Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Chapter 75


__ADS_3

"Mas, mas Wira bebaskan aku. Aku gak mau tinggal di tempat ini...!" Widya memohon pada lelaki yang saat ini sedang berdiri di hadapannya dengan wajah dingin.


"Manusia jenis apa kau ini?" Wira bertanya dengan hati yang penuh emosi, "bertahun-tahun bisanya kau hidup menutupi kejahatan mu. Apa kau tidak merasa bersalah hah?"


"Semua tidak benar, aku tidak membunuh kak Dania. Dia jatuh sendiri dari tangga!"


****,....


Wira sama sekali tidak percaya.


"Saat bibi menemukan Dania tergeletak tidak sadarkan diri, kami pikir dia jatuh sendiri atau pendarahan karena kandungannya lemah. Tapi, ternyata ada kau di balik semua ini."


"Sudah ku bilang jika aku tidak membunuh kak Dania. Mas Wira harus percaya sama aku. Lagian, sekarang kak Dania sudah meninggal. Apa gunanya mengirim ku ketempat ini?"


"Dasar bodoh!" umpat Wira kesal, "kau adalah saudara yang keji. Dimana otak mu yang menganggap semua ini tidak ada gunanya?"


Mata Wira memerah, raut wajah kebencian menyala dari pria ini.


"Jika mamah mu masih hidup, dia akan sangat menyesal memiliki anak seperti mu!" ucap Hartanto yang tiba-tiba muncul, "anak tidak tahu di untung, sudah ku anggap seperti anak sendiri dan ku perlakukan sama seperti Dania. Tapi, begini cara mu membalas hah?"


"Pah, bebaskan aku!" seru Widya yang tidak peduli dengan ucapan Hartanto.


"Aku bukan papah mu. Kau bukan anak ku, anak ku sudah meninggal kau bunuh!" ucap Hartanto dengan nada tinggi.


"Sudahlah pah, sebaiknya kita pergi. Biarkan dia menyesali semua perbuatannya," ujar Wira lalu mengajak Hartanto pergi dari kantor polisi.


Widya terus berteriak, memohon agar di bebaskan namun tidak ada satu pun orang yang peduli.


Wira mengajak mertuanya itu duduk di taman, jelas terlihat dari wajah tuanya jika pak Har sangat kecewa sekarang.


"Aku sudah mengikhlaskan Dania pah. Cukup hukum yang membalas perbuatan Widya sekarang," ujar Wira membuka suara.


"Aku benar-benar kecewa," ucap pak Har, "aku kehilangan anak perempuan ku demi ambisi anak tidak tahu di untung itu."


"Mau bagaimana lagi, marah pun percuma. Dania tidak akan pernah hidup kembali."


"Entahlah, meskipun Widya aku besarkan seperti anak sendiri dan aku beri makan minum dari keringat ku. Akan ku pastikan dia mendekam di penjara dengan waktu yang lama," kata pak Har yang benar-benar kecewa dengan Widya.


Baik Wira mau pun pak Har memutuskan untuk pulang. Masalah Widya biarkan lah hukum yang membalasnya.


Belajar mengikhlaskan sesuatu yang sudah terjadi adalah jalan satu-satunya untuk kehidupan yang lebih baik di kemudian hari.


Hari ke hari telah berlalu, tak terasa sudah dua bulan kehidupan rumah tangga Wira dan Mawar adem ayem tanpa pengusik.


Wira juga sudah kembali bekerja seperti biasa. Waktu dan kehidupannya hanya di prioritaskan untuk keluarganya.

__ADS_1


"Sayang, di mana dasi ku?" tanya Wira sedikit berteriak sambil mengobrak abrik laci tempat penyimpanan dasinya.


"Ya di laci itu mas...!" sahut Mawar yang masih sibuk mengurus anaknya. Mawar saat ini sedang menunggu anaknya yang masih mengeluarkan emas kuningnya di pagi hari.


"Gak ada....!" seru Wira.


"Dasi yang mana sih mas?" tanya Mawar bingung.


"Itu loh, yang polos warna hitam. Kamu jual apa kamu gadaikan, kok gak ada?"


