Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Bonchap 115


__ADS_3

"Sudah dua bulan kau tidak keluar rumah. Apa kau tidak bosan hemmm?"


"Sebenarnya aku bosan, tapi aku malu jika keluar bersama mu?" ujar Wiwi yang masih trauma dengan berita tentang dirinya beberapa bulan yang lalu.


"Haduh,...kau ini. Kenapa sih masih aja mikirin masalah seperti itu?"


"Karena aku gak mau bikin kamu malu dan di rendahkan hanya karena perempuan murahan seperti aku!"


Wiwi memandang lekat wajah suaminya yang saat ini sedang menggendong anak mereka yang bernama Elkan.


"Tidak akan ada yang berani mengatai mu. Percaya pada ku, jika ada yang berani, akan ku patahkan urat leher mereka!"


"Tapi,....!"


"Ganti pakaian mu jika tidak ku seret ku!" ancam Jonas.


Mau tidak mau Wiwi menurut dengan ucapan suaminya. Jonas hanya ingin melihat anak dan istrinya bahagia. Jonas merasa bersalah saat melihat sang istri hanya sibuk di rumah saja.


Sejak menikah, Wiwi tidak pernah lagi memakai pakaian terbuka. Jonas sangat senang dengan perubahan istrinya ini.


Dengan wajah lesu, Wiwi keluar dari mobil lalu memasuki area pusat perbelanjaan terbesar di negara tersebut.


"Lihatlah, semua biasa saja. Kau hanya khawatir, jadi jangan malu lagi untuk ke luar rumah ya," ujar Jonas yang menunjuk di sekitar mereka.


Wiwi tidak menanggapi, wanita ini memicingkan matanya saat melihat seseorang yang sangat ia kenali.


"Sayang, ada apa?" tanya Jonas penasaran.


"Matilah aku,...!" ucap Wiwi dengan wajah ketakutan.


"Hei,...kau ini kenapa? ayo bicara!"


"Mami Ger, dia berjalan ke arah ku!" kata Wiwi memberitahu.


Jantungnya langsung berdebar sangat kencang, Wiwi tidak pernah menyangka jika ia yang baru saja keluar rumah langsung di pertemukan dengan mami Ger.


Jonas langsung mengikuti ekor mata sang istri, tampak sekali seorang wanita paruh baya berjalan dengan langah cepat menuju ke arah ia dan istrinya.


"Ayo pergi, jangan hiraukan!" ujar Jonas langsung menarik tangan istrinya.

__ADS_1


Tidak menunggu waktu lagi, Wiwi dan Jonas langsung pergi menuju parkiran. Mami Ger dan dua orang anak-anaknya langsung mengejar Wiwi.


Meskipun usianya sudah tua, tapi mami Ger memiliki tenaga yang cukup kuat untuk mengejar Wiwi.


"Hei,....berhenti kau pellacur.....!" seru mami Ger yang berhasil menarik tangan Wiwi yang hendak masuk kedalam mobil.


"Lepaskan aku!" Wiwi berontak tapi wanita ini terjatuh karena dua orang perempuan yang ikut mengejar juga menarik Wiwi.


Jonas yang melihat istrinya dalam bahaya langsung keluar, meninggalkan anak mereka yang berada di kursi belakang.


"Lepaskan istri ku...!" pinta Jonas dengan mata merah padam. Jonas langsung mendorong tiga orang perempuan yang mengerumuni istrinya.


"Siapa kah hah?" tanya Mami Ger, "jangan ikut campur, ini urusan ku dengan Wiwi."


"Aku suaminya, kalian tidak berhak mengusik istri ku!"


"Wanita yang kau panggil istri ini sudah di jual oleh ayahnya pada ku. Jadi, hanya aku yang berhak atas dirinya!"


"Aku tidak peduli, dia sudah menjadi istri ku dan itu artinya dia hanya milik ku!"


Mami Ger tertawa, mencibir Jonas.


Perih, hati Wiwi sangat perih saat di katai perempuan kotor.


"Sektor apa pun istri ku, dia tetaplah istri ku, ibu dari anak-anak ku!" tegas Jonas.


"Dia hanya pellacur, apa kau tahu itu? dia hanya pellacur, murahan!"


