Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Chapter 84


__ADS_3

Terus mencari, Jonas mencari seorang diri sedangkan Farah dan Joni. Farah khawatir, sejahatnya Wiwi dia lah orang yang mau berteman dengan dirinya.


"Cepat temukan Wiwi, kasihan dia!" Farah terus memaksa Joni.


"Kau dan dia hanya orang asing, ku lihat kau begitu baik dengan dia...!"


"Wiwi perempuan baik, hanya karena keluarganya yang menjual dirinya. Dia mau membantu apa pun itu termasuk menyelamatkan ku dari mami Ger setiap kali aku berbuat salah!"


"Iya, kita pasti menemukan dia...!"


"Jika Wiwi kenapa-kenapa, akan ku patahkan batang leher kakak mu itu...!" ucap Farah geram.


Hujan semakin deras, Wiwi yang berteduh di depan toko tutup mulai merasa kedinginan. Mau kemana lagi, kakinya sudah sangat lelah memutari jalanan yang tak tentu arah. Mau kembali ke apartemen Jonas malah salah jalan, kembali ke apartemen Joni juga tidak tahu alamatnya di mana apa lagi dia pergi dari apartemen Joni tanpa membawa uang dan ponsel.


"Aku benar-benar kedinginan dan lapar, sebenarnya yang mana alamat yang benar...?"


Huft,.....


Hembusan nafas wanita ini sangat lelah, bibirnya bergetar menahan dingin. Wiwi terduduk lemas di depan toko tersebut. Jalanan sepi, Wiwi mulai takut.


Wiwi sudah hampir tidak sadarkan diri, tapi ada yang menahan tubuhnya. Pandangan kabur, Wiwi tidak tahu siapa yang menggendongnya sekarang.


Wira dan Mawar, betul-betul gila Wira ini. Mawar berjalan masuk kedalam rumah dengan langkah tertatih dengan kaki satu di seret, sesekali mengeluh dengan rasa perih di bagian atas pahanya.


"Loh, Mawar. Kenapa jalan kamu seperti itu nak?" tanya Asti langsung membuat wajah Mawar gugup sedangkan Wira hanya terlihat santai saja.


"Anu mah....anu.....!" Mawar bingung ingin menjawab apa.


"Wira ini benar-benar keterlaluan. Pasti itu ulah dia...!" ucap Asti yang paham betul, karena dirinya pernah mengalami seperti Mawar.


"Mah, titip Al lagi yah. Aku mau mengobati Mawar!"


Ingin sekali Mawar menjambak suaminya ini. Entah kenapa dia memiliki suami yang kalau ngomong tidak di takar dulu.


Mereka pergi ke kamar, Mawar langsung mengoceh dengan kecepatan tinggi.


"Masih ngoceh juga mas bikin kamu gak bisa jalan loh!" ancam Wira langsung membuat istrinya terdiam.


"Perih mas, selama kita menikah baru sekarang kamu bermain dengan sangat lama."


"Coba sini mas lihat!" kata Wira, "setembem apa sih hasil karya mas tadi sore?"


"Mas, kamu ini....!"


"Mas hanya ingin lihat, pasti ada beberapa pohon yang tercabut. Mas memang hebat, membabat hutan kamu tanpa alat bantu...!" Wira semakin menggoda istrinya.

__ADS_1


Di goyang Wira satu sore membuat pinggang dan kaki Mawar hampir copot. Tenaga suaminya ini sangat kuat, Mawar mulai penasaran apa resep dari kegagahan suaminya ini.


"Jangan marah, kamu ******* enam kali. Masa mau enak gak mau sakitnya, gak adil eh!"


"Sungguh kau membuat ku malu mas!"


"Ngapain malu, sama suami sendiri kok malu. Kalau sama suami tetangga itu baru...!"


"Mas, jangan menyebut suami tetangga. Aku geli,....!" ujar Mawar yang ingat jika suami tetangganya ini besar tinggi perut buncit dan kumis tebal terlebih lagi matanya jelalatan juga suka menggoda. Tak jarang Mawar dan Asti sengaja di godanya ketika mereka duduk di taman setelah Wira berangkat ke kantor. Pak buncit suka manjat tangga mengintip di balik tembok .


Melihat keadaan Wiwi, Farah terus marah-marah pada Jonas yang sama sekali tidak bertanggung jawab itu. Joni hanya diam saja, jika dia menyahut pasti akan kena juga apa lagi dirinya adalah dalang utama.