"Wah, mulut mu ini. Ini apa hah?" ujar Mawar yang langsung menemukan dasi tersebut di atas meja rias.


"Eh, iya. Mas lupa kalau mas taruh di sini tadi...!" ucap Wira tanpa merasa bersalah karena sudah menghamburkan isi laci.


Ngek....ngek.....


Al merengek, bergegas Mawar kembali menghampiri anaknya dan langsung membersihkan Al. Setiap pagi Mawar harus mengurus dua bayi di kamar ini.


"Al sayang, mau ikut papah nguli ya. Ayo cepat jalan!" ujar Wira mengajak anaknya bercanda. Al sudah semakin besar, usianya sekarang sudah lima bulan.


"Udah, sana sarapan dulu. Nanti telat!" kata Mawar mengingatkan.


"Kalau telat memangnya kenapa?"


"Mas hanya ingin menjadi teladan yang hot buat kamu di atas tempat tidur. Bagaimana?"


"Mas, masih aja!"


Mawar yang kesal meninggalkan suaminya di kamar sendiri.


"Eh cucu oma, sini sayang!"


Asti langsung mengambil Al dari gendongan Mawar.


"Udah, sarapan dulu. Mamah udah sarapan, ajak suami mu!" ujar Asti langsung di iyakan Mawar.


Wira turun, menyusul istrinya di meja makan.


"Sayang, suapin ya...!" rengek Wira.


"Mas, udah bangkotan juga!"


"Giliran Al aja, semua di layani. Giliran aku, selalu nomor dua!" rajuk Wira membuat Mawar ingin mengamuk.


"Terus saja bandingkan kamu sama Al. Dasar aneh!"

__ADS_1


Mau mengomel seperti apa pun Mawar, wanita ini tetap akan melayani suaminya seperti menyuapi makan pagi ini.


Selesai dengan drama pagi ini yang di buat Wira seperti biasa. Akhirnya rumah damai. Mawar dan Asti bisa lega bermain bersama Al tanpa di ganggu Wira yang sudah berangkat ke kantor.


Apa kabar Farah, wanita ini telah menjalani kehidupan yang lebih baik. Menata hidup demi masa depannya. Waktu sehari-harinya hanya di habiskan dengan bekerja jika santai dirinya akan pergi bersama Wiwi dan Joni sebagai teman yang setia.


"Jon,....!"


"Hemmm....!"


"Jon, cariin calon suami yang baik dong. Aku ingin menikah, umur ku sudah tiga puluh sekarang."


"Kau pikir aku biro jodoh?"


"Lah, dulu aja kau bisa mencarikan aku sugar daddy. Kenapa kau ini munafik sekali...?"


"Ada baiknya kau bikin papan pengumuman lalu berdiri di tengah jalan. Tulis saja, Sedang mencari calon suami...!"


Wiwi tertawa keras mendengar lawakan Joni.


"Bajingan sialan ini,...!" umpat Farah kesal.


"Ya udah, kita nikah aja yuk. Lagian, siapa juga laki-laki yang mau sama kamu yang udah bekas ini?"


****,....


Joni kalau ngomong suka benar.


"Kau juga bekas. Sudah banyak perempuan yang kau tiduri...!" sahut Farah.


"Makanya, tidak ada orang yang mau sama kita bertiga ini," sambung Joni.


"Kalau kalian menikah, aku dengan siapa dong?" tanya Wiwi sedih.


"Sama kerbau...!" jawab Farah dan Joni bersamaan lalu mereka berdua tertawa terbahak-bahak.


Masih tetap sama, sejelek apa pun candaan yang mereka lontar kan tidak akan pernah masuk ke hati karena sudah biasa.


"Aku kaya loh. Bukankah impian ku menikah dengan laki-laki kaya?"


"Tapi tidak kau juga...!" seru Farah.


"Dasar pemilih. Lihat saja,seminggu lagi aku akan menikahi mu!" ucap Joni hanya di tanggapi dengan tawa oleh Farah.


Masih sama, mereka juga masih tinggal bertiga. Meskipun begitu Joni tidak pernah berbuat yang aneh-aneh pada Farah dan Wiwi.

__ADS_1


__ADS_2