Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Chapter 45


__ADS_3

"Em, tante. Kemana kami harus mengantar tante?" tanya Silla yang bingung.


Yunita sudah tidak memiliki tempat tinggal, wanita ini mulai sibuk mencari ide liciknya.


"Tante tidak tahu mau kemana, anak tante sengaja mengusir tante dari rumah!"


Yunita yang pandai berakting langsung mengeluarkan air mata palsunya. Melihat Yunita yang begitu menderita, Silla dan Desi merasa sedih.


Silla melirik ke arah Desi, lalu mereka meminta waktu untuk bicara berdua. Hanya butuh waktu dua menit, Silla dan Desi kembali ke mobil.


"Tante, kalau rumah saudara tante di mana?" Silla bertanya karena wanita ini berniat untuk mengantarkan Yunita ke rumah saudaranya.


"Tante ini sudah tidak memiliki keluarga. Satu-satunya keluarga itu ya anak tante yang sudah tega mengusir tante. Hiks...hiks....!" tangis Yunita semakin kencang.


"Ya udah, tante jangan sedih. Sebaiknya tante ikut kami saja pulang," ujar Silla yang sebenarnya sesuai dengan harapan Yunita.


"Ah, tidak usah. Turunkan saja tante di pinggir jalan." Yunita menolak agar di bujuk.


"Tidak apa-apa tante. Lagian, kami hanya tinggal berdua. Jika tante mau, tante bisa bekerja di rumah ku!"


"Kau akan memberi ku pekerjaan?" tanya Yunita.


"Iya, sekarang tante gak usah sedih. Ada kami kok," ujar Desi mencoba menguatkan Yunita.


Mereka kemudian pergi dari rumah sakit, sepanjang perjalanan Yunita terus menunjukan wajah sedihnya.


Ketika memasuki halaman rumah Silla, Yunita merasa dia sangat beruntung. Silla mengajak Yunita masuk kedalam rumah, mempersilakan wanita itu untuk istirahat di kamar tamu miliknya.


Berhubung Silla dan Desi masih ada pekerjaan yang harus segera di selesaikan, mereka pamit pergi.


"Oh, perempuan ini ternyata anak orang kaya. Aku bisa memanfaatkan dia," ucap Yunita yang mulai berpikir buruk.


"Pasti di rumah ini banyak menyimpan barang mahal. Lumayan, modal judi....!" ucapnya lagi yang belum kapok dengan kejadian sebelumnya.


Berbeda lagi dengan Farah yang kebingungan mencari seseorang yang bisa menjamin kebebasannya sekarang. Bergantung pada Bambang saja itu sangat tidak mungkin karena terong tua itu sudah tidak memiliki apa-apa.


"Bagaimana Joni, apa kau sudah menemukan sugar daddy untuk ku?" tanya Farah penuh harap.


"Sudah, tapi di luar kota. Dia akan menjamin mu dari tuntutan Wira, tapi dia ingin mengetes mu malam ini. Datanglah ke alamat ini," ujar Joni sambil memberikan selembar alamat pada Farah.

__ADS_1


"Terimakasih. Pergilah, pasti terong tua itu akan segera kembali," ujar Farah kemudian Joni pun bergegas pergi.


Farah menyembunyikan alamat tersebut, wanita ini berniat meninggalkan Bambang yang sudah miskin itu. Benar saja, tak berapa lama Bambang kembali ke apartemen dalam keadaan mabuk.


Farah hanya mencibir, wanita ini tidak berniat membantu Bambang.


"Enak saja, mau enak tapi gratis!" kata Farah lalu menendang kaki Bambang yang sedang tergeletak tak sadarkan diri di lantai.


Melihat Bambang sudah tidak sadarkan diri, Farah buru-buru mengemasi semua barangnya. Tidak lupa wanita ini mengambil barang berharga milik Bambang dan sejumlah uang yang masih tersedia lalu meninggalkannya begitu saja.


Farah bisa bernafas lega ketika Joni menghubunginya dan mengatakan jika dia sudah bebas dari tuntutan. Wira yang mendengar kabar ini mulai merasa heran siapa yang sudah berani menjamin Farah dengan sangat mahal.


