Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Chapter 77


__ADS_3

"Aku sebatang kara sekarang," ucap Farah dengan mata sembabnya.


"Sudah takdir, mau bagaimana lagi? minum dulu...!" Joni menyodorkan segelas air putih untuk Farah. Pulang dari pemakaman mamahnya, jelas sekap jika Farah merasa sangat sedih.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Farah bingung sendiri, "di sini kau tidak memiliki saudara apa lagi rumah. Jon,....!"


"Berhenti merengek seperti anak kecil. Setelah tujuh hari kita akan segera pulang. Kasihan Wiwi sendirian di sana."


"Aku tidak pernah merasakan kasih sayang yang tulus dari mamah. Sekarang dia malah pergi menyusul papah."


"Jika kau tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari orangtua mu, maka ciptakan sendiri kasih sayang itu untuk anak-anak mu kelak."


"Ciih,....!" Farah mencibir kata-kata bijak yang keluar dari mulut Joni.


"Perempuan yang satu ini masih saja keras kepala. Sudahlah, kau istirahat saja. Aku mau pergi...!"


"Mau kemana kau?" tanya Farah penasaran.


"Cari cewek!" seru Joni.


"Awas saja kau macam-macam. ku patahkan urat batang mu!"


Langkah Joni terhenti, pria ini membalikan tubuhnya lalu menatap Farah.


"Apa kau cemburu?" tanya Joni membuat Farah langsung membuang wajah malunya.


"Tidak, pergi sana!"


Joni hanya terkekeh, pria ini langsung pergi begitu saja.


Farah seorang diri, hatinya mendadak sedih mengingat semua kenakalan yang pernah dia lakukan di masa lalu. Sungguh ini semua membuat Farah menyesal.


Kruyuk......


Perut Farah berbunyi, wanita ini sadar jika dirinya belum makan sejak pagi. Sebenarnya malas, namun Farah memutuskan untuk pergi ke cafe dekat apartemen milik Joni untuk mencari makanan.


Selesai makan, Farah yang sangat merindukan tempat ini memilih untuk berjalan-jalan sebentar untuk sekedar membuang rasa sedih di hatinya.


Farah tertarik pada salah satu toko kue di seberang jalan. Wanita ini mulai menyebrang ke sana.


"Wuah,...sudah lama aku tidak makan kue seperti ini," ucap Farah yang langsung masuk dan memilih beberapa kue untuk di bawa pulang.


Buuk.....


Keasyikan memilih, tanpa sengaja Farah menyenggol seseorang.


"Aduh, maaf ya mbak...!" ucap Farah merasa bersalah, "loh, Mawar...!"


Farah terkejut, begitu juga dengan Mawar yang sedang memilih kue. Mawar pergi seorang diri, Al di rumah bersama omanya sedangkan Wira di kantor.

__ADS_1


"Mbak Farah...!"


"Maaf Mawar, aku tidak sengaja. Aku tidak bermaksud menyenggol mu," ucap Farah benar-benar tidak enak hati.


"Gak apa-apa kok mbak. Aku baik-baik saja!" sahut Mawar ramah.


"Em, bisa kita mengobrol di cafe depan?" ajak Farah berharap jika Mawar bersedia menerima ajaknya.


Untuk beberapa saat Mawar berpikir, mengingat bagaimana sikap Farah yang dulu.


"Em, boleh!" ujar Mawar tak enak hati menolak.


Mereka pun pergi bersama, Farah terus tersenyum pada Mawar. Yang membuat Mawar heran, kenapa mata Farah begitu sembab.


Mereka memesan dua minuman, tampak canggung, namun Farah bisa mencairkan suasana.


"Bagaimana kabar anak mu?" tanya Farah.


"Baik, bagaimana dengan mu?". Mawar bertanya balik.


Farah tersenyum, tanpa terasa air mata wanita ini jatuh menetes namun cepat Farah mengusapnya.


"Mbak Farah kenapa?" tanya Mawar penasaran.


"Mawar, aku minta maaf atas sikap maupun tutur kata ku yang pernah menyakiti hati mu dulu. Aku benar-benar minta maaf ya!" ucap Farah dengan sorot mata memohon.


"Terimakasih Mawar, kau perempuan baik. Wira beruntung memiliki istri seperti mu," ujar Farah lalu menceritakan apa yang sudah terjadi pada dirinya.


