
Segar sekali wajah Wira pagi ini. Senyum lebarnya terus mengembang membuat Asti geli melihatnya. Bahkan selesai sarapan saja dengan cepat Wira bisa menyelesaikan semua pekerjaan yang ia kerjakan dari rumah.
Terus bersiul, bersenandung kecil penuh kebahagiaan. Asti ingin bertanya pada Mawar tapi menantunya itu belum turun lagi setelah sarapan.
"Wira,....!" panggil Asti, "mau kemana kamu?"
"Ya mau ke kamar. Kenapa mah?" Wira bertanya balik.
"Sejak pagi mamah perhatikan kamu tersenyum-senyum sendiri. Awas kamu kalau macam-macam di belakang Mawar. Mamah sendiri yang akan menendang mu keluar!"
"Lah, siapa yang macam-macam di belakang Mawar. Mamah ini kalau gak tahu masalahnya gak usah menuduh ku. Enak aja main tuduh sembarangan!"
"Awas kamu...!" Asti menunjuk wajah anaknya.
Wira bergeleng kepala, melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga.
"Bilang sama Al kalau mamah pergi sebentar loh!" ucap Asti sedikit berteriak.
"Iya,....!" sahut Wira yang sudah berada di lantai dua.
Di banding pergi ke kantor, Wira lebih senang berada di rumah. Bermain dengan kedua anaknya.
"Sayang,....!"
"Hmmm,....!"
"Nginep di hotel yuk!" ajak Wira langsung di tolak Mawar.
"Kamu ini gak mikir anak. Mau di ambil memangnya sendiri."
"Perasaan selama ini aku selalu mengalah. Berbulan-bulan tidak menggenjot sekali main cuma empat ronde ya kurang lah. Kasihanilah suami mu ini." Wira kembali merengek.
"Mas, kamu gak malu ya di dengar anak-anak mu ini?"
Wira menoleh ke arah Al yang asyik memainkan mobil remotnya sedangkan Ar baru saja tidur.
"Sekarang apa-apa alasannya anak. Menyebalkan!"
"Dasar sableng, kalau gak anak ya siapa? suami tetangga?"
Wira langsung melirik tajam.
"Kalau kamu sama suami tetangga, mas sama istri tetangga dong!" celetuk Wira membuat anak laki-lakinya marah dan melempar kepala papahnya dengan remot mainan.
Wira langsung mengusap kepalanya, ia tidak bisa marah karena ini perbuatan anaknya sendiri.
"Al, siapa yang ngajarin kamu seperti ini hah?" suara Wira sedikit tinggi, membuat Al takut dan langsung berlari ke dalam pelukan mamahnya.
"Salah sendiri, kalau ngomong gak di saring lagi. Itu tandanya anak kamu gak suka!"
__ADS_1
"Belain terus, manusia di rumah ini semuanya sama saja!"
Wira yang kesal lebih memilih berbaring di samping anak perempuannya. Sejenak memandangi wajah baby Ar. Entah kenapa tiba-tiba saja Wira merasakan sebuah kerinduan.
"Sebenarnya aku ini ayah dari tiga orang anak. Apa mungkin anak pertama ku wajahnya sama seperti Ar?" batin Wira penuh tanda tanya. Wira tidak ingin mengungkapkannya karena takut menyinggung Perasaan sang istri.
"Mas, kok melamun?" tegur Mawar membuyarkan lamunan Wira.
"Eh, gak melamun kok. Cuma lagi mengkhayalkan malam ini saja!" bohong Wira.
"Memangnya malam ini ada apa?" tanya Mawar penasaran.
"Mas mau buat ranjang bergoyang dan berantakan. Mas akan buat kamu gak bisa jalan besok!"
"Gak bisa jalan ya ngesot. Gitu aja kok repot!"
"Bener loh ya...!"
"Terus, kalau mamah tanya aku kenapa, aku harus jawab apa?"
"Bilang aja habis membuka lahan!" jawab Wira lalu tertawa sendiri.
"Kamu ini, gak ada yang lain aja pembahasannya selain begituan!"
"Lumrah, namanya juga suami istri. Dari pada bahas orang lain lebih bagus bahas dunia kamar kita."
