Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Bonchap 103


__ADS_3

Tak terasa usia kandungan Mawar sudah sembilan bulan. Hari ini, sejak pagi Mawar mulai mengalami kontraksi hebat yang membuat Wira panik setengah mati.


Mawar kembali melakukan operasi untuk yang kedua kalinya. Sungguh hal seperti ini membuat Wira merasa takut.


Wira ikut masuk kedalam ruang operasi, sedangkan Asti menunggu di luar bersama Al yang untung saja tidak nakal dan rewel.


Harap-harap cemas, bagaimana tidak. Belum waktunya hamil Mawar sudah di bikin hamil oleh suaminya, Asti yang meminta cucu kedua mulai merasa bersalah melihat perjuangan menantunya ini.


"Doakan mamah dan adik mu lahir dengan selamat ya sayang. Oma sangat khawatir dengan keadaan mereka." Asti mengajak Al bicara untuk membuat rasa gelisah di hatinya.


"Bu, jangan panik. Yang tengah, mbak Mawar dan anaknya pasti akan baik-baik saja," ucap bi Jum menenangkan Asti.


Sudah hampir satu jam tapi belum ada yang keluar juga. Sementara itu, Wira yang menemani istrinya di dalam tidak hentinya berdoa dengan menggenggam erat tangan istrinya.


Sesekali mengecup kening Mawar, membuat para Dokter dan perawat baper melihat sikap Wira yang memperlakukan Mawar dengan sangat baik.


Kata-kata cinta terus di bisikan Wira di telinga istrinya, tanpa terasa tangis bayi menghentikan setiap ucapan Wira.


Wira meneteskan air mata, anak keduanya telah lahir dengan selamat tanpa kurang satu apa pun. Begitu juga dengan keadaan Mawar yang stabil.


"Oh Mawar ku, terimakasih karena kau telah memberi ku dua bunga kehidupan," ucap Wira lagi-lagi membuat semua orang yang mendengarnya meleleh.


Bayi berjenis kelamin perempuan itu di bersihkan kemudian di serahkan pada Wira. Lengkap sudah kebahagiaannya, memilik dua anak laki-laki dan perempuan.


"Kok mirip kamu lagi mas?" protes Mawar.


"Ya namanya juga bapaknya, si pemilik benih...!" celetuk Wira membuat semua orang di ruangan operasi tertawa.


Entah jenis operasi seperti apa yang di lakukan oleh Mawar, wanita ini tidak merasakan sakit hanya saja seluruh badannya tak terasa.


Setelah selesai, Mawar langsung di pindahkan ke ruang rawat dengan segala fasilitas yang sangat mewah.


Di hadapan sang mamah dan istrinya, wira langsung di nasehati oleh Dokter yang menangani istri.


"Sementara waktu, ibu Mawar kami larang dulu untuk menambah momongan. Kasihan istrinya pak, bekas operasi belum ada dua tahun harus di bedah lagi. Ini sangat beresiko, ada baiknya menunda dulu...!"


"Ya mau bagaimana lagi Dok, semua sudah kehendak Tuhan!" sahut Wira dengan entengnya membuat sang mamah geram.


"Saya mengerti semua ini kehendak Tuhan. Tapi, ada baiknya kita sebagai manusia berencana dan berusaha. Istrinya kasihan loh pak, setelah ini ibu Mawar harus istirahat total. Saya menyarankan untuk berhubungan suami istri bisa di lakukan setelah tiga atau empat bulan ya pak."

__ADS_1


Jleb,....


Mata Wira melebar selebar mata buaya, aturan macam apa ini yang mengharuskannya berpuasa selama empat bulan.


"Loh Dok, yang dulu aja cuma dua bulan. Kok ini sampai empat bulan, Dokter ini mengantuk atau lapar sih?"


"Untuk masalah ini kita bicarakan nanti ya pak, biarkan istrinya istirahat dulu. Jangan di tambah beban pikiran loh!" pesan Dokter sebelum keluar.


Melihat wajah kusut Wira, Asti langsung mengejek anaknya.


"Bi Jum, nanti beli mi goreng empat karton ya...!" celetuk Asti.


