Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Chapter 90


__ADS_3

"Kenapa kau tiba-tiba mengajak ku tempat seperti ini?" tanya Farah menyelidik.


"Kenapa memangnya, apa tidak boleh mengajak istri pergi ke tempat romantis seperti ini?" Joni bertanya balik.


"Sejak kapan kau bisa berlaku romantis pada ku hah? yang ada kau selalu mengejek dan mengerjai ku!"


"Itu semua aku lakukan karena aku memang sudah menyukai mu sejak dulu!" ucap Joni dengan sorot mata serius tapi malah membuat Farah tertawa geli mendengarnya.


"Joni,...Joni...Kalau kau benar menyukai ku sejak dulu kenapa kau rela aku mencarikan sugar daddy dan menjual ku hah?"


"Karena kau yang minta!" jawab Joni singkat.


"Tapi kau kaya. Rasanya aneh saja menurut ku dengan pernyataan mu ini."


"Aku serius menyukai mu tapi aku tidak bisa mengekspresikannya. Jadi, aku memilih mengikuti semua permintaan mu pada saat itu."


"Bajingan satu ini, ini kah alasan mu yang tiba-tiba menikahi ku secara paksa?"


"Lalu aku harus apa?" tanya Joni bingung, "kau tahu sendiri jika aku tidak pernah mengungkapkan perasaan ku pada siapa pun."


"Menyatakan cinta tidak bisa tapi kau sudah tidur dengan banyak Wanita. Dasar munafik!"


"Itu semua aku lakukan untuk membuang rasa cemburu ku pada mu. Kau menunggu Wira selama empat tahun, tapi aku menunggu mu sejak kita sekolah dulu. Di posisi seperti ini aku yang jauh lebih tersiksa," tutur Joni membuat Farah terdiam sejenak.


"Kau tahu, pada masanya aku selalu memandang Wira sebagai lelaki yang paling sempurna. Hati ku terus berkata untuk menunggunya di tambah lagi tekanan dari almarhum mamah ku. Joni, kau tahu itu kan?"


"Ya, aku tahu itu. Tapi kenapa kau tidak pernah sekali pun melihat kesetiaan ku yang selalu ada untuk mu hah? kau pikir di balik persahabatan antara wanita dan pria ada yang tulus?"


"Puitis sekali kata-kata mu. Kau saja yang bodoh tidak pernah mau mencoba mengungkapkan perasaan mu!"


"Kau jauh lebih bodoh. Jika kau mengungkapkan perasaan ku sedangkan kau berada di posisi sedang menunggu pria lain, kau pasti akan menjauhi ku. Aku paham betul sifat mu itu."


"Sudahlah, jangan di bahas. Jadi, apa sekarang kau mencintai ku?" tanya Farah memastikan.


"Perempuan yang satu ini memang bodoh. Sudah ku bilang sejak dulu aku mencintai mu, masih saja bertanya balik."


Wajah Farah mendadak merona malu, apa lagi jika di lihat dari sorot matanya Joni pasti serius dengan ucapannya.

__ADS_1


"Apa kau menyukai ku?" tanya Joni, "aku tidak memaksa mu untuk mencintai ku, cukup menyukai ku saja aku sudah merasa bahagia."


"Menurut mu, yang kita lakukan setiap malam itu apa?"


"Kali saja hanya sebuah pelampiasan nafsu!"


"Si bodoh ini,...!" Farah kesal.


"Kalau kau memang serius dengan pernikahan ini, berikan aku anak!" pinta Joni kembali serius dengan ucapannya.


"Aku tidak bisa berjanji memberi mu anak. Semua itu adalah rezeki yang sudah di atur. Tapi, aku akan berusaha memenuhi permintaan mu agar kau yakin jika aku serius dengan pernikahan ini. Umur kita sudah segini, sudah waktunya kita berhenti bermain-main. Joni, mari kita bentuk keluarga bahagia."


Entahlah, ada perasaan yang menggebu di hati keduanya. Mereka saling menatap bicara lewat mata.


"Untuk mu,...!" kata Joni yang tiba-tiba mengeluarkan kotak berbentuk hati.


