
"Eh, itu kan.....?"
Desi mencoba mengikuti Yunita yang tanpa sengaja dia lihat baru saja masuk ke hotel bersama dengan beberapa orang wanita lainnya.
Untung saja meeting yang di kerjakan Desi sudah selesai. Jadi, wanita bebas untuk mengikuti Yunita.
"Aneh, tante Yunita bilang kalau dia gak punya saudara apa lagi teman. Tapi, jika di lihat semua temannya orang berada."
Untuk apa membuang rasa penasarannya, Desi terus mengikuti Yunita bersama empat temannya. Sial bagi Desi, mereka masuk kedalam salah satu kamar.
"Apa yang akan di lakukan mereka?"
Semakin penasaran, Desi mulai sibuk memikirkan ide untuk mengetahui apa yang mereka lakukan di dalam.
"Mas,....!!"
Desi memanggil salah seorang cleaning servis yang sedang mengganti lampu di lorong tersebut.
"Iya mbak, ada apa?"
"Mas,kalau boleh tahu apa ibu-ibu di dalam kamar itu suka pergi ke tempat ini?"
"Sepertinya iya mbak. Memangnya kenapa ya?"
"Oh, tidak apa-apa. Ada mamah saya dari salah satunya!" bohong Desi.
Desi yang tidak bisa mengetahui apa yang di lakukan Yunita di dalam hanya bisa mengubur rasa penasarannya. Hendak menyusuri lebih jauh lagi, namun Silla sudah menelponnya.
Desi bergegas pulang ke rumah, bisa di dengar jika suara Silla sangat khawatir dari sebrang sana. Setibanya di rumah, Desi langsung mencari Silla yang ternyata sedang duduk di ruang tamu.
"Ada apa?" tanya Desi khawatir, "kok udah pulang?"
"Berkas ku ada yang ketinggalan, jadi aku pulang. Desi, aku kehilangan anting berlian ku!"
"Hah...!! kok bisa?"
"Iya, seingat ku tadi malam sebelum tidur aku meletakkannya di atas nakas. Setelah ku cari tidak ada, yang lebih parahnya lagi dua kalung dan cincin berlian yang aku simpan di lemari juga hilang."
"Ah, masa sih?"
Desi yang tidak percaya langsung masuk ke dalam kamar Silla untuk memastikannya.
"Tapi, semua barang mu rapi. Kau saja mungkin salah menaruhnya!"
"Tidak, sejak kita pindah aku belum sempat lagi mengurusnya. Jadi, aku hanya menaruhnya begitu saja di dalam lemari. Itu seingat ku,...!"
"Coba di ingat lagi deh....!!"
__ADS_1
"Tante Yunita mana sih, kok aku cariin gak ada eh?"
Desi langsung ingat dengan Yunita, namun tidak ingin memberitahu Silla karena Desi yakin jika Silla tidak akan percaya padanya.
Siang ini, mereka tidak kembali bekerja. Desi dan Silla sibuk membongkar kamar untuk mencari beberapa perhiasan Silla yang hilang. Perasaan Desi semakin tidak enak, Silla memang wanita ceroboh namun belum pernah dirinya kehilangan barang-barang seperti ini.
Menjelang sore, Yunita pulang. Wanita ini terkejut melihat mobil Silla yang sudah terparkir di halaman.
"Eh, kalian kok udah di rumah. Kenapa?"
"Tante dari mana aja?" tanya Silla.
"Anu, tante dari makam suami tante," jawab Yunita langsung membuat Desi terkejut, "tante juga berusaha menemui anak tante. Namun, tetap saja dia tidak mau menerima tante kembali." Yunita kembali berbohong, membuat Desi semakin mencurigainya.
"Tante, aku kehilangan beberapa perhiasan. Apa tante ada melihatnya?" tanya Silla yang berharap jika Yunita ada melihatnya.
"Ah, tante tidak tahu itu. Kamu tahu sendiri tante gak berani masuk ke kamar kalian apa lagi kamar kaliankan selalu di kunci.''
Jleb,....
Desi memicingkan matanya, dari mana Yunita tahu jika kamar mereka selalu terkunci.
"Oh, ya sudah. Mungkin aku saja yang lupa menaruhnya!" ujar Silla lalu menghela nafas pelan.
Silla yang pusing langsung kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Begitu juga dengan Desi. Tidak jadi beristirahat, Silla mendapat telpon dari sang papah yang menyuruhnya pulang sore ini. Dengan perasaan malas Silla pulang seorang diri, butuh waktu dua jam perjalanan menuju kota asalnya. Sedangkan Desi tidak ikut karena besok dirinya masih harus menyelesaikan pekerjaan.