"Siap bu...!" sahut bi Jum yang paham maksud dari ucapan Asti.


Mawar menahan tawanya, sungguh kali ini ia bisa membalas kelakuan suaminya selama ini.


"Apa kamu, kalau mau ketawa ya ketawa aja. Gak usah di tahan!" kesal Wira.


"Kamu itu termakan omongan sendiri mas...!" ucap Mawar membuat Wira bingung.


"Memangnya aku ada ngomong apa hah?"


Wira langsung ingat, begitu sialnya Wira karena ia termakan dengan omongannya sendiri.


Andai saja Bayu tahu, sudah pasti Bayu akan menertawakannya sampai ke akhirat sana.


Seharusnya Wira bahagia atas kelahiran anak keduanya. Tapi, mendengar ucapan Dokter tadi langsung membuat Wira lemas tak berdaya. Pria ini hanya duduk di samping brankar sang istri sambil melihat bergantian ke arah Mawar dan anaknya yang saat ini sedang tertidur pulas.


"Wira, jangan ganggu Mawar...!" tegur Asti yang melihat Wira memainkan jari jemari Mawar.


"Ah, lesu mah!"


"Ya udah kali, terima aja. Udah resikonya seperti ini, anak dan istri kamu selamat dan sehat saja kamu harus senang."


"Ya senang, Wira gak nyangka aja bisa berada di titik ini. Itu artinya Tuhan percaya sama Wira!"


"Mamah harap kamu bisa lebih dewasa lagi. Ingat, kamu sekarang adalah seorang ayah dari dua orang anak."


"Tapi sayang, istrinya cuma satu...!" celetuk Wira yang masih sempatnya bergurau.

__ADS_1


Asti mencubit lengan anaknya, "kamu ini, kalau Mawar dengar bagaimana?"


"Tidak sedang bermimpi indah. Jadi mana mungkin dia mendengar obrolan kita...!"


"Aku dengar semua loh mas...!" ucap Mawar tiba-tiba membuka mata.


Betapa terkejutnya Wira hingga membuatnya jatuh dari kursi. Asti yang melihat kelakuan anaknya ini hanya bisa tertawa.


"Bercanda sayang, jangan di ambil ginjal ya. Ayo tidur lagi....!" ujar Wira membujuk sang istri.


Mawar hanya bisa menarik nafas panjang, untung saja dia baru selesai operasi jika tidak sudah di pastikan Mawar akan mencakar mulut suaminya.


"Lihat Al, di mana pun dia berada tidak pernah menyusahkan mamah. Al memang anak yang baik...!" ucap Asti sambil memperhatikan cucunya yang tertidur pulas.


Asti belum berani menggendong cucu keduanya karena jika Al melihat bocah kecil itu akan menatapnya tajam seperti tadi.


Beda lagi dengan Farah yang usia kandungannya kini sudah memasuki enam bulan. Perut buncitnya sudah jelas terlihat, Joni suka mentoel perut istrinya.


"Kok bisa ngembang gini ya...?" tanya Joni penasaran yang sejak tadi terus memperhatikan perut Farah.


"Ya bisa lah, kau memompanya tiap malam!"


"Jadi, kau hamil anak angin dong!"


"Mulut kotor mu ini suka sekali seperti itu," ucap Farah sakit geramnya melihat Joni ia meremas bibir suaminya sendiri.


"Kau ini sudah gila, sakit tahu...! apa kau mau bibir bawah mu aku gigit?"


Huft,...


Farah mendengus kesal, "di jilat, di gigit di celupin...enak...!" kata Farah.


"Astaga, aku jadi ingin...!" sahut Joni.


"Kocok sendiri ya...!!" seru Farah lalu pergi ke dapur untuk membuat jus.


"Kocokin dong sayang....!" teriak Joni mengejar Farah ke dapur.


Farah tidak peduli, wanita ini sibuk membuat jus melon yang di inginkan sejak tadi. Joni terus merayu, tapi Farah tidak mudah tergoda. Segala rayuan dan kata manis Joni keluarkan untuk mamancing sang istri agar mau di ajak kikuk-kikuk malam ini.

__ADS_1


__ADS_2