
Hampir sepuluh hari berada di rumah sakit pada akhirnya Mawar dan anaknya sudah di izinkan untuk pulang ke rumah.
Dengan segala persiapan seadanya, karena memang kelahiran sang anak masih dua bulan lagi.
"Jangan banyak bergerak, biar mamah yang ngurusin baby Al," ujar Asti yang tidak ingin menantunya ini kelelahan.
"Terimakasih mah!" ucap Mawar.
Asti membawa baby Al ke kamarnya, membiarkan Mawar untuk memompa asinya yang hanya sedikit keluar.
"Menurut mu, apa mas boleh mimik di situ?" tanya Wira kembali dengan pikiran negatifnya.
"Udah punya anak masih aja otaknya ngeres!"
"Tapi, mas akan berpuasa sangat lama. pedang mas karatan lagi dong!"
Terserah Wira ingin bicara apa, Mawar sudah biasa mendengarnya.
"Mas mau kemana?" tanya Mawar ketika melihat suaminya berganti pakaian.
"Mas harus menghadiri acara peresmian salah satu butik yang baru mas buka. Kamu gak apa-apakan mas tinggal sendiri?"
"Iya, gak apa-apa kok mas. Aku mengerti,"
"Ya udah, mas pergi dulu."
Wira mengecup kening istrinya, sebenarnya Wira sangat berat meninggalkan rumah karena dirinya hanya ingin menjaga anak dan istrinya.
Acara peresmian butik, butik yang sengaja di bangun atas permintaan Asti. Butik sederhana berlantai dua dengan menjual barang branded sesuai keinginan Asti.
Peresmian hanya sebentar, namun Wira yang hendak pulang terpaksa ikut pergi bersama salah satu rekan bisnis almarhum papahnya dulu.
"Di depan ada restoran enak om, sebaiknya kita mengobrol di sana saja," ajak Wira yang tidak ingin pergi ke kantor rekan bisnisnya tersebut.
Mereka kemudian pergi ke sana, jujur saja Wira merasa kurang nyaman karena istri rekannya yang bernama pak Bimo terus melirik ke arahnya.
"Ah, kamu sangat tampan Wira. Andai kamu belum menikah, pasti tante akan menjodohkan kamu sana anak perawan tante," ucap Weni istri pak Bimo.
"Em, benar itu. Kamu sih, punya calon gak bilang-bilang!" timpal pak Bimo.
Wira semakin risih mendengarnya. Bukannya membahas masalah pekerjaan mereka malah sibuk mengorek pribadi Wira.
Wira hanya mendengar tanpa menanggapi, ingin sekali pamit pulang namun pak Bimo selalu menahannya.
Tapi, tiba-tiba Wira memicingkan matanya ketika melihat sosok yang sangat dikenalinya.
"Farah,....!" batin Wira yang sangat mengenali poster tubuh Farah meskipun Farah sudah mengenakan kacamata hitam dan masker.
__ADS_1
Tanpa berkata-kata lagi Wira langsung beranjak dari tempat duduknya menghampiri Farah yang sedang membayar makanannya. Pak Bimo dan Weni terkejut dengan sikap Wira yang pergi begitu saja tanpa pamit.
Wira menarik tangan Farah, Wiwi yang terkejut mengejar mereka yang sudah keluar dari area restoran.
Wira membawa Farah ke tempat sepi di samping restoran. Dengan penuh emosi, Wira mencengkram wajah Farah.
"Akhirnya aku menemukan mu juga," ucap Wira dengan mata yang sudah merah.
"W-wira, apa salah ku?" tanya Farah yang bingung dengan sikap Wira.
"Kau pasti dalang dari kecelakaan istri ku beberapa waktu lalu. Apa kau puas sekarang?"
Wiwi yang baru saja menemukan Wira dan Farah langsung mendorong pria tersebut.
"Apa yang kau lakukan pada teman ku hah?" tanya Wiwi tidak terima ketika melihat Farah di sakiti.
"Kau, jangan ikut campur. Perempuan ini harus ku seret ke penjara sekarang juga."
