Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Bonchap 108


__ADS_3

Wiwi tiba-tiba saja mengalami down yang membuatnya tidak sadarkan diri. Tekanan darah yang tiba-tiba naik membuat wanita hamil ini harus di larikan ke rumah sakit.


Di usia kandungan yang sudah memasuki tiga puluh dua minggu, Wiwi terpaksa melahirkan anaknya secara prematur. Bukan hanya tekanan darah yang naik, entah kenapa Wiwi juga mengalami pendarahan.


Jonas yang panik hanya bisa mondar mandir di depan ruangan operasi menanti kabar anak dan istrinya. Jonas tidak bisa menemani Wiwi di dalam, hal ini lah yang membuat Jonas merasa sedih.


Berita yang keluar pagi tadi lah yang menyebabkan Wiwi menjadi seperti ini. Ada beberapa berita dari sumber ternama di negara tersebut yang menguak perihal masa lalu Wiwi sebagai seorang penjual diri. Hal seperti ini tentu saja berimbas pada bisnis milik Jonas. Beberapa rekan bisnisnya menarik paksa saham mereka yang membuat perusahaan Jonas merugi banyak.


Wiwi merasa bersalah, wanita tersebut tidak ingin nama baik Jonas tercoreng hanya karena dirinya.


"Sudah kau temukan siapa dalang penyebar berita ini?" tanya Jonas kepada asisten pribadinya.


"Sudah pak, mantan karyawan bapak sendiri...!" jawab pria yang berusia lebih tua dari Jonas. Pak Thomas, meskipun usia sudah hampir empat puluh lima tahun tapi semua pekerjaannya sangat cepat dan rapi.


Jonas mengerutkan dahinya, ia lupa siapa saja yang sudah di pecatnya.


"Siapa yang kau maksud?"


"Sania, mantan sekretaris!"


Huft,....


Jonas menghembuskan nafas kasar, pria ini sangat lupa jika Sania tahu semua latarbelakang Wiwi. Entah dari mana perempuan itu tahu, Jonas mulai penasaran di buatnya.


"Cari dan tangkap dia. Akan ku selesaikan setelah keadaan istri ku baik-baik saja!" titah Jonas langsung di iyakan pak Thomas.


Pak Thomas kemudian pergi, langsung menjalankan perintah dari tuannya. Jonas kembali seorang diri, menanti sang istri yang berada di dalam ruangan.


Satu setengah jam berlalu, seorang Dokter keluar dan meminta Jonas untuk masuk. Mata Jonas tajam menatap wanita yang masih terbaring lemah di atas meja operasi tersebut.


"Istri ku,...!" lirih Jonas merasa hancur melihat keadaan Wiwi yang tidak sadarkan diri.


"Maaf pak, istri anda mengalami pecah pembuluh darah hingga menyebabkan koma."


Kurang lebih seperti itu Dokter memberitahu Jonas. Kaki Jonas mendadak lemas mendengarnya.


"Lalu bagaimana dengan anak ku?" tanya Jonas dengan suara bergetar.


Dokter kemudian menjelaskan tentang keadaan anak Jonas yang lahir secara prematur. Semakin hancur hati Jonas, ia tidak menyangka jika berita tentang Wiwi dan kerugian perusahaannya membuat sang istri seperti ini.

__ADS_1


Untuk sementara Wiwi di pindahkan ke ruang ICU, kondisinya sangat lemah bahkan Jonas tidak leluasa untuk melihat istrinya.


Jonas pergi ke ruangan anaknya, melihat bayi mungil yang berada di dalam inkubator tersebut membuat Jonas ingin sekali menggendongnya.


"Anaknya sangat mirip ya pak, semoga ibunya cepat sadar biar bisa melihat anaknya," ucap salah seorang perawat.


Meskipun Jonas tidak menyahut, tapi lelaki ini langsung mengaminkan di dalam hati.


Bayi mungil berjenis kelamin laki-laki ini sangat mirip dengan wajah Jonas. Hal ini semakin membuat Jonas percaya jika bayi ini adalah anak kandungnya.


Farah merasa sedih mendengar kabar seperti ini, ia ingin sekali bertemu Wiwi tapi tidak bisa karena kandungannya sendiri sangat besar. Joni selalu berada di samping Farah, menenangkan sang istri yang tampak khawatir ini.


