
Huft,......
Silla pulang dengan wajah lelah dan banyak pikiran. Yunita hanya bisa mengintip tak berani mengusik Desi dan Silla yang baru saja pulang.
"Ada masalah apa sebenarnya?" tanya Desi yang penasaran.
"Wira membatalkan semua kerjasamanya. Papah marah besar pada ku. Des, aku bingung sekarang."
"Sudah ku bilang berapa kali, sudahlah. Jangan mengganggu dia, akhirnya kita juga yang susah. Jadi, bagaimana sekarang?"
"Papah akan menarik kita pulang,"
"Lalu, bagaimana dengan pekerjaan kita di sini?"
"Papah akan menggantikan dengan orang lain."
Desi celingukan, lalu menarik Silla masuk kedalam kamar.
"Ada apa sih?" tanya Silla penasaran.
"Sebelum kita pulang, kita harus memasukan tante yunita ke dalam penjara!"
"Maksudnya bagaimana? memangnya tante Yunita salah apa?" tanya Silla masih tidak mengerti.
Desi kemudian menceritakan apa yang sebenarnya sudah terjadi. Silla benar-benar terkejut, wanita ini masih tidak percaya jika dirinya telah salah menolong orang.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Silla khawatir.
"Ada baiknya sekarang kita lapor polisi. Ini tidak bisa di biarkan!"
"Jangan,....!" seru Silla membuat Desi heran.
"Kenapa?"
"Untuk membuktikan semuanya kita harus memancing tante Yunita."
Silla kemudian membisikan sesuatu pada Desi. Desi yang paham langsung mengiyakan rencana Silla.
Sudah matang dengan rencana mereka. Silla dan Desi pamit pergi pada Yunita karena sebenarnya ada papah Silla yang ikut bersamanya dan sekarang sedang menginap di salah satu hotel.
Silla dan Desi datang ke salah satu restoran yang sudah di janjikan papahnya tadi pagi. Wajah Silla langsung tertunduk malu ketika melihat sang papah duduk bersama Wira dan Mawar di sana.
"Cepat duduk,...!" Surya menarik anaknya.
Desi sudah bisa menebak dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Maaf Wira, saya benar-benar minta maaf atas sikap Silla yang tidak menggenakan selama ini. Saya benar-benar tidak tahu jika kelakuan anak saya bisa membuat pak Wira dan istri merasa tidak nyaman," tutur Surya yang merasa malu dengan sikap anaknya.
"Tapi, mohon maaf untuk kerjasamanya saya sudah mantap untuk membatalkannya pak Surya. Saya sangat tidak nyaman, anak bapak tidak bisa menjaga perasaan istri saya apa lagi istri saya sedang hamil sekarang."
Mawar hanya diam saja, begitu juga dengan Silla yang sejak tadi sudah tertunduk malu.
__ADS_1
"Saya juga tidak bisa memaksa ini semua. Meskipun kerja sama kita telah selesai tapi saya harapkan hubungan kita ini tetap terjalin dengan baik. Silla, cepat minta maaf!"
Surya menyenggol lengan anaknya.
"Aku minta maaf!" ucap Silla yang masih setia menunduk.
"Ya sudah pak, kalau begitu saya dan istri saya pamit dulu. Terimakasih atas jamuannya," ucap Wira kemudian mengajak istrinya pulang.
Surya melonggarkan dasinya, menatap ke arah anak perempuannya ini.
"Hebat sekali kau sudah membuat papah malu. Jika rekan bisnis papah yang lain tahu, di mana papah harus meletakan wajah ini hah?"
"Silla minta maaf pah!" ucap Silla menyesal.
"Huh, ...!" Surya membuang nafas kasar, "kemasi barang kalian dan segera pulang. Masalah pekerjaan di sini papah sudah menempatkan orang lain," ujar Surya kemudian berlalu pergi.
Ingin rasanya Silla menangis, akibat obsesinya pada Wira sudah berhasil membuatnya malu seperti ini.
"Desi, aku malu banget...!"
"Mau bagaimana lagi, aku kan sudah menasehati mu."
Mereka berdua memutuskan untuk pulang, setibanya di rumah Silla dan Desi sudah tidak memikirkan masalah denhan Wira lagi melainkan Yunita.
Sebelum pergi, Silla sengaja meletakan perhiasan palsu di atas meja dekat televisi di ruang keluarga.
