Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Chapter 41


__ADS_3

"Maaf pak, pihak mereka meminta kita untuk menarik brand dan mode yang ada di pasaran," ujar Dimas memberitahu Wira.


"Kenapa harus di tarik? itu murni milik perusahaan kita. Jadi, kenapa kita harus takut?"


"Apa yang harus kita lakukan sekarang pak?"


"Apa yang ku minta kemarin sudah kau siapkan?" Wira bertanya balik.


"Sudah pak!"


"Tuntut balik mereka dengan atas tuduhan pencemaran nama balik. Aku ingin melihat sampai ke mana mereka ingin menjelekan perusahan ini," titah Wira yang masih menganggap santai masalahnya.


Belum juga selesai masalah tentang brand dan mode yang di klaim perusahaan Bambang. Seorang karyawan Wira masuk ke dalam ruangannya dengan wajah panik.


"Ada apa?" tanya Wira.


"Maaf pak, salah satu desainer kita di tuduh melakukan penciplakkan atas rancangan yang dia buat."


"Rancangan yang mana?" tanya Wira masih tetap santai.


"mode pakaian anak-anak yang baru kita keluarkan satu minggu yang lalu."


Wira menghembuskan nafas kasar, pria ini tidak menyangka jika Farah bukan wanita yang mudah di ancam.


"Apa mereka memiliki bukti?" tanya Wira masih penasaran.


Karyawan tersebut menunjukan beberapa bukti palsu kepada Wira.


"Kembali bekerja seperti biasa. Dalam waktu dua hari masalah ini akan segera selesai," ujar Wira membuat Dimas dan karyawan perempuan itu saling pandang tidak percaya.


Wira menelpon Bayu, meminta pria itu untuk datang ke kantornya segera. Bayu yang mengerti jika Wira dalam masalah langsung pergi ke kantor Wira.


"Sepertinya Bambang berjamur itu masih ada dendam pada keluarga mu," ujar Bayu ikutan kesal.


"Bukan pada ku, tapi almarhum papah ku.Kau tahu sendiri mereka tidak pernah akur dalam masalah bisnis."


"Ya, setiap kali si Bambang berjamur itu ingin menjatuhkan papah mu tapi malah dia sendiri yang jatuh. Jadi, apa yang harus aku bantu sekarang?"


Wira pun meminta pada Bayu untuk melakukan sesuatu untuknya. Dengan senang hati Bayu mengiyakan permintaan Wira.


"Kau yakin ini akan berhasil?" Bayu bertanya seolah tidak yakin dengan langkah yang di ambil Wira.


"Aku sangat yakin, sekali bergerak kita bisa menjatuhkan dua orang sekali gus!"


"Terserah kau. Asal jangan kau sebut saja nama ku dalam masalah mu ini,"


"Tenang saja, nanti aku akan memberi mu hadiah!"

__ADS_1


Wajah Bayu langsung cerah ketika mendengar kata hadiah.


"Hadiah apa itu?" tanyanya penasaran.


"Akan ku carikan kau istri baru yang pandai menggoyang!" jawab Wira lalu tertawa terbahak-bahak.


Bayu langsung mengumpat kesal, sejak menikah apa pun yang pembahasan yang di bahas Wira pasti ujung-ujungnya mengarah ke hal tabu.


Sementara itu, Farah saat ini sedang berada di atas angin ketika Bambang memberikan bonus yang sangat besar pada wanita ini. Sebagai seorang Sekretaris yang merangkap sebagai selingkuhan pemuas nafsu Bambang, Farah tidak pernah menyesal kenal dengan lelaki paruh baya ini.


"Om, kalau kasus yang kita buat ini menang. Jangan lupa hadiah liburannya ya om."


Duduk di atas pangkuan Bambang, tangan keriput pria tua itu terus menggerayangi tubuh seksi milik Farah.


"Kau tenang saja, jika aku berhasil menyingkirkan Wira, kau bebas memilih mau liburan kemana pun yang kau mau!"


"Oh om,...aku sangat senang sekali hari ini. Terimakasih atas bonusnya!"


