
"Sayang, kau membeli kursi ini kah?" tanya Wira merasa aneh pada barang yang di beli istrinya ini.
"Tidak mas, kenapa memangnya?"
"Tapi untuk apa, untuk mamah?"
"Gak, buat kamu!"
Kening Wira berkerut bingung.
"Buat apa coba, kursi kita kan udah banyak!"
"Aku sengaja beli kursi goyang ini buat kamu. Katanya kamu minta di goyang, ya ini. Gunakan kursi goyang ini dengan baik...!" jelas Mawar membaut suaminya melongo tidak percaya.
"Maksudnya mas bukan di goyang sama kursi. Tapi sama kamu!"
"Sama aja, yang penting di goyang. katanya udah gak tahan mau di goyang, ya udah gunakan kursi goyang ini."
Mawar mendorong suaminya duduk di kursi goyang yang dia beli secara online. Wira hanya menurut saja.
"Bagaimana mas, enakkan di goyang?" tanya Mawar dengan senyum lebarnya.
"Sayang,...bukan goyangan seperti ini," protes Wira.
"Udah, sama aja. Aku keluar dulu, mamah sama Al sudah menunggu ku!"
Bukannya menikmati kursi goyang yang di belikan istrinya, Wira malah memijat kepalanya yang terasa pusing.
"Awas saja kau nanti Mawar. Akan ku buat rontok hutan mu!" ucap Wira yang kesal pada istrinya.
Wira menyusul Mawar yang sudah berada di ruang keluarga bersama mamah dan anaknya. Wajah pria ini cemberut, membuat Mawar geli menahan tawanya.
"Makanya, jangan suka mengerjai istri. Di kerjain balik marah, gak terima." Asti mencibir anaknya sendiri.
"Menantu mamah itu harus di beri pelajaran nanti...!"
"Kapan?" tanya Asti dengan wajah mengejek.
"Minggu depan, saat bulan madu!" jawab Wira dengan tegas.
"Heleh, bulan madu katanya gak tahu anak di rumah di jaga sama omanya!"
__ADS_1
"Hanya mamah yang mengerti Wira. Nanti Wira belikan hadiah deh...!"
Wira kembali merayu mamahnya.
"Jangan mau mah. Aku gak mau jauh dari Al...!" Mawar malah mengompori mertuanya.
"Sayang, diam!!"
"Terserah kalian saja. Kalau mau pergi, pergi sana asal jangan bawa cucu mamah ini. Sana, pergi ke kamar lagi sana. Berisik!"
Asti yang merasa berisik dengan mulut anak menantunya langsung mengusir mereka berdua.
Semakin lama tidak masuk kantor, Wira malah keenakan di rumah. Semua pekerjaan di kerjakan Dimas dan Mia. Untung saja gajinya besar, jadi mereka betah bekerja dengan Wira.
"Sayang, kita bicara berdua. Ada yang ingin mas bicarakan sama kamu." Wira mengajak istrinya bicara empat mata.
Mawar dan Wira kembali masuk ke dalam kamar. Meninggalkan anak mereka bersama dengan Asti yang tidak mau di pisahkan dari cucunya.
"Ada apa mas?" tanya Mawar pemasaran.
"Masalah almarhum istri ku, entah kenapa ada yang mengganjal di sini," ujar Wira menunjuk dadanya.
"Memangnya kenapa mas?" tanya Mawar heran, "kalau mas rindu sama mbak Dania, ayo kita pergi ke makamnya."
Mawar bingung sendiri.
"Jika mas Wira yakin, aku sih tidak masalah!"
"Mas takutnya kamu cemburu!" seru Wira merasa tidak enak hati pada istrinya.
"Hanya kali ini, tidak untuk seterusnya!" tegas Mawar.
"Lagian, aku yakin semua ini tidak akan lama mengingat mulut Widya suka asal ngomong."
"Kamu yakin banget. Mas malah takut kamu sakit hati...!"
"Yakin dong mas, terkadang yang jahat itu akan terbuka dengan sendiri meskipun pelaku sudah menyimpannya ribuan tahun lamanya. Percaya pada ku!"
