
"Apa salahnya jika aku bisa menikah dengan mas Wira untuk menggantikan kak Dania. Wajah kami mirip, lagian menurut ku kak Dania saja dulu tidak cocok jika bersanding dengan mas Wira. Apa lagi istrinya yang sekarang ini."
"Lalu, menurut mu siapa yang lebih pantas?" tanya Tia semakin jengkel.
"Ya tidak tahu. Tapi, jika boleh aku sih ingin mengajukan diri."
"Apa kau lupa jika kau dulu selalu menyusahkan almarhum kakak mu?" tanya Tia benar-benar kesal, "Dania sudah meninggal sejak lama, tapi kenapa kau sekarang menjelekkannya."
"Em, jujur saja aku memang tidak menyukai kakak ku. Kak Dania selalu beruntung dalam hal apa pun, termasuk mendapatkan mas Wira. Makanya, pada saat mereka menikah aku mendesak kakak ku untuk tinggal bersama mereka."
"Biar apa? biar kau bebas mengusik rumah tangga mereka, iya kan?" tebak Tia yang kembali ingat dengan kejadian di kaja Widya selalu membuat ulah.
"Mas Wira tipe suami idaman. Pasti banyak perempuan yang berlomba-lomba ingin mendapatkannya....!"
"Termasuk kau....!" potong Tia menebak kata-kata selanjutnya yang akan keluar dari mulut Widya.
"Tidak ada hukumnya menikah dengan ipar. Mana tahu itu hanya perantara jodoh melalui saudara kita ya kan...?"
Tia benar-benar bergeleng kepala mendengar semua ucapan Widya yang sejak dulu tidak berubah sama sekali.
Dengan berterus terangnya Widya seperti ini, Tia seperti menangkap sesuatu yang mencurigakan dari Widya.
"Aku tadi di usir sama mas Wira. Ini semakin membuat ku muak pada istrinya yang sekarang. Dia tidak ingin bicara pada ku, terlihat sekali jika perempuan itu bukan dari kalangan terpelajar!" cerocos Widya yang membuat Tia hanya manggut-manggut. Widya tidak tahu saja jika Mawar dan Tia sudah kenal lama sebagai bos dan karyawan.
"Jangan menilai orang dengan satu kali pandangan saja. Wira tidak mungkin salah dalam memilih istri."
"Tapi, aku berhak mengeluarkan argumen ku sendiri...!"
Widya kekeh dengan semua yang di ucapkan.
"Setiap orang berhak mengeluarkan pendapat mereka. Tapi, kau tidak berhak memberi pendapat dalam rumah tangga orang lain.Apa kau lupa jika kau dulu terlalu banyak ikut campur dalam urusan rumah tangga kakak mu sendiri?"
"Ya aku senang saja jika kak Dania di marahin sama mas Wira!"
"Dan kau masuk sebagai kompor mencari muka pada ipar mu itu kan?"
Jleb,....
Tia yang geram langsung membuat mulut Widya bungkam.
"Oh, aku pergi dulu. Kita lanjut lain hari saja ya. Aku sibuk...!" ujar Widya bergegas pergi untuk menghindari pertanyaan dari Tia.
__ADS_1
Untung saja cafe ini ramai, jika tidak Tia sudah menyumpahi Widya tadi. Panas juga jika mendengar perkataan dari Widya yang mau menang sendiri.
Wira, sudah hampir dua jam pria ini berkutat dengan pekerjaannya di ruang kerja. Lelaki ini di kejutkan dengan notifikasi dari ponselnya.
"Sialan!" umpat Wira, "dari mana dia mendapatkan nomor ku?"
Wira kesal ketika melihat chat dari Widya yang memberitahukan jika itu adalah nomor ponselnya.
"Tidak penting!" seru Wira lalu menghapus chat tersebut secara langsung.
Jika di telisik ke belakang, Widya ini memang menyukai Wira sejak kakaknya berpacaran dengan Wira dulu. Widya sangat suka mencari perhatian Wira. Widya pandai bersilat lidah, memutar balikan fakta. Tak jarang Dania dan Wira saling bertengkar hanya karena hasutan dari perempuan ini.