Ada-ada saja jawaban Wira ini, setiap ucapan Mawar pasti bisa di jawabnya.
Tidak mau menanggapi, Mawar yang penurut langsung melakukan apa yang di perintahkan oleh suaminya.
Beda lagi dengan Joni, meskipun sudah genap empat puluh hari setelah Farah melahirkan, pria ini takut sendiri untuk melakukan hubungan suami istri.
Padahal baru beberapa hari yang lalu Joni mengeluh butuh pelepasan.
"Aku masih penasaran," ujar Joni dengan wajah bingung.
"Penasaran kenapa?" tanya Farah ikut penasaran.
"Itu loh, anu...saat kau melahirkan aku melihat dengan jelas ini kepala Vio keluar dari siput Afrika mu. Apa masih sakit sampai sekarang?" tanya Joni membuat Farah tertawa geli.
"Tidak, kenapa memangnya?"
"Sudah lewat dari empat puluh hari, katanya kan para suami harus tahan dengan waktu segitu. Tapi kok aku nyeri sendiri ya...!"
Joni masih terbayang-bayang saat kepala anaknya keluar dari jalan lahir.
"Terus, kau mau bagaimana?"
"Ya gak tahu, tapi aku sangat takut jika kau merasakan sakit nantinya."
__ADS_1
"Halah, dulu saja kau yang paling rakus. Kok sekarang lemah!" cibir Farah.
"Karena kau tidak melihat seperti apa ini kepala Vio keluar. Mengerikan!"
"Dan kau tidak bisa merasakan sakitnya. Aneh saja, cuma lihat aja kau sudah kena mental, apa lagi kau yang melahirkan."
"Nanti aku coba masukan satu jari ya, kalau gak sakit kita lanjut kalau kamu merasa sakit ya gak usah!"
Farah hanya bisa menertawakan kepolosan suaminya. Pria yang dulu suka celup sana sini ternyata bisa takut juga.
Farah menceritakan semuanya pada Wiwi, kemudian Wiwi menceritakan lagi pada Jonas. Joni langsung mendapatkan telpon dari kakaknya, Jonas terus meledek adiknya.
Semakin kesal Joni, bisa-bisanya Farah mempermalukan dirinya seperti ini.
"Dasar keong sawah, hal seperti ini bisa-bisanya kau umbar pada orang lain."
"Aku sengaja, biar Jonas memberitahu mu. Dia kan lebih berpengalaman dari mu!"
"Tapi gak gini juga, aku malu!"
"Gitu aja kok malu!" seru Farah kembali mengejek.
"Ya malu lah, aku laki-laki dewasa. Masa iya mau bercocok tanam saja harus meminta pengalaman pada orang lain?"
"Ah, terserah kau. Aku mau tidur, ngantuk!"
"Dasar kue gapit gosong!" ejek Joni.
"Cangkul berkarat, terong bengkok, batang tua!" balas Farah.
"Heh, aku hanya mengatai mu satu kali tapi kau mengatai ku tiga kali. Dasar perempuan, mau menang sendiri."
"Di rumah ini aku ratunya, kalau pun kau dan Vio benar, aku jauh lebih benar!"
"Gila, entah kenapa aku bisa berjodoh dengan perempuan gila seperti mu?"
"Kau sama gilanya, lebih gila dari aku!"
"Terserah kau mau bilang apa. Jangan lupa di cukur ya, biar aku gak nyasar nanti...!" gurau Joni.
"Punya mu juga di cukur, ku lihat lebatnya sudah seperti hutan saja. Kalau ada kutunya bagaimana?"
"Heh, mulut mu ini. Aku pembersih, biar lebat begini setiap hari selalu ku keramas!"
"Banyak omong, terserah kau!"
Farah yang sudah lelah langsung menutup telinga. Jika ia terus menanggapi Joni, kapan ia akan tidurnya sedangkan tadi malam saja Vio agak rewel tak mau tidur.
"Mamah Vio,...!" Joni memanggil istrinya tapi tidak di tanggapi, "lah, udah ngorok aja. Anak dan mamah saja!",
__ADS_1
Joni mulai bingung ingin melakukan apa, ia lebih senang jika beradu mulut dengan istrinya.