Farah menoleh ke arah benda tersebut, hatinya begitu tersentuh. Seumur hidup baru sekarang ada pria yang tulus memberinya hadiah.


Joni membuka kotak tersebut, sebuah cincin berlian nampak indah berkilauan.


"Heh, dulu aku mengharapkan pemberian benda ini dari Wira. Tapi malah laki-laki lain yang memberikannya dengan tulus," batin Farah terus bergumam.


"Terimakasih," ucap Farah dengan suara bergetar.


"Jika kau serius maka aku akan jauh lebih serius. Masa lalu biarkan saja berada di tempatnya, yang terpenting sekarang masa depan kita."


"Joni,...bajingan ini bisa juga membuat ku merasa sedih seperti ini," ucap Farah yang sudah tidak tahan dengan air matanya.


Joni berdiri dari duduknya lalu memeluk sang istri yang sedang menangis.


"Sudahlah, jangan menangis. Aku tidak suka melihat mu menangis."


"Tapi kau membuat ku sedih malam ini."


"Kalau begitu, kurangi menyebut nama ku dan memanggil ku si brengsek atau bajingan. Aku suami mu, bukan teman apa lagi musuh mu!"


"Lalu aku harus memanggil mu apa?"

__ADS_1


"Terserah kau, yang penting itu terdengar nyaman!"


"Em, baiklah kalau begitu suamiku!" ucap Farah malu-malu.


"Eh, coba ulangi lagi...!"


Farah mendorong Joni, wanita ini kembali merona malu.


"Apa sih, gak ada kata ulangi....!"


"Cepat atau ku mangsa di sini kau!" ancam Joni.


"Em,....s-suamiku.....!" Farah mengulangi.


Panggilan Farah terdengar manis sekali di telinga Joni, pria ini langsung mencium bibir istrinya dengan penuh rasa cinta. Untuk beberapa saat mereka saling memagut, bercumbu mesra penuh cinta. Setelah itu baru lah Joni dan Farah melanjutkan makan malam mereka yang sempat tertunda dengan obrolan panjang.


Keduanya nampak bahagia, saling bercanda tentang langkah selanjutnya. Farah dan Joni sudah sepakat mengubur masa lalu mereka.


Farah menatap Joni yang sedang makan dengan lahapnya.


"Terkadang apa yang aku harapkan tidak sesuai dengan yang berjalan. Aku pernah menunggu seseorang tapi ternyata ada orang lain yang menunggu ku. Kebodohan macam apa ini," gumam Farah dalam hati.


"Heh, ada apa?" tanya Joni membuyarkan lamunan istrinya.


"Tidak ada, hanya memikirkan nasib Wiwi saja," ujar Farah berbohong.


"Memangnya dia kenapa?"


"Menurut mu, apa kakak mu akan mencerai Wiwi?"


"Sepertinya tidak, kakak ku itu bujang tua. Banyak perempuan yang mengejar dia tapi Jonas lebih fokus pada pekerjaannya. Aku yakin jika dia dan Wiwi akan terus bersama."


"Tapi mereka menikah secara agama. Wiwi sudah tidak memiliki tempat untuk mengadu sama seperti ku, aku hanya takut jika kakak mu menyakiti dia."


"Percaya pada ku. Nanti aku akan bicara dengan kakak ku."


Padahal sejak tadi Farah tidak ada memikirkan nasib temannya itu. Entah kenapa Farah juga menginginkan jika Wiwi memiliki seseorang yang mau menerima dia apa adanya. Luka Wiwi jauh lebih dalam dari apa yang di Rasakan Farah, ayah dan ibu tirinya tega menjual Wiwi kepada mami Ger hanya untuk membiayai pendidikan adin tirinya.

__ADS_1


Selesai makan malam Joni dan Farah menikmati sebentar pemandangan malam ini. Memutari jalan yang lumayan ramai di akhir pekan seperti ini setelah itu barulah mereka pulang. Saking bahagianya Farah, wanita ini terus memandang cincin pemberian Joni.


__ADS_2