Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Chapter 99


__ADS_3

"Seandainya aku hamil, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Farah yang sangat ingin tahu isi hati suaminya.


"Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu? mencurigakan!"


Joni menyelidik di kedua mata Farah.


"Hanya sekedar bertanya, apa salahnya sih?"


Belum lagi Joni menjawab, Jonas sudah menelponnya meminta dirinya dan Farah untuk datang ke rumah utama.


Sebenarnya Joni sudah berulang kali di ajak kakaknya pindah ke rumah utama tapi Joni dan Farah lebih memilih tinggal di apartemen. Bukan sembarang apartemen, hunian mewah dengan segala fasilitas lengkap di tambah pemandangan yang menghadap langsung ke tengah kota.


Farah dan Joni juga bisa melihat secara langsung matahari terbit dan terbenam. Ini lah yang menjadi alasan Farah dan Joni tidak ingin pindah.


"Kenapa sih?" tanya Farah penasaran.


"Ya gak tahu aja, tiba-tiba Jonas mengajak makan malam di rumah!"


Farah menarik nafas panjang, ingin sekali memukul kepala kakak iparnya itu.


"Lalu, bagaimana nasib makanan yang ku masak tadi?"


"Tenang, setelah pulang nanti aku akan memakannya!"


"Terserah kau saja. Semenjak kakak mu menikah dengan Wiwi, suka sekali menyusahkan kita ini. Jika dia perlu, seharusnya dia yang datang menemui kita." Farah mengomel.


"Mau bagaimana lagi, dia satu-satunya saudara dan keluarga yang ku punya. Selama ini aku sudah membangkang dengan aturannya."


"Itu kesalahan mu sendiri...!" seru Farah.


"Semua aku lakukan biar aku bisa selalu dekat dengan mu."


"Heleh, bilang aja sewaktu sekolah menengah atas kau di buang oleh kakak mu karena nakal!"


"Ya, begitu lah!" sahut Joni menertawakan dirinya sendiri.


Farah mengusap perutnya, lalu berkata, "Semoga saja anak ku nanti tidak ada yang menurun sifat dari ayah dan ibunya!"


"Kau ini, ada-ada saja!"


Mereka tiba di rumah, Joni dan Farah langsung berjalan masuk menuju ruang makan karena Jonas dan Wiwi sudah menunggu di sana.


"Karena kalian sudah datang, silahkan di makan sepuasnya!" kata Jonas membuat wajah Farah kesal.


"Lain kali kalau mau ngajak makan malam ngomong dari pagi atau gak sore!" protes Farah kesal.


"Lah, istri mu ini kenapa?"

__ADS_1


"Iya, Farah kau ini kenapa?" Wiwi bertanya.


"Dia kesal karena sudah masak banyak tapi kalian mengajak makan malam bersama," jawab Joni dengan santainya.


"Oh, hanya masalah sepele!" seru Jonas.


"Mata mu sepele!" sahut Joni, "pulang dari sini aku harus menghabiskan masakannya!"


"Ya itu sih derita mu!" ujar Wiwi mengejek.


Sudahlah ya, mau tidak mau Farah dan Joni ikut makan bersama.


"Sebenarnya aku mengundang kalian makan malam kali ini, aku ingin memberitahukan sesuatu!"


"Tentang apa itu kak?" tanya Joni penasaran.


Jonas menoleh ke arah Wiwi lalu meraih tangan istrinya.


"Sebentar lagi kami akan menjadi orangtua. Istri ku hamil lima minggu!" ucap Jonas memberitahu.


Farah langsung menoleh ke arah Wiwi, tidak percaya jika teman yang sekarang telah menjadi saudaranya ini hamil.


"Heh, apa kau serius?" tanya Farah tidak percaya.


"Ya, aku hamil!" jawab Wiwi dengan wajah serius.


Joni melirik ke arah Farah lalu tersenyum, "aku ikut bahagia mendengarnya kak. Selamat untuk kalian berdua!" ucap Joni yang sebenarnya merasa iri.


"Seharusnya kalian juga memberi aku Selamat juga!" kata Farah membuat ketiga manusia di depannya bingung.


"Istri ku yang hamil kenapa kau juga meminta ucapan selamat?"