Tubuh Wiwi panas, cukup tinggi apa lagi sejak sore wanita itu belum makan sampai malam lalu terkena derasnya hujan.


"Keluar kalian berdua...!" usir Farah dari dalam kamar.


"Kau tidak berhak mengusir ku!" sahut Jonas.


"Siapa kau hah, kau sudah membuat teman ku menderita seperti ini...!"


"Seharusnya aku yang mengusir kalian berdua!" ucap Jonas membuat Farah dan Joni bingung.


"Kami temannya, lah kau siapa berani mengusir kami hah?" ketus Joni pada kakaknya.


"Aku suaminya!" jawab Jonas dengan entengnya membuat Joni dan Farah saling pandang tidak percaya lalu mereka berdua tertawa.


"Kau yang sakit jiwa!" sentak Jonas tidak terima.


"Berani membentak istri ku akan ku penggal kepala mu!" celetuk Joni kesal.


"Aku dan Wiwi sudah menikah secara agama kemarin malam!" jelas Jonas membuat Joni dan Farah syok apa lagi Jonas menunjukkan bukti berupa foto.


"Kok bisa?" tanya Farah masih tidak percaya.


"Ya, dia memperkosa ku. Jadi, aku memintanya untuk tanggungjawab!"


Hah.....?


Joni dan Farah bingung tidak mengerti, memperkosa bagaimana yang di maksud Jonas ini.


"Kak, jangan main-main kau!"


"Aku berkata jujur bodoh! teman mu ini sudah mengambil keperjakaan ku. Dia harus bertanggungjawab."


"Kenapa kau tidak melawan hah? apa jangan-jangan kau memanfaatkan keadaan?" Farah menyelidik.

__ADS_1


"Dia terlalu agresif. Aku tidak bisa menolak!"


"Halah, bilang saja kau keenakan. Lagian, di umur mu yang sekarang pasti kau merasa menyesal karena baru sekarang merasakan kenikmatan di sentuh perempuan!" tutur Joni terus mencibir kakaknya.


"Bajingan ini...!" Jonas mengumpat pada adiknya, "aku adalah korban, dia tersangka. Wajar saja kalau dia harus bertanggung jawab."


"Kenapa kau tidak membayarnya saja hah?"


Joni menjitak kepala kakaknya sendiri.


"Perempuan itu di hargai, bukan di perlakukan seperti itu," ucap Jonas membuat Joni dan Farah mati ucap.


"Terserah kau saja! istri ayo kita keluar!" ajak Joni.


Di kamar ini tinggallah Jonas yang duduk di samping Wiwi yang belum sadarkan diri. Pusing juga mengurus satu perempuan yang selama ini di anggapnya pengganggu ini.


"Astaga, kenapa burung ku bangun hanya karena melihat wajahnya saja?" batin Jonas kembali bergejolak. Ada hawa panas yang tidak pernah dia rasakan tiba-tiba menyerang batinnya.


Jonas bingung, pria ini hanya menahan burungnya yang nampak tegang di dalam celana. Sebisa mungkin Jonas memalingkan muka agar tak melihat wajah Wiwi.


Di kamar Wira dan Mawar, sepasang suami istri ini sedang beradu mulut. Lebam di mulut gua Mawar membuat sang suami merasa khawatir takut infeksi.


Wira memaksa mengobati istrinya, tentu saja Mawar malu jika suaminya yang harus mengobati.


Tidak bisa menolak, mau tidak mau Mawar menurut saja. Apa lagi tenaganya kalah kuat.


"Buka yang lebar....!" titah Wira sambil memegang salep.


"Mas, aku bisa sendiri. Aku malu...!"


"Kita bikinnya berdua, kalau ada apa-apa ya harus berdua!"


"Tapi aku malu mas...!"


"Buka yang lebar kalau gak mas paksa nih...!"


Duduk di tepi ranjang, mau tidak mau Mawar membuka lebar kakinya. Wira kembali menelan ludah ketika melihat lapis legit istrinya yang begitu indah.


"Ya ampun, gores semua. Apa mas seganas ini tadi?" ujar Wira mulai mengusapkan salep tersebut tanpa alat bantu. Tidak merasa jijik, pria ini nampak biasa saja namun Mawar yang di buat gila.


"Pelan-pelan mas,...!"


"Ini, udah kok. Mas lihat kacang kamu loh. Jadi pengen lagi...!"


"Mas,....!"

__ADS_1


Wira hanya terkekeh geli, suka sekali membuat istrinya ini marah. Mau protes seperti apa lagi, watak Wira memang seperti itu adanya.


__ADS_2