Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Chapter 42


__ADS_3

"Kau tarik semua tuduhan mu atau aku akan menyebarkan semua ini," ujar Wira sembari melempar beberapa bukti hubungan gelap Farah dan Bambang.


Wajah Farah mendadak panik, namun dengan cepat wanita ini menyanggahnya.


"Bukankah hubungan antara laki-laki dan perempuan itu hal yang lumrah?"


Wira tertawa sinis, pria ini sudah bisa menebak apa yang akan di ucapkan Farah.


"Kau berurusan dengan orang yang salah Farah. Lihat ini,....!" ujar Wira kembali menunjukan beberapa bukti penyanggah atas tuduhan yang di lontarkan padanya.


"Wira,....!"


"Aku memberi mu waktu sampai pukul delapan malam ini. Jika kau tidak menarik semua tuduhan mu. Aku akan membuka semuanya tentang mu!" ancam Wira kemudian berlalu pergi.


****,....


Farah mengumpat kesal, wanita ini mulai bingung apa yang harus dia lakukan sekarang. Apa lagi Wira memegang semua keburukan tentang Farah.


Farah kembali ke kantor menemui Bambang yang nampak santai dengan pekerjaannya.


"Om,....!"


Bambang mendongak, pria paruh baya ini mengerutkan dahinya bingung ketika melihat ekspresi wajah Farah.


"Ada apa?" tanya Bambang datar.


"Masalah tuduhan palsu itu, bisakah om menarik semua berita yang sudah beredar?"


Bambang tertawa masam, dengan tegas dia menjawab tidak.


"Jangan coba-coba bermain dengan ku. Kau sudah mendapatkan keuntungan dari semua ini."


"Wira mengancam ku om!" adu Farah namun Bambang tidak peduli.


"Itu bukan urusan ku. Aku memberi mu uang sangat banyak jadi kau harus bisa menyelesaikannya."


Jleb,...


Bingunglah Farah ingin berbuat apa. Wanita ini tidak menyangka jika Wira bisa memiliki semua latar belakangnya.


Farah



Tidak ada habisnya, urusan dengan Farah saja belum selesai. Wira sudah di hadapkan dengan sikap Silla yang mencoba mencari perhatiannya.


Entah tahu dari mana jika Wira dan Dimas makan siang di salah satu restoran. Silla menghampiri meja Wira seolah mereka tidak sengaja bertemu.


"Kau memberitahunya?" tanya Wira berbisik pada Dimas.


"Tidak pak, saya tidak sebodoh itu!" jawab Dimas malah membuat Wira kesal.


"Wira, apa aku boleh duduk?" tanya Silla seolah berbasa basi.


"Kalau makan ya makan!" sahut Wira acuh.


"Eh, di mana Sekretaris mu?" tanya Dimas penasaran.

__ADS_1


"Ada, dia sedang sibuk," jawab Silla, "em,...Dimas. Apa kita bisa bertukar tempat duduk?"


"Ada apa dengan tempat duduk mu?" tanya Wira heran.


"Tidak kenapa-kenapa. Aku hanya ingin duduk di samping mu!"


Wira langsung meletakan kedua sendoknya. Selera makan Wira sudah hilang.


"Kau ingin duduk di samping suami orang. Di mana letak rasa malu mu?" tanya Wira membuat wajah Silla langsung masam, "ingat ya, hubungan kita hanya sebatas rekan bisnis. Jangan coba-coba menggoda ku!"


Wira beranjak dari duduknya kemudian pergi. Tinggallah Dimas yang bingung ingin melakukan apa.


"Bos mu itu kenapa sih?" Silla kesal.


"Apanya yang kenapa?"


"Perasaan kalau laki-laki ketemu perempuan cantik matanya hijau. Tapi, kenapa Wira sama sekali tidak mau melihat ku?"


Dimas bingung ingin menjawab apa.


"Aku pergi juga ya....!" ujar Dimas langsung menyusul Wira yang ternyata sudah melajukan mobilnya, "astaga, gegara perempuan itu aku di tinggal pak Wira!"


Dimas kesal, mau tidak mau pria ini kembali ke kantor dengan menggunakan taksi.


Silla, wanita ini tidak jadi makan. Niat hati ingin mencari muka di depan Wira namun hanya malu yang dia dapat.