"Ya karena aku juga hamil sekarang!" ucap Farah dengan nada tinggi membuat Joni yang sedang menyeruput kuah sup langsung tersedak.


"Farah, apa kau serius?" Wiwi tidak percaya.


Farah mendengus kesal, wanita ini mengambil tasnya lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam sana.


"Lihat ini, aku hamil. Bahkan usia kehamilan ku lebih tua satu minggu dari mu!" ujar Farah memberitahu.


Joni tercengang, tidak percaya jika istrinya sedang hamil sekarang.


"Aku tahu kau sangat menginginkan anak. Tapi, jangan membuat diri mu malu seperti ini sayang!"


Plak,....


Farah yang kesal menapak kepala suaminya.

__ADS_1


"Apa kau lupa pertanyaan ku tadi?"


Joni kembali mengingat, lalu menoleh ke arah istrinya.


"Heh, kau serius kah?"


"Tidak, aku tidak serius!" Farah semakin kesal.


"Kau hamil anak ku kah?"


"Tidak, aku hamil anak tetangga!"


"Sayang ku, aku serius!"


"Iya, aku hamil. Aku masak banyak sebenarnya ingin memberitahukan kehamilan ku. Tapi kedua manusia pengganggu ini malah merusak rencana ku!"


Joni langsung bangkit dari duduknya dan menari-nari di sana. Tidak jadi iri dengan sang kakak yang sebentar lagi akan menjadi orangtua.


"Suami mu tidak waras Farah!" ucap Wiwi.


"Begitulah, jangan sampai sikap anak ku seperti dia...!" ujar Farah sambil mengusap perutnya.


Joni langsung memeluk Farah, menciumi wajah istrinya tapi langsung di dorong oleh Farah.


"Jauhkan bibir mu yang monyong itu. Bau,.....!" ujar Farah membuat Wiwi dan Jonas tertawa.


"Bibir ku yang monyong ini lah yang sudah membuat mu hamil. Giliran di cium aja kau merasa jijik, tapi giliran di semprot benih ku kau malah diam saja keenakan!" gerutu Joni.


"Perempuan memang seperti itu, apa pun masalahnya kebenaran selalu ada pada mereka!" sahut Jonas langsung mendapatkan lirikan tajam dari istrinya.


"Sepertinya kita harus menghajar kedua lelaki ini," ucap Farah semakin geram dengan tingkah Joni dan Jonas.


Cukup sudah kebahagiaan Farah dan Joni juga Wiwi dan Jonas malam ini. Mereka merayakan keberhasilan mereka selama bercocok tanam selama ini yang sudah membuahkan hasil. Makan malam di lanjutkan dengan saling bertukar cerita penuh bahagia.


Beda lagi dengan cerita Bayu dan Tia, malam ini ketegangan menyelimuti keluarga mereka. Di usia kandungan Tia yang baru saja memasuki delapan bulan dengan terpaksa harus melahirkan anaknya malam ini juga.


Pendarahan sejak sore membuat mereka harus rela mengambil keputusan seperti ini. Pada dasarnya memang di ketahui jika kandungan Tia memang lemah.


Syukurnya operasi yang di lakukan malam ini berjalan dengan lancar. Ibu dan anak selamat, Bayu terus memeluk istri dengan terurai air mata.


Anak yang mereka tunggu selama pernikahan tiga tahun beberapa bulan akhirnya lahir juga melengkapi hangatnya rumah tangga.


Bayi berjenis kelamin laki-laki, tangisnya pecah menggema di sudut ruangan. Meskipun di lahirkan belum cukup bulan, tapi bayi mungil tersebut sehat tidak kurang satu apa pun. Sungguh ini adalah satu anugerah yang sangat besar dalam hidup Bayu dan Tia.


"Terimakasih telah berjuang sayang. Aku mencintai mu!" bisik Bayu lalu mengecup kening istrinya.


Jauh dari dalam benak Bayu, ada ketakutan besar saat istrinya mengalami hal seperti ini. Bukannya apa-apa, dirinya tidak ingin seperti Wira yang pernah mengalaminya di masa lalu.

__ADS_1


__ADS_2