Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Bonchap 119


__ADS_3

"Mawar, siapa sih orang itu?" tanya Asti berbisik, "sejak tadi lihatin mamah terus, risih iiiih....!"


Mawar menoleh, melihat pak Agus yang membuang pandangnya.


"Itu pak Agus, pemilik kontrakan tempat Mawar dan Andini tinggal dulu mah."


"Kamu ngundang dia kenapa?"


"Bukan Mawar mah, tapi mas Wira. Heran deh sama anak mamah itu, suka sekali mengerjai orang!"


"Wira benar-benar minta hajar. Mamah risih banget deh sejak tadi lihatin mamah seperti itu senyam senyum gak jelas!"


"Orang itu yang pernah maksa Mawar buat jadi istri keempatnya mah," bisik Mawar memberitahu Asti. Asti terkejut, bulu kuduknya merinding.


"Tadi Wira menawarkan mamah sama pak Agus. Mamah mau gak jadi istri kelima pak Agus?"


Tiba-tiba Wira muncul dan menawarkan mamahnya untuk menikah lagi.


Plak,....


Asti yang kesal langsung memukul lengan anaknya.


"Gak usah ngaco kamu. Kamu pasti sengaja mengundang orang itu kan?"


"Ya, biar matanya melek kalau Mawar punya suami tampan dan kaya raya!"


"Mas, kamu ini suka sekali membanggakan diri...!"


Wira terkekeh, sebenarnya dalam benak Wira hanya ingin menunjukan pada orang yang dulu pernah merendahkan sang istri jika Mawar memiliki masa depan yang baik. Wira bangga pada dirinya sendiri, meskipun Mawar bukan terlahir dari keluarga yang terpandang setidaknya ia bisa membuat Mawar tidak di pandang rendah oleh orang lain.


Cerita Jonas, tiba-tiba saja pria ini mengajak sang istri pergi berdua. Sengaja menitipkan anak mereka perawat di rumah.


"Kita ini sebenarnya mau kemana?" tanya Wiwi penasaran.


"Tidak kemana-mana, ada yang ingin bertemu dengan mu!" jawab Jonas membuat Wiwi penasaran.


Jantung Wiwi tiba-tiba saja berdegub sangat kencang. Wanita ini seperti memiliki firasat yang entah tidak bisa dia tebak saat mobil berhenti di halaman sebuah gedung menjulang tinggi terbengkalai.


Jonas menggenggam tangan istrinya, berjalan masuk menaiki beberapa anak tangga dan menyusuri beberapa lorong pengap.


"Kita ngapain ke tempat ini?" tanya Wiwi khawatir pada dirinya sendiri.


"Ada yang ingin bertemu dengan kau!" ujar Jonas lalu membuka pintu.


Krekk.....


Jonas dan Wiwi masuk, di dalam sana sudah ada beberapa orang anak buah Jonas yang berjaga.

__ADS_1


"Siapa mereka?" tanya Wiwi penasaran pada tiga orang yang duduk terikat dengan kepala di tutupi kain hitam.


"Buka kainnya!" titah Jonas pada anak buahnya.


Mata Wiwi terbelalak lebar, langkahnya mundur kebelakang saat melihat ayah dan ibu serta adik tirinya ada di sana.


"Apakah ini wajah orang-orang yang sudah menjual mu?" tanya Jonas pada istrinya.


"Wiwi,....!" seru ayah Wiwi yang bernama Darma itu.


"Anak durhaka...!" umpat sang ibu tiri, "ternyata kau dalang dari semua ini hah?"


"Tega kau Wi, kau memberikan kami tiket liburan mewah tapi nyatanya kau malah menculik kami," ujar saudara tiri Wiwi.


Wiwi bingung, apa yang sudah terjadi sebenarnya.


"Sayang, apa maksud dari semua ini?" tanya Wiwi pada suaminya.


"Kau jawab saja, apa mereka ini yang sudah menjual mu dulu?" sekali lagi Jonas bertanya.


Wiwi mengangguk lalu berkata, "ya,...demi pendidikan dia...!" tunjuk Wiwi pada saudara tirinya.


"Wiwi lepaskan ayah...!" pinta Darma marah, "dasar anak tidak tahu di untung!"


"Kau bukan ayah ku!" seru Wiwi tegas, "aku sudah tidak punya keluarga lagi...!"


Plak,....


Tanpa sadar Wiwi menampar wajah Miska.