Sampai saat ini, Wira atau siapapun tidak mengetahui alasan kenapa Widya memutuskan pindah ke Singapore setelah kematian Dania dan sekarang kembali lagi.
"Sudah bagus menghilang, malah muncul bikin naik darah ku saja!" ucap Wira yang sudah tidak bersemangat lagi melanjutkan pekerjaannya.
Wira juga tidak pernah melupakan almarhum Dania. Menikah dengan Mawar bukan karena tidak mencintainya namun Wira laki-laki normal yang butuh sosok perempuan dalam hidupnya.
Wira kembali ke kamar, mendapati Mawar sedang mengajak anaknya bermain. Usia baby Al yang sudah menjalani dua bulan, perkembangannya juga sangat cepat.
"Si gendut ini kerjanya hanya minum susu. Bantu papah dong, jangan mau warisannya aja!" ujar Wira menggoda anaknya yang belum mengerti apa-apa.
"Mas, suka sekali menekan anaknya seperti itu....!"
Prooooot......
Bunyi nyaring sedikit bergetar dengan aroma yang membahana. Wira yang hanya mengenakan celana pendek rumahan merasa jika kulik kakinya hangat.
"Sayang, hangat. Apa dia tidak menggunakan popok?" tanya Wira dengan wajah tegang.
"Tidak mas, aku sengaja melepasnya karena sebentar lagi Al akan mandi."
Wira mengintip, matanya langsung terpejam wajahnya mendongak ke atas.
"Kenapa Al pup di tempat yang tidak tepat?"
Wira memerintahkan Mawar untuk membersihkan anaknya. Sungguh, sedikit harta karun berwarna kuning menempel di kaki Wira dengan bau yang sangat sedap.
"Itu hukuman buat kamu mas. Kamu suka sekali menindas anak mu!" kata Mawar sambil membersihkan anaknya.
"Tapi gak gini juga dong, kualat kamu Al. Masa papah yang udah mencetak kamu malah kamu beri tohi seperti ini...!"
__ADS_1
Mawar sudah tidak bisa menahan tawanya lagi. Setiap hari ada-ada saja yang membuat Mawar tertawa. Mawar langsung memandikan anaknya, begitu juga dengan Wira yang langsung pergi mandi.
"Mas, tolong jagain Al. Aku mau mandi dulu...!" pinta Mawar pada suaminya.
"Em, yang cepat....!" seru Wira.
Melihat sang istri sudah masuk ke kamar mandi. Wira langsung menggendong anaknya.
"Nakal kamu ya, masa iya papah kamu beri tohi tadi...!"
Ngek,...ngek,....
Al hanya merengek tertawa.
"Wah, sudah pandai tertawa sekarang. Siapa yang ngajarin kamu?"
Wira ingin sekali menggigit pipi gembul anaknya.
(gambar hanya pemanis)
"Sekarang kita telpon oma, pasti oma sedang ngamuk sekarang!" ujar Wira yang ingin melakukan panggilan video bersama mamahnya.
Bukannya apa, sejak pagi Wira sengaja tidak mengangkat telpon mamahnya. Menelpon ke Mawar juga tidak di angkat karena Mawar tidak begitu peduli dengan ponselnya.
Benar sajakan, Asti langsung mengomeli anak lelaki yang sangat suka mengerjai dirinya.
Mawar yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya bisa melihat dan mendengar jika mertuanya itu sedang mengomel.
"Kamu tuh loh mas, suka sekali seperti itu. Pantesan aja mamah gak betah di rumah. Setiap hari kamu kerjain terus!" gerutu Mawar.
"Balas dendam sayang, dulu mamah hampir setiap hari membuat ku tidak betah di rumah. Yang di tanya kapan nikah, kapan nikah?"
"Kamu aja yang kelewatan!"
"Lah, kok kamu yang marah?"
"Ya habisnya mas Wira menyebalkan. Pantesan aja anak mu suka mengerjai kita. Semua tertular dari kamu!"
Mawar kesal.
__ADS_1
"Gak apa dong tertular dari mas, asal jangan dari suami tetangga saja!"
Sudahlah, Mawar tidak ingin menggubris lagi. Semakin di gubris akan semakin panjang lebar larinya nanti.