
Dengan nafas yang tersengal-sengal, Farah dan Wiwi sudah berhasil keluar dari bar dengan mengecoh dua penjaga tersebut.
Joni yang sudah menunggu kedua wanita itu langsung menjemput mereka.
"Cepat masuk!" titah Joni yang sudah siap menancap gas kemudinya.
Kedua wanita tersebut langsung masuk kedalam mobil lalu Joni dengan cepat melepas gasnya.
Huft,...
Farah dan Wiwi bisa bernafas lega sekarang.
"Farah, sekarang kita mau kemana?" tanya Wiwi yang tidak memiliki tujuan.
"Kembali ke kota ku. Sebelum kita pergi ke luar negeri, aku akan menemui mamah ku."
"Tapi, aku tidak memiliki paspor!"
Wiwi nampak bersedih.
"Kau tenang saja, bajingan berbau ini yang akan menguruskannya untuk mu," ujar Farah membuat hati Wiwi tenang.
"Wah, mulut kue lapis ini seenaknya saja kalau mengatai orang!" sahut Joni yang kesal.
Perjalanan kembali ke kota Farah membutuhkan waktu kurang lebih dua jam. Untuk beberapa waktu Farah dan Wiwi akan bersembunyi karena mereka yakin mami Ger pasti memerintahkan anak buahnya untuk mencari Farah dan Wiwi.
Sekarang, Farah bisa bernafas dengan lega ketika mereka sudah memasuki salah satu apartemen milik Joni. Tidak hanya Farah, begitu juga dengan Wiwi yang sudah hampir tiga tahun berada di bawah tekanan mami Ger.
"Anggap saja rumah sendiri. Jangan masukan ke hati jika pisang kampung ini bicara yang aneh!" ucap Farah pada Wiwi membuat wanita itu tertawa.
"Masih mending aku pisang kampung, dari pada kau. Tempe mendoan yang sudah kadaluarsa!" balas Joni namun tidak membuat Farah marah.
"Wah, mulut kau ini. kalau belum pernah merasakan goyangan ku jangan sesekali kau mengatai ku tempe mendoan kadaluarsa ya!"
Wiwi, wanita hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihat Farah dan Joni beradu mulut. Meskipun mereka baru kenal, tapi Wiwi yakin jika Joni adalah lelaki baik dalam berteman.
"Kalian ini ada-ada saja!" seru Wiwi yang sudah sakit perut dengan tawanya.
"Wiwi, kau harus hati-hati dengan anakan tongkol ini. Jika aku tidak ada, jangan mau di rayu sama dia...!"
"Dasar rempeyek!" umpat Joni benar-benar kesal dengan Farah.
__ADS_1
Cukup untuk malam ini, Farah dan Wiwi juga Joni beristirahat. Pagi sekali Farah bangun, wanita ini menggunakan kacamata hitam dan masker penutup wajah menuju kantor polisi untuk menjenguk mamahnya.
Sekian bulan tidak bertemu dengan sang mamah. Farah nampak terkejut dengan perubahan fisik Yunita yang nampak kurus tak terurus.
"Farah, apa kau ada uang?" tanya Yunita tanpa bertanya kabar anaknya.
Huft,....
Farah hanya membuang nafas kasar melihat sikap mamahnya yang tidak berubah sama sekali.
"Uang, uang dan uang. Mamah sama sekali tidak bertanya bagaimana keadaan ku, kabar ku atau apa kek?"
"Itu semua tidak penting, mamah hanya butuh uang untuk keluar dari tempat terkutuk seperti ini. Cepat, bebaskan mamah. Mamah sudah tidak betah lagi...!"
"Berapa tahun mamah di penjara?" tanya Farah.
"Tujuh tahun, apa kau tega melihat mamah mu ini membusuk di penjara?"
"Kalau begitu, nikmatilah masa tua mamah di tempat ini. Jangan pernah mencari ku lagi, ini adalah pertemuan kita yang terakhir. Mah, aku ingin berubah ke arah yang lebih baik lagi. Ku lihat mamah tidak bisa berubah, jadi nikmati saja!" ucap Farah lalu berdiri dari duduknya.
"Anak durhaka kau!" Yunita marah, "anak tidak tahu di untung. Tega-teganya kau melakukan ini semua kepada ibu yang sudah melahirkan mu hah?"