Wira menutup telponnya, masalah perusahaan sudah selesai dan dirinya hanya menganggap itu sebagai pelajaran untuk Farah. Pria ini kembali ke ruang keluarga, menemani istrinya yang sedang asyik menonton drama kesukaannya dengan setumpuk camilan.


"Mas, aku ingin makan tahu gejrot!" rengek Mawar.


"Tahu kok di gejrot, kamu aja yang mas gejrot. Mau gak?"


"Mas, aku serius!"


"Iya sebentar, aku tanya bi Nami. Katanya dia mau keluar berbelanja tadi. Kita bisa titip sama dia."


"Iya, terimakasih suami ku!" ucap Mawar dengan senyum lebarnya.


"Sayang, sudah. Bi Nami udah pergi," kata Wira kembali menghampiri istrinya.


"Mas, nanti malam kita muter-muter ya. Aku juga ingin makan pentol kuah bumbu kacang."


"Pentol punya mas kan ada. Bumbunya juga sangat kental menikmatkan!"


Mawar yang,gemas pada suaminya langsung mencubit perut pria itu.


"Mas, bisa gak sih serius?" tanya Mawar, "Aku bahas makanan bukan gituan!"


"Tapi mas gak suka bahas makanan. Kalau bahas genjotan ya mas suka!"


Ingin rasanya Mawar menarik kuping Wira, apa pun yang di bahas pasti larinya ke arah sana.


Sementara itu, pak Agus merasa heran karena dirinya mendapatkan kiriman bunga mawar yang begitu banyak.Wira benar-benar mengirimi pria paruh baya ini hadiah dengan sepucuk surat di atasnya.

__ADS_1


Terimakasih sudah menyumpahi istriku agar menikah dengan duda. I Love You pak Agus!!


Begitu lah isi dari surat tersebut.


Pak Agus yang geram langsung meremas kertas tersebut lalu membuangnya.


"Sialan, berani sekali suami Mawar mengejek ku. Tampan juga aku dari pada dia...!" ucap pak Agus yang tidak mau mengakui ketampanan Wira.


Pak Agus memandang bunga yang begitu banyak di depannya. Tiba-tiba saja dirinya mendapatkan ide yang bisa membuat namanya kembali di sanjung.


"Dari pada di buang sayang, lebih baik bunga ini aku bagikan pada istri-istri ku!" ujar pak Agus mulai sibuk membagi bunga-bunga mawar yang cukup banyak itu.


Wira tidak memberitahu Mawar jika dirinya mengirimi pak Agus hadiah. Lawak betul pria ini, bisa-bisanya candaan sang istri di anggap serius. Wira yang masih menemani istrinya hanya bisa menahan tawa karena pria ini yakin jika sekarang pak Agus tengah kesal pada dirinya.


"Mas,...!" panggil Mawar.


"Hmm, ada apa Mawar ku?"


"Ajak aku ke makam mbak Dania dong. Aku ingin berziarah!"


Wira langsung terdiam ketika mendengar permintaan Mawar.


"Mas, kenapa?" tanya Mawar mulai merasa bersalah, "jika mas Wira gak mau, gak kenapa-kenapa kok. Aku mengerti."


Wira tersenyum lalu menarik istrinya kedalam pelukan.


"Iya, besok pagi kita pergi ke makam Dania. Pasti dia senang karena kamu mau datang ke rumahnya," ujar Wira yang tak sampai hati menolak permintaan istrinya.


"Terimakasih ya mas!" ucap Mawar.


"Kamu gak cemburu?" tanya Wira.


"Cemburu pada siapa?" Mawar bertanya balik.


"Pada almarhum Dania?"


"Untuk apa cemburu pada orang yang sudah tiada. Meskipun di hati mas Wira, akan selalu ada mbak Dania, itu wajar saja. Aku tidak berhak cemburu mas."


"Kau berhak cemburu sayang, tidak ada wanita yang cintanya mau di bagi."

__ADS_1


"Kalau sesama perempuan hidup, aku baru cemburu. Kalau sama almarhum mbak Dania, itu terlalu lucu jika aku cemburu padanya."


Senang sekali rasanya mendengar kejujuran dari Mawar. Wira langsung menciumi wajah istrinya dengan gemas.


__ADS_2