
Seminggu, dua minggu, tiga minggu memasuki minggu keempat Wira sudah tidak tahan lagi. Lelaki nampak gelisah seperti cacing kepanasan.
Sudah berapa hari ini Mawar merasa heran dengan sikap gelisah suaminya jika malam tiba. Wira terlihat seperti orang yang ingin marah namun bingung penyebabnya apa.
Cuek saja, apa lagi Mawar lebih senang mengurus anaknya sekarang yang di usia empat minggu ini memiliki perkembangan yang sangat baik.
Seperti malam ini, Mawar yang baru saja menidurkan anaknya langsung menghampiri suaminya yang sedang duduk sambil menonton televisi dengan wajah suram dan murung.
"Mas,...!" tegur Mawar.
"Hmm, ada apa?" tanya Wira dengan suara lemas.
"Mas ada masalah pekerjaan kah?" tanya Mawar dengan polosnya langsung membuat mata Wira mendelik tajam.
"Tidak ada!" jawabnya singkat membuat Mawar heran.
"Jika tidak ada, kenapa sikap mas seperti ini?"
Wira langsung merebahkan kepalanya di pangkuan sang istri.
"Mas kangen sama kamu. Kapan dong kita bisa wik-wik lagi?"
Huft,....
seketika itu juga Mawar paham dengan sikap suaminya ini.
"Belum selesai mas, sabar dong!"
"Sabar terus ah!" seru Wira lalu menarik tangan istrinya untuk menyentuh pedang miliknya, "coba rasakan pisang mas sekarang layu, meleyot dan bubut di pupuk. Apa kamu gak kasihan?"
"Ya mau bagaimana lagi mas? aku harus apa sekarang?"
Wira hanya diam, lelaki ini membuka baju istrinya sedikit untuk melihat bekas jahitan operasi saat melahirkan kemarin.
"Apa ini sakit?" tanya Wira mengusap perut Mawar.
"Gak sakit. Kan operasi mahal mas!"
"Ya mahal dong, biar mas gak susah nantinya."
"Lah kenapa memangnya?" tanya Mawar bingung.
"Mas ada baca-baca di grup ibu-ibu, mereka ada yang sampai tiga bulan empat bulan tidak mau melayani suaminya karena takut sobek lagi."
__ADS_1
"Ya ampun mas, sejak kapan mas masuk di grup ibu-ibu hah?"
"Ya gak tahu. Mas penasaran aja, eh mas baca malah bikin galau sekarang!"
"Gak usah baca gituan ah. Kita kita konsultasi aja sama Dokter," ujar Mawar menyarankan.
"Sayang, Mawar ku, bunga hati ku. Setelah ini kamu stop aja dulu, jangan hamil. Nanti saja, setelah Al masuk sekolah SD baru kamu hamil lagi. Mas ingin pacaran sama kamu iiih....!"
"Ngomong apa sih mas? anak itu kan rezeki, kenapa di tolak?"
"Gak nolak, hanya menunda. Lagian kita nikah juga belum ada dua tahun. Syukurnya langsung di beri anak. Jadi, mas hanya ingin menghabiskan waktu bersama kamu gitu loh. Lagian mas gak ingin kamu kelelahan jika harus mengurus dua anak sekaligus."
"Terserah kamu aja lah mas. Aku sih nurut aja!"
"Ya memang harus nurut, mas kan suami mu!"
"Mas geli...!"
Mawar mencubit tangan suaminya yang sejak tadi meraba-raba kedalam baju Mawar.
"Asi mu masih deras keluarnya?" tanya Wira yang tiba-tiba saja khawatir karena tak jarang Mawar bisa mengeluarkan asi.
"Ya begitu lah mas, sebagai seorang ibu aku merasa bersalah karena tidak bisa memberikan Al asi sepenuhnya. Tapi, mau bagaimana lagi. Semua sudah jalannya."
"Iya, asal jangan nonjokin tembok lagi...!" ujar Mawar yang masih ingat betul kejadian di rumah sakit.
"Udah ah, gak usah di bahas. Ayo tidur, kamu pasti capek!"
Wira mengendong istrinya menuju tempat tidur.