"Jangan bicara tentang kata tega, selama aku hidup apa pernah kalian sebagai orangtua memenuhi kewajiban kalian? yang ada kalian hanya menuntut ku dengan uang, uang dan uang."
Pada awalnya Farah memang kasihan melihat keadaan mamahnya yang seperti ini. Namun, sikap sang mamah yang tak berubah membuat Farah membuang jauh rasa kasihannya.
Farah kembali ke apartemen, wanita ini tidak ingin tertangkap oleh anak buah mami Ger. Setibanya di apartemen, Farah hanya terduduk lemas. Wanita ini mengusap wajahnya kasar, tanpa terasa air matanya mengalir begitu saja.
"Kenapa hidup ku ngenes seperti ini ya...?"
Wiwi menyodorkan kotak tisu, tidak tega juga melihat Farah seperti ini.
"Sabar, anggap saja ini semua ujian!" ucap Wiwi.
"Tapi, kenapa ujian ku selalu mendapatkan remedial?"
"Karena kau bodoh!" seru Joni mengejek.
"Keparat...!" umpat Farah, "aku sedang sedih sekarang, jangan ganggu aku!"
Sudah bisa mendengar dan melihat Farah yang mengeluh seperti ini. Joni adalah teman masa sekolah Farah yang setia berteman dengannya.
__ADS_1
Sementara itu, keadaan Mawar sudah jauh lebih baik hari ini. Pasca operasi yang di lakukan mendadak membuat wanita ini harus banyak beristirahat. Sedangkan sang anak keadaannya sudah jauh membaik.
Untuk pertama kalinya Wira di izinkan untuk menggendong anaknya. Kedua telapak tangannya berkeringat panas dingin, dada Wira berdebar kencang. Sekian puluh tahun hidup, baru sekarang Wira menggendong seorang bayi.
"Mas, kalau takut gak usah gendong. Aku jadi ngeri sendiri melihat kamu yang seperti cacing kepanasan!"
"Mas hanya gugup, maklum baru pertama gendong!"
Di bantu seorang perawat, Wira menggendong anaknya. Perasaan haru menyelimuti hati, Asti menepuk pundak anaknya dengan perasaan bangga.
Tia yang melihat drama mengharukan ini hanya bisa memeluk lengan suaminya dengan sesekali menyeka air mata.
"Anak papah, ganteng banget. Terimakasih sudah berjuang sayang," ucap Wira tanpa terasa air matanya menetes.
"Mas, giliran...!" kata Mawar.
"Dua menit lagi ya sayang!" ujar Wira membuat Mawar mendengus kesal.
Untung saja dirinya masih lemah terduduk di kursi roda. Jika tidak pasti sudah rampas anaknya.
"Mah, cucu mamah ganteng kan?"
"Iya dong, mamah seneng banget. Akhirnya sudah resmi juga sebagai oma!"
"Selamat ya untuk kalian. Aku benar-benar terharu," ucap Tia yang sangat ingin menggendong bayi mungil tersebut namun tidak bisa.
"Udah, jangan sedih. Kita kan lagi proses pengadonan. Sabar...!" kata Bayu sembari menepuk pundak sang istri.
"Mas, gantian...!" sekali lagi Mawar meminta anaknya, mau tidak mau Wira menyerahkan sang anak pada istrinya.
Bahagia sekali hati Wira ketika melihat istri dan anaknya bisa bersatu seperti ini. Rasa syukurnya selalu Wira ucapkan di dalam hati karena apa yang dia takutkan tidak terjadi.
"Mas, akhirnya kita bisa menggendong anak kita juga ya!" kata Mawar yang sudah tidak bisa menahan tangisnya.
"Iya, mas sangat bahagia sekarang."
"Mah, apa mamah mau gendong cucu mamah?"
Asti hanya mengangguk, masih tidak percaya jika sekarang dirinya bisa menggendong cucu kandungnya sendiri.
Huft,....
__ADS_1
Wira bisa bernafas lega sekarang, di umurnya yang sudah menginjak tiga puluh tahun, Tuhan mengirimkan hadiah terindah seorang anak padanya dari wanita yang sangat ia cintai.