"Aku tahu semuanya, siapa kau yang berani menghakimi istri ku hah?"


Wiwi hanya diam saja, tanpa terasa air matanya keluar begitu saja. Jonas telah membela harga dirinya. Jonas menyuruh istrinya untuk masuk, meninggal mami Ger dan kedua babunya yang masih mencoba mengejar mobil mereka.


"Apa yang kau tangis kan hah?"


"Terimakasih telah membela harga diri ku. Aku semakin merasa tidak pantas bersanding dengan mu!" ucap Wiwi dalam isaknya.


"Sekali lagi kau mengatakan hal seperti itu, akan ku sobekan mulut mu!" ucap Jonas marah, "kirim foto perempuan tua itu. Aku akan membuat perhitungan. Dia harus di basmi. Cepat, sekarang!" sentak Jonas membuat Wiwi kaget dan langsung mencari akun media sosial mami Ger lalu mengambil fotonya dan mengirimkannya pada Jonas.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Wiwi mulai takut.

__ADS_1


"Tidak ada!" jawab Jonas, "apa dia suka pergi keluar negeri?" tanya Jonas penasaran.


"Setahu ku iya, dia juga suka menjual beberapa perempuan pada lelaki luar."


"Dasar iblis betina...!" umpat Jonas kesal.


Tidak ada jalan-jalan yang membahagiakan, yang ada Wiwi semakin trauma untuk keluar rumah. Setibanya di rumah, Jonas meminta sang istri untuk menenangkan diri. Untuk anaknya kembali di jaga oleh perawatnya sendiri.


Jonas pergi, entah ke mana pria ini pergi. Wiwi sendiri tidak tahu karena Jonas tidak ingin memberitahu. Jantung Wiwi masih berdebar, ia tidak ingin lagi masuk dalam lingkaran hitam seperti dulu. Dalam hatinya terus mengucapkan kata terimakasih dan rasa syukur karena suaminya bisa membela dirinya.


Lain pula dengan cerita Wira, sudah sekian lama ia tidak berziarah ke makam almarhum Dania dan anaknya. Rasa sesak kembali menyeruak di dada kala Wira mengusap batu nisan berukuran kecil di samping makam almarhum istri pertamanya ini.


"Sayang papah, kamu sudah punya dua adik sayang. Tapi papah gak akan pernah melupakan kamu," ucap Wira dengan senyum tipisnya, "bahagia sama mamah ya, papah yakin jika kalian selalu mendoakan papah dari atas sana."


Wira mengirim doa setelah itu menabur bunga. Setelah dari makam, Wira pergi ke penjara untuk melihat orang yang sudah membuat istri dan anaknya meninggal dunia.


Widya, tampak kurus tak terurus. Masih tetap sama, wajahnya selalu menunjukkan angkuh penuh kesombongan.


"Bajingan, bebaskan aku dari tempat jahanam ini...!" pinta Widya penuh penekanan.


"Jika kau bebas, apa yang akan kau lakukan?" tanya Wira dengan wajah dinginnya.


"Aku akan membunuh mu dan keluarga mu. Kau penyebab dari penderitaan hidup ku!"


Wira tertawa sinis, menatap tajam Widya.


"Lalu bagaimana dengan dua nyawa yang kau rampas paksa hah?"


"Dania memang pantas mati. Dia selalu lebih beruntung dari aku, bagus jika dia mati...!"


Untung saja Widya ini perempuan, jika laki-laki sudah habis di hajar oleh Wira.


"Kau hanya di tuntut dua puluh tahun penjara. Kau lihat saja nanti, aku akan menuntut mu dengan hukuman yang lebih berat lagi...!"


"Mas Wira, mau apa kau hah?" Widya mulai panik, "kau hanya menderita beberapa tahun saja. Kenapa kau ingin membuat ku menderita seumur hidup ku hah?"


"Kematian Dania dan anak ku, sampai kapan pun tidak pernah aku lupakan. Selama aku hidup, aku akan membuat kau merasakan apa itu rasa sakit."


Wira kemudian pergi, meninggalkan Widya di balik jeruji besi yang histeris memanggil nama Wira.

__ADS_1


__ADS_2