"Kalau begitu, mari puaskan aku sekarang!" ujar Bambang dengan tenaga tuanya menggendong Farah menuju tempat tidur pribadi yang ada di dalam ruang kerjanya.


"Mau berapa ronde om....?" Farah seolah menantang.


"Sejak mengenal mu, jiwa muda ku kembali. Sekarang cepat puaskan aku!"


Bambang yang sudah haus akan belaian seorang perempuan karena sejak dua tahun lalu istrinya mengalami stroke. Baru sekarang pria tua ini menemukan wanita liar yang bisa memuaskan segala hasratnya.


Wira, meskipun di kantornya sedang ada masalah namun pria ini tidak mau membawa masalah tersebut pulang ke rumah. Mawar yang melihat sikap suaminya biasa saja jadi tidak begitu banyak tanya mengenai pekerjaan lelaki ini.


"Katakan pada ku, Mawar ku ini sedang ingin makan apa?" tanya Wira terus memeluk istrinya.


"Mas, aku ingin makan alpukat yang di kerok, di kasih gula sedikit dan es batu."


"Jus maksudnya?" tanya Wira tidak paham dengan permintaan istrinya.


"Bukan, udah ah. Susah kalau menjelaskannya. Ayo ke dapur!" ajak Mawar lalu mereka berdua pergi ke dapur.


Mawar kemudian mengambil dua buah alpukat yang di beli suaminya kemarin. Dengan santai Wira hanya memperhatikan cara kerja istrinya dan tidak mau membantu.


"Sayang,....!" panggil Wira pada Mawar.


"Iya mas, ada apa?" tanya Mawar masih sibuk menyiapkan bahan.


"Lihat sini dong....!" ujar Wira yang memegang alpukat berbentuk bulat di bawah lonjong di atas yang bentukannya hampir sama dengan pedang tumpul milik Wira.



(Gambar hanya pemanis)

__ADS_1


Mawar yang melihat tingkah suaminya langsung kesal.


"Mas Wira, kamu ini ah. Kalau ada bibi lihat gimana?"


"Besar mana sama punya mas?" tanya Wira semakin menggoda istrinya.


"Mas,....!" Mawar hendak merampas buah tersebut.


"Jawab dulu, besar mana sama punya mas!" Wira menahan tangan istrinya.


"Mas, udah deh ah. Gak malu apa?"


"Jawab atau gak mas gigit nih!"


"Iya...iya,...besar alpukat!" jawab Mawar malah membuat Wira kesal.


"Jawab jujur, besar dan pajang mana sama punya mas?"


"Mas,....udah ah!"


"Jawab atau gak dapur ini mas buat bergoyang sekarang!" ancam Wira lagi.


"Besar dan panjang punya mas!" jawab Mawar malu-malu.


"Bohong iih....!"


"Kalau bohong kenapa bisa membelendung seperti ini?" Mawar menunjuk perutnya.


"Hehe,...iya. Sini mas bantuin...!"


Ada-ada saja Wira ini, setiap hari pasti ada saja bahan untuk menggoda istrinya.


"Pantas saja awet muda. Mas Wira aja kerjaannya tiap hari begini...!"


"Begini bagaimana maksudnya?" tanya Wira tidak mengerti.


"Ya begini, setiap hari bikin orang kesal. Aku yakin jika mamah suka sakit kepala!"


"Makanya mamah lebih suka pergi ke luar kota tempat saudaranya dari pada tinggal di rumah!"


Mawar mendengus kesal, ada suaminya di rumah bikin naik darah tapi jika tidak ada di rumah Mawar kesepian.


Setelah lima menit, mereka pun selesai. Wira mengajak istrinya duduk di ruang keluarga sambil menonton acara televisi.


"Enak gak mas?" tanya Mawar.


"Enak, biasanya mas cuma minum jusnya aja. Istri ku memang pandai." Wira memuji Mawar.

__ADS_1


Biasanya Wira yang menyuapi Mawar, namun kali ini Mawar yang menyuapi suaminya. Bahagia sekali rasanya, jika melihat keseharian rumah tangga Mawar dan Wira.


__ADS_2