Desi yang sudah curiga pada Yunita sebenarnya memang mengintai wanita tua itu.
"Mau kemana dia malam begini?"
Desi mengintip dari balik jendela kamarnya.
Melihat Yunita keluar dari rumah, Desi langsung mengambil ponsel dan kunci mobilnya. Desi bisa melihat dengan jelas jika Yunita pergi dengan menggunakan ojek.
"Aku yakin jika tante Desi bukan orang baik-baik. Banyak kebohongan yang di lontarkan pada Silla."
Terus mengikuti, pada akhirnya mobil Desi berhenti di jarak yang jauh agar tidak ketahuan Yunita.
"Hah...!!" Desi terkejut ketika melihat tempat yang di masuki Yunita, "ngapain tante Yunita pergi ke bar?"
Semakin penasaran, Desi mencari tempat yang aman untuk parkir lalu masuk kedalam bar mencari Yunita. Tidak lupa Desi memakai masker agar tidak ketahuan.
Mata Desi terbelalak ketika melihat Yunita dengan teman-temannya tadi siang sedang duduk santai sambil menikmati minuman mereka.
"Main kartu....uang....apa mereka main judi?" batin Desi penuh tanya, "astaga, apa jangan-jangan tante Yunita yang sudah mengambil perhiasan milik Silla?"
Buru-buru Desi merekam kelakuan Yunita yang sebenarnya untuk barang bukti pada Silla.
__ADS_1
"Mas,....!" Desi menghentikan seorang pelayan bar.
"Iya mbak, ada apa?" tanya pelayan tersebut.
"Mas, ibu-ibu yang sana. Apa mereka sering bermain seperti itu?"
"Wah, setiap hari setiap malam mbak. Sudah biasa, maklumlah penggila judi...!"
Nyessss.....
Hati Desi mulai berdebar ketika mengetahui kelakuan Yunita yang sebenarnya. Apa jangan-jangan selama ini dirinya dan Silla sudah salah dalam menolong orang.
"Ini tidak bisa di biarkan. Silla harus tahu,....!!" ujar Desi kemudian memutuskan untuk pulang.
Tidak pulang, Desi yang masih penasaran memberanikan diri untuk pergi ke rumah Wira. Untung saja dirinya tahu alamat Wira dari Yunita beberapa hari yang lalu.
"Kau, mau apa kau ke sini?" tanya Wira tidak suka.
"Mas, jangan seperti itu ah. Siapa tahu penting!" ujar Mawar.
"Maaf pak Wira, ini bukan masalah pekerjaan. Ada hal lain yang ingin aku tanyakan. Apa boleh kita mengobrol sebentar?" Desi bertanya dengan sopan.
"Ya udah mbak, masuk aja!" Mawar yang melihat Desi lebih sopan dari Silla langsung mempersilahkan wanita itu masuk.
Mau tidak mau Wira mengizinkan Desi untuk masuk kedalam rumahnya.
"Maaf sebelumnya sudah mengganggu istirahat kalian. Aku datang kesini hanya untuk bertanya mengenai tante Yunita. Pak Wira pasti tahu betul siapa dia?"
"Memangnya kenapa?" tanya Wira penasaran.
"Em, aku melihat tante Yunita berjudi. Di tambah lagi perhiasan Silla banyak yang hilang. Apa lagi tante Yunita suka sekali berbohong."
Wira tersenyum tipis, "sudah ku bilang hati-hati....!!" ucap Wira lalu menceritakan siapa Yunita sebenarnya. Desi sangat terkejut mendengar cerita dari Wira, firasat wanita ini selama ini benar adanya.
"Jadi, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Desi sangat khawatir.
"Laporkan saja ke polisi, ini sudah tindak pencurian."
"Tapi aku tidak memiliki bukti...!" ujar Desi bingung.
"Bukankah kau tadi merekamnya?" tanya Mawar, "kau bisa menekan tante Yunita dengan rekaman itu. Apa lagi kau pernah melihat dia di hotel."
"Ya, itu benar. Kau bisa meminta pada polisi untuk menginterogasinya," timpal Wira.
"Terimakasih atas informasinya pak. Setelah Silla kembali aku akan memberitahunya."
Desi pamit pulang, namun wanita ini tidak pulang ke rumahnya melainkan pergi menginap di hotel. Desi takut jika Yunita bertindak jahat makanya dia memutuskan untuk menginap di hotel.
__ADS_1