Mawar terus menyakinkan suaminya, wanita ini tidak ingin melarang Wira untuk membuka kembali masa lalu. Karena Mawar sadar, Sebelum dirinya ada Dania dalam hidup Wira.
Telah di sepakati jika Wira akan memulai rencananya setelah pulang dari liburan. Apa pun jika itu kebenaran, Mawar akan tetap mendukung suaminya.
__ADS_1
Beda lagi dengan Farah yang hampir setiap hari beradu mulut dengan Joni. Sejak pindah ke tempat ini, Joni melihat banyak perubahan dari Farah. Wanita ini lebih suka menabung, bahkan Farah sudah tidak pernah lagi menyentuh minuman keras seperti dulu.
"Aku suka Farah yang sekarang, dia terlihat lebih segar dan lebih terbuka," ucap Joni pada Wiwi, mereka mengobrol berdua di balkon apartemen sedangkan Farah sedang masak untuk makan malam.
"Dia teman yang baik dan tidak pelit. Tapi, aku heran aja kenapa dia bisa terjerumus ke hal yang negatif...?"
"Didikan orangtuanya, aku mengenal Farah sejak sekolah. Orangtuanya hanya menganggap Farah mesin uang, membuat dia melakukan apa saja yang bisa menghasilkan uang. Keluarganya penggila judi...!"
Joni memberitahu Wiwi, membuat Wiwi terkejut karena selama ini Farah tidak pernah bercerita tentang hal tersebut.
"Nasib dia sama aku tidak jauh berbeda. Memiliki orangtua yang tidak bisa di jadikan sandaran. Aku di jadikan sapi perah hanya untuk saudara tiri ku, dia harus memiliki pendidikan tinggi dengan mengorbankan aku. Miris bukan...?"
Mata Wiwi berkaca-kaca, wanita ini ingat betul bagaimana sakitnya di peras materi dan mentalnya.
"Hoi,....berhenti bergosip. Cepat makan, aku sudah selesai memasak!" teriak Farah dari dalam.
Joni dan Wiwi yang mendengar suara Farah langsung masuk ke dalam. Seperti biasa, mereka makan bertiga. Di banding tinggal di rumah keluarganya yang mewah, Joni lebih senang tinggal bersama Farah dan Wiwi yang sederhana.
"Kau sudah pantas menjadi ibu rumah tangga. Masakan mu selalu enak, cepatlah menikah!"
Joni memuji masakan Farah, membuat wanita ini merona malu. Seumur hidup baru sekarang Farah di puji dengan pujian yang bisa dia lihat itu sangat tulus.
"Kau saja yang menikah dulu, perasaan kau tidak pernah dekat sama perempuan mana pun. Sama Wiwi tuh, jomblo!"
"Dari pada sama Wiwi mending sama kamu!" ucap Joni membuat Wiwi kesal.
"Yang mau sama kamu siapa coba hah?"
Joni
(gambar hanya pemanis)
"Udah, jangan banyak omong. Cepat habiskan, jangan lupa cuci piring masing-masing. Aku bukan babu kalian...!" ucap Farah yang selalu mengingatkan kedua temannya itu.
Mereka bertiga duduk di sofa yang sama selesai makan. perut kenyang hati pun senang. Belum lama duduk, bel berbunyi. Dengan malas Wiwi membuka pintu yang ternyata ada Jonas datang.
Tanpa permisi, Jonas masuk kedalam apartemen. Pria ini menatap wajah adiknya dengan kesal.
"Dari pada kau hidup bersama dengan dua orang wanita ini tanpa status, lebih baik kau nikahi mereka berdua!" ucap Jonas sangat mengejutkan Farah dan Wiwi namun tidak dengan Joni.
__ADS_1
"Kau saja yang menikah sana. Nasib mu dan nama mu tidak jauh beda. Jonas dan Jones, jomblo ngenes!" ejek Joni pada kakaknya.
Wiwi dan Farah tidak mau mendengarkan perdebatan kakak dan adik ini, kedua wanita ini memilih pergi keluar.