gatal!"
Terus saling mengejek, setiap hari begitu lah kehidupan rumah tangga mereka. Para pembantu juga sudah terbiasa dengan candaan suami istri tersebut. Untung saja para pembantu di rumah mereka sudah berpengalaman semua.
Balik ke Jonas, setelah hatinya puas barulah pria ini pulang. Tidak ingin membawa aura jahat masuk kedalam rumah, sebelumnya Jonas numpang mandi di salah satu hotel.
Sejenak Jonas termenung memandang sang istri yang terlelap tidur sambil memberi asi pada anaknya.
"Sudah benarkah apa yang aku lakukan ini?" Jonas bertanya-tanya dalam hatinya, "meskipun orang lain selalu memandang mu sebelah mata. Bagi ku kau adalah segalanya!"
Wira, kabar rumah tangga pria yang pernah menduda selama empat tahun ini semakin bahagia saja. Tanpa terasa hari ini adalah hari ulangtahun Al untuk Kedua kalinya.
Di gelar di salah satu ballroom hotel pribadi milik mereka. Wira dan Mawar beserta Asti sangat antusias mempersiapkan pesta ulangtahun untuk Al.
Banyak tamu yang mereka undang. Dengan sengaja Wira mengundang beberapa tetangga Mawar di kontrakan zaman dulu termasuk pak Agus.
Pak Agus pada awalnya tidak berniat untuk datang, tapi istri keduanya yang memaksa karena ia merasa tidak enak hati jika tidak datang terlebih lagi istri kedua pak Agus kenal dengan Mawar.
"Ya ampun pak, ini seriusan hotel ini milik Mawar?" ujar istri kedua pak Agus yang bernama Hesti.
"Hotel bernama Mawar saja langsung kau simpulkan milik Mawar. Orang miskin seperti dia mana mungkin punya tempat seperti ini."
"Yeeee,...mana tahu jika Mawar sekarang jauh lebih kaya dari kamu!"
"Diam kau, aku pak Agus. Juragan kontrakan dan memiliki banyak istri. Tidak akan ada yang bisa menyaingi ku termasuk Mawar."
"Heleh,...bilang saja kau masih sakit hati karena tidak bisa menjadikan Mawar istri keempat mu!" cibir Hesti.
__ADS_1
Mereka kemudian masuk kedalam ruangan, Hesti dan beberapa tetangganya sangat senang sekali bisa di undang ke acara mewah seperti ini. Tidak mewah bagi Wira, ini hanya acara kecil untuk anak pertamanya.
Mawar sangat ramah, ia tidak melupakan tetangganya. Mawar menjamu mereka dengan sangat baik. Wajah pak Agus semakin masam saat melihat perubahan Mawar yang sekarang sangat jauh.
Semakin tergoda saja pak Agus saat melihat Mawar yang mengenakan dress selutut di tambah lagi kulitnya putih mulus dengan rambut yang tergerai panjang. Aroma parfum yang menusuk hidung saat Mawar melintas di depannya semakin membuat hati pak Agus kepanasan.
"Hallo pak Agus....!" sapa Wira, "terimakasih sudah hadir. Ngomong-ngomong datang sama istri yang ke berapa?" tanya Wira penasaran.
Pak Agus merapikan jasnya, mengangkat wajah tinggi dengan ekspresi kesombongannya.
"Istri kedua dong. Mau ngajak yang lainnya juga gak bisa!" jawab pak Agus dengan bangganya.
"Loh, kok gak bisa. Kenapa?"
"Yang dua sibuk shopping yang satu sudah di alam kubur!" jawab pak Agus membuat Wira tertawa.
"Oh begitu ya...!" ujar Wira, "kapan-kapan kalau pak Agus nikah lagi, pak Agus bebas bulan madu di hotel milik istri ku ini. Gratis tanpa di pungut biaya!" kata Wira malah membuat hati pak Agus seperti cacing kepanasan.
"Ya, aku akan bulan madu di hotel ini kalau aku menikahi ibu mu!" ketus pak Agus yang kesal.
"Hahaha,....!" Wira tertawa renyah, "mamah saya janda loh pak!" bisik Wira lalu menunjukan mamahnya yang sedang menggendong anak perempuannya.
Wajah pak Agus mendadak segar saat melihat Asti yang terlihat sangat cantik meskipun usia sudah tidak muda lagi.
"Jangan ya pak, mamah ku setia loh sama papah ku. Kalau pun mamah ku mau menikah, dia pasti akan menikah dengan laki-laki yang masih muda dan tenaganya kuat menggoyang!" gurau Wira malah membuat pak Agus kesal.
Pak Agus geram, kesal dan marah dengan Wira pada akhirnya berlalu meninggalkan Wira.
Ingin rasanya Wira tertawa keras karena ia sudah berhasil membuat pak Agus kesal padanya. Tidak akan pernah di lupakan Wira jika istrinya dulu ingin di jadikan istri keempat oleh pria mata keranjang seperti pak Agus.
"Tidak berdosakan jika aku mengerjai pak Agus...?" bisik Wira pada Mawar.
"Kau ini mas, ada-ada saja. Kalau orangnya marah bagaimana?"
"Tidak akan marah, kau lihat sendiri kan tadi?"
"Udah ah, kamu ini suka sekali mengerjai orang. Ayo ke sana, mbak Tia sama suaminya udah datang." Mawar mengajak suaminya untuk menyapa Bayu dan Tia yang baru saja masuk kedalam ruangan.
__ADS_1