Mawar terkejut, dirinya tidak percaya dengan apa yang di alami Farah. Sungguh, setiap orang memiliki masalah dan ujiannya sendiri.


Farah terus meminta maaf, membuat Mawar bingung ingin bersikap seperti apa. Selain memberi semangat, Mawar hanya bisa menguatkan.


"Semoga mbak Farah bisa menemukan jodoh yang baik. Yang bisa membimbing mbak Farah ke arah yang lebih baik, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik."


"Terimakasih Mawar. Aku titip salam untuk Wira, sampaikan maaf ku untuk Wira dan tante Asti. Aku malu untuk bertemu mereka."


"Baiklah, nanti aku sampaikan. Aku harus pulang, kasihan anak ku di rumah."


"Setelah ini aku akan kembali ke Singapore, semoga kita di beri umur panjang agar bisa bertemu di kemudian hari."


"Amin,...!"


Farah dan Mawar saling berpelukan, setelah itu mereka pulang. Di perjalanan pulang, Mawar masih tidak percaya dengan apa yang di alami oleh Farah, kehidupannya hancur akibat keegoisan orangtua.


Setibanya di rumah, Mawar sudah mendapati mobil suaminya yang pulang kerja.


"Mas,....udah lama pulangnya?" tanya Mawar.


"Kamu berangkat, mas pulang. Mana kuenya?"

__ADS_1


"Ini, aku siapin dulu ya...!" ujar Mawar.


Tak butuh waktu lama Mawar sudah menyiapkan kue yang di beli sesuai pesanan suami dan mertuanya. Mereka menikmati kue tersebut bersama-sama.


"Mas, mah. Mbak Farah titip salam untuk kalian," ucap Mawar begitu mengejutkan Wira dan Asti.


"Sayang, di mana kamu bertemu dengan Farah hah?" tanya Wira penasaran.


"kamu gak di apa-apain kan sama perempuan itu?" tanya Asti khawatir.


"Gak kok mah. Mbak Farah hanya ingin meminta maaf," ujar Mawar lalu menceritakan apa yang dia ketahui tadi.


Wira dan Asti masih tidak percaya jika Yunita sudah meninggal dunia. Mereka benar-benar melupakan Yunita yang hidup di penjara.


"Mungkin saja dia sudah berubah. Sesama manusia tidak ada salahnya saling memaafkan," kata Mawar mengingatkan suami dan mertuanya.


"Namanya juga hidup, jika di bukakan hati maka dia akan sadar dan hidup akan lebih baik. Jika tidak, ya tanggung saja resikonya," tutur Wira yang sudah memaafkan Farah.


"Aku bisa melihat jika mbak Farah sangat menyesal. Di tambah lagi dia sekarang sebatang kara sama seperti diri ku."


"Semoga saja dia benar berubah," ucap Asti.


Obrolan singkat, namun memiliki pelajaran yang begitu berarti. Memaafkan jauh lebih baik dari pada menyimpan dendam. Lagian, hidup mereka yang menyakiti belum tentu lebih baik dari yang di sakiti.


Di apartemen, sedikit banyak Farah merasa lebih lega karena dia sudah meminta maaf pada orang yang pernah di jahatinya.


"Kalau keluar jangan lama-lama, nanti ke tangkep sama mami Ger!" ucap Joni mengejutkan Farah.


"Burung pipit ini suka sekali mengejutkan ku. Sialan betul!" umpat Farah kesal.


"Aku hanya mengingatkan, apa salahnya hah?"


"Kau lapar, tapi aku tidak sengaja bertemu dengan Mawar. Jadi, aku mengobrol dengan dia tadi," ucap Farah dengan jujur.


"Oh, begitu. Lalu?"


"Apanya yang lalu?"


"Lanjutannya bagaimana, apa yang kau obrolkan dengannya?"


"Hanya meminta maaf. Jon, apa aku terlihat keren?"


"Tentu saja, aku lebih suka kau yang sekarang. Kau lebih menjadi dirimu sendiri tanpa kebohongan yang harus kau tutupi."


"Jika mengingat masa lalu, jahat sekali aku...!"


Huft,...


Farah mendengus kesal pada dirinya sendiri. Mau bagaimana lagi karena semua sudah terjadi.

__ADS_1


__ADS_2