Benar saja, gelang palsu tersebut hilang tanpa jejak.
"Ah, mungkin saja kau salah menaruh. Coba ingat lagi....!" kata Desi dengan suara nyaring.
Yunita yang mendengar keributan langsung keluar dari kamarnya.
"Ada apa ya...?" tanya Yunita pura-pura tidak tahu.
"Tante, aku kehilangan gelang berlian ku. Apa tante ada melihatnya atau menyimpannya?"
"Ah, tidak ada. Sejak kalian pergi tante istirahat di dalam kamar. Coba cari lagi,...!!"
Yunita mulai sibuk mencari, sedangkan Silla dan Desi hanya saling pandang.
Terus mencari, hingga pada akhirnya Yunita di kejutkan dengan kedatangan beberapa orang polisi.
"Loh, kok ada polisi....?" Yunita mulai panik.
"Kami menerima laporan jika di rumah ini sering kehilangan barang berharga. Ibu Yunita, bisa ikut kami ke kantor?"
Tanpa menunggu jawaban, polisi langsung memborgol tangan Yunita.
"Loh pak, kok saya di borgol!"
"Maaf tante, kami sudah tahu siapa tante sebenarnya. Tante tega mencuri perhiasan milik ku dan menggunakan untuk berjudi. Tante benar-benar jahat!" kata Silla namun Yunita masih tetap tidak mengaku.
__ADS_1
"Ini fitnah, aku tidak pernah mencuri apa pun!"
"Jelaskan di kantor polisi....!!" ujar pak polisi langsung membawa Yunita pergi.
Silla terduduk lemas di sofa, wanita ini memijat kepalanya pusing.
"Kenapa hidup ku begitu sial...?"
"Sudahlah, sebaiknya kau beristirahat dulu. Besok kita harus pulang...!"
Hanya menghembuskan nafas pasrah, Silla tidak mungkin berani menentang perintah sang papah apa lagi gara-gara dia ada beberapa pekerjaan yang kacau.
Wira, pria ini bisa bernafas lega karena Silla sudah tidak bisa mengganggunya lagi. Di tambah lagi kabar yang baru saja dia dapat dari Dimas jika Yunita sudah di tangkap oleh polisi.
"Ternyata aku tidak perlu repot-repot menyingkirkan tante Yunita. Benalu itu akhirnya membusuk juga di penjara."
"Tapi, apa Farah tahu jika mamahnya masuk penjara?" tanya Mawar penasaran.
"Mas gak tahu, perempuan itu sudah tidak ada kabar lagi. Semoga saja dia lenyap dan tidak mengganggu kita lagi."
"Makanya mas, kalau punya wajah biasa aja. Akibat wajah tampan mu ini malah bikin masalah!"
"Wah, kau ini tidak bersyukur memiliki suami tampan seperti ini."
"Aku sangat bersyukur, tapi jika banyak perempuan yang tergila-gila pada mu hati ku sakit juga!"
"Kau boleh memotong-motong terong milik mas jika mas berani berkhianat dari mu!" tantang Wira.
"Halah, beraninya cuma ngomong. Nanti juga lupa sama janjinya."
"Kalau begitu, ayo kita bikin surat perjanjian!"
"Ayo, siapa takut!!"
"Eh, kamu kok sekarang jadi berani. Siapa yang ngajarin?"
"Mas Wira, apa pun itu aku belajar dari mas Wira."
Wira hanya menelan ludahnya kasar, benar juga kata Mawar jika selama ini dirinya lah yang mengajari istri yang bukan-bukan apa lagi masalah ranjang.
"Mas, di acara tujuh bulanan nanti. Mamah pulang gak?"
"Ya pulang lah, lagian mamah yang akan mempersiapkan semuanya."
"Udah gak sabar deh nunggu lahiran!" ucap Mawar sambil mengusap perutnya.
"Setelah kamu lahiran, mas akan puasa selama satu bulan lebih. Sungguh, menyesakkan anu...!" ucap Wira dengan wajah sedihnya.
"Eh, anu apa mas?" tanya Mawar yang kepolosannya muncul lagi.
"Ini,....pedang mas gak bisa masuk sarungnya!" tunjuk Wira ie arah burungnya.
__ADS_1
Mawar langsung paham, wanita ini hanya mendengus kesal tidak menanggapi. Akan panjang ceritanya jika Mawar menanggapi ucapan suaminya.