
"Dari mana kau mendapatkan mobil sebagus ini hah?" tanya Yunita dengan mata jelalatan mengusap mobil yang baru saja di bawa anaknya pulang.
"Ini fasilitas kerja ku. Mulai sekarang aku akan bekerja di salah satu perusahaan. Mamah tenang aja, mulai sekarang kita tidak akan kekurangan uang lagi," ucap Farah dengan sombongnya.
Yunita girang, tidak lupa wanita ini memuji kehebatan anak tunggalnya ini. Yunita juga tidak peduli anaknya menghasilkan uang dari mana yang penting baginya ada uang setiap hari.
Silla, wanita ini juga sibuk mengatur acara peresmian untuk nanti malam. Tidak lupa Silla mengundang Wira dan beberapa rekan bisnis yang sudah lama dia kenal.
Tidak mau istrinya di pandang rendah, Wira sengaja mengantar Mawar ke salon ternama yang ada di kota mereka. Lelaki ini juga membelikan gaun satu set dengan heels dan juga perhiasan. Awalnya Mawar protes ketika suaminya membeli satu set perhiasan mahal namun apa lah daya Wira tidak menerima kata protes.
"Kau sangat cantik malam ini sayang. Mas bangga jadi suami kamu." Wira memuji istrinya.
"Mas, ini sangat berlebihan. Aku malu!"
"Kenapa harus malu? kau sangat cantik, untung aja kita mau pergi, kalau gak udah mas makan kamu!"
Mawar membuang nafas kasar, melirik tajam ke arah suaminya.
"Suka sekali seperti itu...!"
Wira hanya tertawa kecil, pria ini kembali fokus pada kemudinya menuju tempat acara perjamuan malam ini. Untuk yang pertama kalinya Mawar mendampingi Wira dalam acara seperti ini.
Setibanya di sana, Wira langsung menggandeng tangan istrinya dengan perasaan bangga. Mawar sangat cantik malam ini, gaun selutut berwarna biru dongker membalut kulit putihnya.
Perut yang sedikit membuncit tidak mengurangi kecantikan Mawar. Di tambah lagi rambut panjangnya sengaja di biarkan tergerai ikal.
Kalung dan gelang berlian menambah mahal apa yang di kenakan Mawar malam. Semua mata tertuju pada Wira dan Mawar ketika mereka masuk kedalam ruangan.
Mereka sangat serasi, semua orang memuji Wira dan Mawar hingga membuat hati Silla panas menahan rasa cemburu.
Bukan hanya Silla, ternyata di sana ada Farah yang datang bersama Bambang. Pada awalnya Wira kaget melihat Farah, namun pria ini tidak peduli.
"Hai Wira, apa kabar?" sapa Bambang menghampiri Wira dan Mawar. Mata genit Bambang berkedip sebelah ketika melihat Mawar.
__ADS_1
"Kalau mau bertanya kabar, yang wajar saja pak Bambang. Jangan coba-coba menggoda istri ku dengan mata keriput mu itu," tegur Wira membuat Bambang tertawa.
"Aku hanya bercanda!" seru Bambang, "oh ya,...mantan sekretaris mu sekarang sudah menjadi sekretaris ku. Kenapa kau memecatnya?"
Wira hanya melirik Farah yang terlihat sombong dan angkuh seolah tak mengenalinya.
"Seharusnya anda bertanya pada sekretaris anda. Bukan pada saya!" sahut Wira lalu mengajak Mawar mencari meja yang kosong.
Geram sekali, ingin rasanya Farah menyerang Mawar yang terlihat sangat polos itu.
"Om bisa lihat sendiri bagaimana sombongnya Wira," adu Farah.
"Dia memang sombong dari dulu. Sejak papahnya masih hidup!" sahut Bambang acuh.
Kembali ke pesta, Silla menyapa satu persatu para tamu undangannya malam ini. Semua orang yang datang pasti menggandeng pasangan lawan jenis dan hanya dirinya yang bergandeng dengan Desi.
Sejak tadi Silla kaki Silla sudah kegagalan untuk menghampiri meja Wira.
"Des, apa aku masih cantik?" tanya Silla pada Desi.