Wira tidak kembali ke kantor, pria ini memilih pulang ke rumah yang ternyata sang mamah sudah pulang.


Wira yang melihat mamahnya dan Mawar sedang asyik membongkar oleh-oleh langsung menghampiri mereka.


"Wah, banyak banget oleh-oleh buat Mawar. Buat Wira mana mah?"


"Mah, anak mamah inikan Wira. Kenapa jadi Mawar yang dapat oleh-oleh?"


Wira protes.


"Mas, apa sih? aku kan anak mamah juga!"


"Sana pergi, jangan ganggu kami...!" usir Asti.


Huft,....


Wira mendengus kesal, pria ini memutuskan untuk pergi ke kamar untuk berganti pakaian. Tak berapa lama Mawar menyusul suaminya.


"Mas udah makan siang belum?" tanya Mawar.


"Sudah sayang, kalau kamu?"


"Udah tadi sama mamah. Mas di tunggu mamah di kamarnya," ujar Mawar memberitahu.


"Iya, kamu istirahat dulu ya. Mas pergi ke kamar mamah sebentar!"


Asti sudah menunggu anaknya di kamar. Sebenarnya Asti hanya pulang beberapa hari karena sang kakak masih sakit.


"Mah, ada apa?" tanya Wira.


"Masalah perusahaan. Kok bisa?" tanya Asti merasa heran karena wanita ini tahu betul kinerja anaknya.

__ADS_1


"Kerjaan Farah, dia mencoba menekan ku dengan masalah ini agar aku mau menikahi dia."


Asti membuang nafas kasar, tidak percaya jika Farah yang dia kenal baik dulu nyatanya bermuka dua.


"Apa Mawar tahu tentang masalah ini?"


"Tidak, aku tidak memberitahunya."


"Selesaikan secepatnya Wira. Mamah gak mau kamu berurusan dengan perempuan itu."


"Mamah pulang hanya untuk hal ini?" tanya Wira menebak.


"Tidak juga, hanya ingin melihat keadaan kalian terutama Mawar."


"Mawar baik-baik saja. Aku selalu menjaganya!"


"Awas saja jika kau menyakitinya. Mamah tidak akan mengakui mu sebagai anak lagi. Masalah Farah, cepat selesaikan. Besok lusa mamah akan kembali lagi, keadaan tante kamu semakin memburuk."


"Semoga tante cepat sembuh."


Wira keluar dari kamar mamahnya, kembali ke kamarnya dan mendapati Mawar sedang sibuk menata pakaian.


"Siapa yang menyuruh mu mengerjakan ini?" tanya Wira yang tidak ingin istri kelelahan.


"Hanya menata sedikit mas, kenapa?"


"Udah, biar nanti di kerjakan bibi. Kamu istirahat aja!"


"Mas, pekerjaan rumah sekecil ini masa harus meminta bantuan bibi. Aneh deh!"


"Kamu ini, cepatlah kalau begitu!"


Wira membuka kulkas yang ada di dalam kamarnya. Cuaca yang panas membuat pria ini ingin minum yang dingin-dingin.


"Sayang, ini minuman apa?"


"Yang mana?" tanya Mawar yang masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Yang warna hijau ini,"


"Oh, alpukat kocok. Lagian, mas Wira kebanyakan sih belinya."


"Alpukat kocok? eh, mas pikir kamu aja yang harus di kocok. Ternyata alpukat ada juga yang di kocok!" Celetuk Wira kembali mengarah ke arah sana, "em, enak juga ya. Dapat ide dari mana?"


"Kerja dia cafe kemarin membuat ku belajar cara membuat minuman dari buah-buahan."


"Alpukat kocok, kamu mau di kocok gak sayang?"


Buk,....


Mawar melempar gantungan baju ke arah suaminya.


"Mas, bisa gak sih otak mesum kamu itu di kurangi sedikit?"


"Gak bisa, gak mesum gak hidup!" gurau Wira semakin membuat Mawar kasar, "malam ini, mas akan mengocok kamu. Lihat aja ya...!"


"Mas,....!"

__ADS_1


"Iya Mawar ku. Mau kocok lembut atau kasar ni?"


Wira mengedipkan sebelah matanya membuat Mawar geli. Tidak mau menanggapi suaminya, Mawar kembali fokus pada pekerjaan menata pakaiannya.


__ADS_2