"Wira, aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang kau ucapkan barusan. Aku mencelakai Mawar, kapan?"
"Halah, jangan mencoba membohongi ku. Kau dan Bambang pasti sudah merencanakan ini semuakan?"
"Sumpah demi apa pun, aku tidak tahu apa yang di lakukan si terong tua itu. Aku sudah tidak ada hubungan dengan dia sudah lama!" Farah mencoba menjelaskan.
"Dia tinggal bersama ku di kota L, kenapa kau memfitnah teman ku ini hah?" Wiwi membela Farah.
Wira menatap wajah Farah, jika di lihat secara saksama, Wira tidak menemukan kebohongan dari wanita ini.
"Tiga hari lagi aku akan pindah ke luar negeri. Aku minta maaf jika pernah mengganggu rumah tangga mu dan Mawar. Aku berani di sambar geledek jika aku ikut terlibat. Wira, kali ini saja ku mohon percaya pada ku."
Wira hanya terdiam, sebenarnya dia tidak begitu yakin juga jika Farah ikut terlibat mengingat sudah beberapa bulan terakhir dirinya tidak pernah bertemu dengan Farah.
"Berani kau membohongi ku, akan remukkan tulang mu!" ancam Wira kemudian berlalu begitu saja.
Huft,....
Farah menghela nafas panjang ketika Wira pergi.
"Hah,....! apa yang sudah di lakukan terong tua itu?"
Farah kesal sendiri.
"Untung saja Wira percaya, jika tidak akan ku pastikan jika hari ini adalah hari terakhir aku melihat matahari," ucap Farah membuat Wiwi bingung.
"Memangnya dia siapa sih?" tanya Wiwi penasaran.
"Sudahlah, nanti saja ceritanya. Sebaiknya sekarang kita pulang. Mana tahu jika nanti ada anak buah mami Ger berhasil menemukan kita...!"
__ADS_1
Farah dan Wiwi kembali apartemen. Sedangkan Wira langsung pulang begitu saja.
Setibanya di rumah, Wira tidak menceritakan hal apa pun tentang Farah pada Mawar karena pria ini tidak ingin sang istri kepikiran.
"Di mana mamah?" tanya Wira yang hanya melihat anak dan istrinya.
"Ada, sedang menyiapkan air untuk mandi Al."
"Bagaimana keadaan mu sayang, apa ada yang sakit?"
Wira selalu memastikan jika istrinya baik-baik saja.
"Mas, operasi yang di lakukan pada ku sangat mahal. Sudah pasti aku baik-baik saja. Terimakasih ya...!"
"Sudah kewajiban mas untuk memberikan yang terbaik untuk mu. Sebagai seorang laki-laki, aku sudah merasa cukup sekarang."
"Iya mas,...!" sahut Mawar lalu menyerahkan anaknya pada Asti karena baby Al akan mandi sekarang.
Apa pun tentang anaknya, Wira selalu ingin membantu. Namun, dari pada di bantu oleh Wira ada baiknya pria ini diam saja.
"Mandi nangis, lapar nangis, haus nangis. Dasar bayi...!" ucap Wira membuat mamahnya marah.
plak,....
Asti menendang kaki anaknya sendiri.
"Kau dulu juga begini. Jadi, jangan menghakimi Al."
"Perasaan aku dulu lahir langsung bisa lari, makan dan mandi sendiri deh!" sahut Wira benar-benar menguji kesabaran mamahnya.
"Mawar,...!" panggil Asti geram.
"Iya mah, ada apa?" tanya Mawar menyusul ke kamar mandi.
"Tolong museumkan suami mu ini. Benar-benar membuat tekanan darah mamah naik deh!"
Huft,....
Mawar hanya bisa menghela nafas pasrah.
"Mas, kamu bisa gak sih gak bikin tekanan darah aku dan mamah naik setiap hari?"
"Bisa, tapi nanti...!" jawab Wira membuat Mawar bingung.
"Kapan?"
"Setelah kamu selesai masa nifas!" jawab Wira berlalu keluar untuk menghindari amukan sang mamah dan istrinya.
__ADS_1