"Gaun ku, apa aku sudah terlihat sempurna?"
"Sangat sempurna, kau ratunya malam ini," ujar Desi semakin membuat Silla percaya diri.
"Kau sapa tamu lainnya bersama papah, aku akan menyapa Wira!" titah Silla lalu melangkah menuju meja Wira.
Senyum Silla melebar, apa lagi dia berjalan terus memandang wajah tampan Wira. Wira yang mengetahui jika Silla akan datang kemejanya hanya memasang wajah dingin.
"Mas ada apa?" tanya Mawar heran ketika suaminya meraih tangan Mawar dan menggenggamnya erat.
"Nanti kamu di gondol mata keranjang yang ada di sini. Semua lelaki di ruangan ini bajingan!" bisik Wira.
"Termasuk mas Wira dong!" seru Mawar semakin membuat wajah Wira dingin.
__ADS_1
Melihat kehadiran Silla, Mawar langsung paham.
"Hai Wira,...!" sapa Silla pura-pura tidak melihat Mawar.
"Oh, hai. Selamat atas cabangnya!" balas Wira.
Tanpa memiliki rasa malu Silla langsung mengulurkan tangannya pada Wira. Wira hanya melirik lalu menoleh ke arah istrinya.
"Maaf, aku tidak bisa membalas uluran tangan mu. Tangan ku sudah di kunci dengan istri ku!" ujar Wira lalu mengangkat tanganya dan tangan Mawar.
Mata Silla terbelalak, tapi dengan cepat wanita itu langsung menarik tanganya dan memasang senyumnya.
"Oh, tidak apa-apa. Aku mengerti, nikmati acaranya!" kata Silla yang sudah tidak tahan lagi, "kalau begitu, aku menyapa tamu yang lain dulu ya."
Melihat wajah kesal Silla, ingin rasanya Wira tertawa keras. Mawar hanya bisa bergeleng kepala melihat tingkah suaminya.
"Mas, lelaki itu biasanya kalau di kejar perempuan cantik langsung gas. Kenapa mas Wira gak mau?"
"Sayang, tidak semua laki-laki seperti itu. Tapi, kalau yang seperti itu sudah pasti laki-laki. Kau harus ingat kata-kata suami mu ini, hati itu kalau sudah jatuh pada tempat yang tepat, maka dia akan setia menetap."
"Mas, aku mekar loh. Eh, kelopak ku mekar loh mendengar kata-kata mas," ujar Mawar yang benar-benar meleleh dengan ucapan suaminya.
"Mas jadi gemas, ayo kita pulang. Mas ingin main kuda-kudaan," bisik Wira langsung mendapatkan serangan mendadak dari istrinya. Apa lagi kalau bukan cubitan kecil di lengan Wira.
"Mas, malu ah kalau ada yang dengar!"
Menggelikan, sejak tadi Silla dan Farah yang memperhatikan kemesraan Wira dan Mawar ingin muntah. Empat tahun menunggu si duda yang biasanya terkenal sangat dingin dan acuh, tapi kenapa sekarang Farah harus menyaksikan drama rumah tangganya yang begitu menggelikan.
Wira dan Mawar benar-benar pulang, lebih parah lagi mereka pulang tanpa pamit pada Silla membuat wanita itu merasa terhina.
"Saingan mu berat, sepertinya dia sangat mencintai istrinya," kata Desi semakin menyulut bara panas di hati Silla.
"Yang pacaran bisa putus, yang menikah bisa bercerai. Hanya seorang perempuan kampungan, itu akan sangat mudah bagi untuk menyingkirkannya!"
__ADS_1
Silla berkata dengan bangganya, seolah dirinya memiliki kekuatan untuk merebut Wira dari Mawar. Perempuan mana yang tidak tertarik pada Wira, lelaki tampan bergelar duda tanpa anak dan yang lebih membuat semua perempuan mengejarnya karena Wira anak tunggal kaya raya. Desas desus juga mengatakan jika mamah Wira terkenal baik dan ramah.
Sedangkan Farah sedikit tidak peduli, meskipun dirinya tidak bisa mendapatkan Wira setidaknya sekarang dia bisa bernafas lega karena hidupnya sekarang sudah di jamin oleh Bambang.