Meskipun sudah memiliki anak, namun perlakuan Wira tidak pernah berubah. Memperlakukan istri bak ratu di rumah, bahkan Wira tidak ingin melihat Mawar mengerjakan pekerjaan rumah dalam bentuk apa pun. Pernah kehilangan orang yang dia cinta dan sayangi, membuat Wira selalu memperlakukan Mawar layaknya ratu.
Baru juga setengah jam tidur, Wira terbangun ketika mendengar tangisan anaknya. Pria ini tidak tega membangunkan Mawar, jadilah dirinya yang harus mengurusnya.
"Uh, jagoan papah haus ya...?" Wira membuatkan anaknya susu formula karena hari ini asi Mawar tidak keluar sama sekali.
Dengan telaten Wira menggendong anaknya, memberikan sebotol susu pada anaknya yang kehausan.
"Kalau haus atau lapar itu ngomong jangan nangis. Uh, gemas deh papah!"
Ingin sekali Wira mencubit pipi gembul anaknya.
"Kalau udah besar, cari istri seperti mamah kamu. Polosnya kelewatan, gampang banget buat di kerjain..!"
__ADS_1
Wira mengajak anaknya mengobrol.
"Kamu gak usah sok tampan, jangan coba-coba rebut perhatian mamah kamu dari papah. Gak papah kasih warisan nanti, mau?"
Sudah gila Wira ini, anaknya yang belum mengerti tentang kerasnya hidup sudah di ancamnya duluan.
Cukup lama baby Al terbangun, setelah habis satu botol barulah baby Al kembali tidur. Wira kembali meletakkan sang anak di box bayi yang berada di samping istrinya.
Mawar yang sangat kelelahan benar-benar hanyut dalam tidurnya. Sebelum kembali tidur, Wira mencium anak dan istrinya terlebih dahulu.
"Obat malam, semoga mimpi indah istri dan anak ku!" ucap Wira yang sudah memeluk istrinya dari belakang.
Tunggu sebentar, Wira tidak jadi memejamkan mata. Ada satu pertanyaan yang tiba-tiba muncul di otaknya.
"Memangnya anak bayi memiliki mimpi?"
Begitulah pertanyaan yang tiba-tiba muncul.
"Tidak tahu, besok aku akan bertanya pada Al...!" ujar Wira lalu memejamkan matanya.
Malam semakin larut, biasanya Al akan bangun dua kali dalam semalam. Wira selalu memasang kupingnya jika sewaktu-waktu sang anak bangun karena tidak ingin mengganggu tidur istri. Terkadang Mawar bangun ketika sang anak sudah kembali tertidur.
Malam telah berganti pagi, sampai hari ini Asti lah yang memandikan baby Al karena Mawar masih belum berani.
"Mas udah siapin air hangat buat kamu. Mandi dulu sana," ujar Wira memberitahu istrinya.
"Iya mas, terimakasih," ucap Mawar.
Mereka mandi bergantian, ketika sudah rapi seperti biasa mereka sarapan bersama.
"Mas ada pekerjaan hari ini, sama mamah ya di rumah!" ucap Wira memberitahu istrinya.
"Iya mas,...!"
Sampai sekarang, Wira belum aktif lagi pergi ke kantor. Untung saja ada Dimas yang begitu gesit dalam mengerjakan semua pekerjaan di kantor.
"Wira itu loh, sejak nikah sama kamu dia banyak berubah. Dulu aja gak mau nikah, ampe pusing sendiri mamah mikirnya," kata Asti yang geram sendiri jika ingat masa dulu.
"Mas Wira laki-laki yang baik mah. Setiap hari dia tidak kehabisan ide untuk menghibur kita meskipun terkadang candaannya sangat mesum."
"Ya gak heran sih. Papahnya dulu juga begitu, semoga Al gak seperti papah dan kakeknya. Haduuuh, bisa pusing mamah!" ujar Asti yang sudah bosan.
"Iya mah, semoga aja Al gak seperti papahnya!" sahut Mawar.
__ADS_1
Makanya, sejak Wira menikah Asti lebih senang pergi keluar kota untuk mengurus kakaknya yang sakit. Bukan tidak sayang anak menantu, tapi jika menghadapi Wira dia bisa gila lama-lama. Semua sifat dan sikap dari almarhum suaminya terwaris semua kepada Wira hingga membuat Asti pusing sendiri.