"Yakinlah, dia akan baik-baik saja. Kakak ku pasti akan melakukan apa saja untuk Wiwi dan anaknya."


"Begini kah nasib kami yang memiliki masa lalu yang kelam? semua orang hanya bisa menghardik tanpa tahu apa yang terjadi dan kami rasakan!"


"Namanya juga hidup, jika tidak ada berkomentar itu bukan manusia namanya!"


"Sebersih apakah dia yang sudah mengumbar aib Wiwi? mereka tidak tahu trauma seperti apa yang di alami oleh teman ku itu."


"Doakan yang terbaik. Kau juga jangan banyak berpikir, nanti kenapa-kenapa!"


Tidak, baru saja Joni mengatakan hal seperti itu, Farah tiba-tiba saja memegang perutnya. Ada rasa nyeri kontraksi yang ia rasakan saat ini hingga membuat Joni panik dan langsung membawa Farah ke rumah sakit.


Setelah di nyatakan sehat, Joni langsung mengajak Farah pulang. Tapi, tanpa sengaja Farah dan Joni bertemu dengan Wira dan Mawar yang kebetulan ada rumah sakit itu juga untuk konsultasi mengenai bekas operasi yang di lakukan Mawar beberapa waktu lalu.


Terlihat sekali jika wajah Farah merasa tidak enak hati dengan Wira yang menatapnya dengan bingung.


"Mbak Farah apa kabar?" sapa Mawar ramah, "hamil berapa bulan?"


Farah tersenyum ramah pada Mawar, ini pertemuan keduanya dari pertemuan saat Farah pulang ke Indonesia dulu.


"Baik, delapan bulan. Bentar lagi nyusul kamu loh, punya anak!" jawab Farah.


Baik Joni maupun Wira hanya diam saja.


"Wah, semoga di lancarkan sampai persalinan. Ibu dan anaknya sehat," ucap Mawar turut senang.


"Terimakasih Mawar!" ucap Farah.

__ADS_1


"Suami mu?" tanya Wira penasaran, karena pria ini sama sekali tidak mengenali Joni tapi Joni sangat tahu siapa Wira.


"Joni, suaminya Farah calon ayah dari anak-anaknya!" ucap Joni memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan.


Wira langsung membalas uluran tangan Joni.


"Wira, suaminya Mawar, ayah dari dua orang anak!" balas Wira tidak mau kalah.


"Wah, anak mu sudah dua ya Wir?" tanya Farah tidak percaya.


"Ya, hebat bukan!"


Mawar hanya bisa menghela nafas panjang, masih ingat betul jika suaminya dan Farah ini pernah memiliki hubungan yang kurang baik.


"Oh, ya sudah. Kalau begitu kami duluan ya, istirahat ku harus banyak istirahat!" ujar Joni lalu mengajak Farah pergi.


Mawar dan Wira mengiyakan, mereka juga memutuskan untuk pulang.


"Gak nyangka ya mbak Farah sudah menikah dan hamil," ujar Mawar.


"Baguslah, dengan begitu dia tidak akan pecicilan lagi...!'' ketus Wira yang masih tidak suka dengan Farah.


"Jangan seperti itu mas, siapa tahu mbak Farah sudah baik orangnya."


"Heleh, mana ada!" seru Wira.


"Ya mana kamu tahu. Setiap orang kan berhak mengubah diri ke arah yang lebih baik. Dengan dia menikah dan memiliki anak, ku yakin jika suaminya bisa membimbing dia ke arah yang lebih baik lagi."


"Kau ini terlalu baik sama orang!"


"Terus, maksud kamu aku harus jadi orang jahat?"


"Ya gak gitu juga konsepnya!"


"Bicara sama kamu itu bikin aku ikutan gila mas. Kamu itu menyebalkan!" Mawar mulai kesal.


"Menyebalkan tapi cinta kan?" goda Wira.


"Dasar Wiro sableng!"

__ADS_1


"Sekali lagi mengatai ku Wiro sableng akan ku buat kau jadi nenek gendeng!"


Tidak mau menanggapi lagi, Mawar kembali diam. Jika di teruskan ucapan Wira pasti sudah sampai ke mana-mana.


__ADS_2