"Aku menjadi seorang pellacur semua itu karena ibu mu. Dia yang sudah menjual ku demi pendidikan mu yang tinggi. Apa kau lupa itu....?" teriak Wiwi marah.


Jonas mundur, pria ini hanya ingin melihat sang istri meluapkan kemarahannya.


"Sekali pellacur tetap pellacur, tidak akan ada yang bisa mengubah identitas mu itu...!" cibir ibu tiri.


"Hahaha,...!" Wiwi tertawa keras, "lihatlah ayah, kau ayah kandung ku tapi kau hanya diam saja saat orang lain menghina anak mu, darah daging mu sendiri. Begitu kejam dirimu ayah!"


Wiwi mengusap air mata yang tak terasa jatuh itu.


"Kalian harus merasakan penderitaan yang selama ini aku rasakan. Suami ku, aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya di jual...!" ujar Wiwi memohon pada suaminya.


"Sesuai permintaan istri ku, aku akan menjual anak kesayangan ayah mu itu...!" ujar Jonas.


"Aku tidak mau, ibu ayah aku tidak mau. Aku orang berpendidikan, aku tidak mau jadi pelacur sama seperti dia...!" Miska berontak, panik meminta tolong pada kedua orangtuanya.


"Wiwi, jangan macam-macam kau. Lepaskan kami, apa kau mau jadi anak durhaka hah?" Damar menekan anaknya.

__ADS_1


"Aku bukan anak mu!" ucap Wiwi dengan tegas, "kalian harus sama menderitanya dengan aku!"


Wiwi sudah tidak tahan lagi, wanita ini lebih memilih keluar dari ruangan tersebut. Jonas mengikuti, menghentikan langkah istrinya.


"Sayang,...jangan pergi dulu." Jonas menahan.


"Aku muak, aku tidak ingin melihat mereka lagi."


"Tunggu di sini, aku akan membereskannya sebentar."


Jonas kembali masuk kedalam, pria ini lekat memandang ke arah Miska, perempuan yang selama ini hidup dan bersenang-senang di atas penderitaan istrinya.


"Jual dia ketempat pellacuran yang paling kejam di negara ini...!" titah Jonas pada Petter.


"Baik tuan....!"


Petter dan salah seorang temannya menyeret Miska secara paksa. Wanita berontak begitu juga dengan ayah dan ibunya. Tapi apa daya, mereka tidak bisa menahan kepergian Miska.


Langkah Miska terhenti, menatap tajam ke arah Wiwi yang tersenyum sinis ke arahnya.


"Awas saja kau Wiwi....!" ucap Miska penuh penekanan.


"Bawa dia, aku muak!" titah Wiwi.


Miska kembali di seret, wanita ini terus berteriak histeris sebelum Petter memukulnya hingga tak sadarkan diri.


Tinggallah ayah dan ibu tiri Wiwi, Jonas memandang mereka bergantian.


"Jual mereka berdua, jadikan budak atau apa lah terserah itu...!" titah Jonas pada anak buahnya lagi.


"Mau apa kau, siapa kau? kenapa kau membuat kami menjadi seperti ini hah?" Damar panik begitu juga dengan istrinya.


"Siapa pun aku, kau tidak perlu tahu. Jika kalian sudah jatuh ke tangan ku, kalian tidak akan bisa bebas!" ucap Jonas dengan lirikan mata tajamnya.


Pria ini kemudian keluar, tidak peduli dengan teriakan Damar sebagai ayah mertuanya. Di mata Jonas, Damar hanya laki-laki biadab yang tega menjual darah dagingnya sendiri dan pantas untuk di hakimi secara pribadi.


"Ayo pulang sayang,...!" ajak Jonas pada istrinya.


Wiwi menarik nafas panjang, menggenggam tangan suaminya kemudian mereka pergi dari tempat tersebut.


"Kau apakan mereka?" tanya Wiwi penasaran.


"Tidak ku apa-apakan, aku hanya menjual mereka sebagai budak. Agar mereka bisa merasakan bagaimana rasanya jadi kamu!"


Wiwi diam.


"Kenapa, apa kau keberatan?" tanya Jonas.

__ADS_1


Wiwi tersenyum lalu menjawab, "tidak, jauh di dalam hatiku mereka bukan lagi keluarga ku. Ayah, ayah yang seharusnya melindungi ku dan memberiku rumah ternyaman nyatanya tidak pernah aku dapatkan. Mereka pantas mendapatkan balasannya!"


__ADS_2