
"Wira, ngapain dia kesini?" tanya Asti yang baru saja tiba di rumah.
"Udah ah, gak usah bahas dia. Ayo turun mah!"
Wira dan Asti langsung keluar dari dalam mobil. Widya langsung menghampiri Asti dan mencium tangannya.
"Tante apa kabar?" tanya Widya dengan suara lembut.
"Baik, udah ya. Tante masuk dulu....!" ujar Asti yang Sebenarnya tidak suka dengan kedatangan Widya.
"Widya ikut masuk ya tante...?"
Tanpa persetujuan Asti, Widya mengekor dari belakang. Membuat Wira geram setengah mati.
"Wah, cucu oma.....sayang oma....oma rindu nih...!"
Asti senang ketika melihat Mawar turun bersama Al.
"Oma,....udah pulang. Pasti Al kangen oma juga ya...!" Mawar mengajak anaknya bicara.
"Sebentar ya, oma cuci kaki dan tangan dulu."
Tidak ada yang peduli dengan Widya, wanita ini hanya menatap tidak suka pada Mawar yang nampak bahagia.
Tak berapa lama, Asti keluar lalu mengambil alih baby Al. Gemas, Asti terus menciumi cucu kesayangannya ini.
"Wira jagain kalian kan, dia bantu kamu gak?" tanya Asti pada menantunya.
"Mas Wira suami idaman hati mah. Hal sekecil apa pun mas Wira yang maju duluan!" jawab Mawar membuat Asti puas.
Mendengar ucapan Mawar, ingin rasanya Widya muntah.
"Tante, boleh gendong anak mas Wira gak?"
Widya berusaha mencari muka.
"Aku jadi ingat anak kak Dania...!"timpalnya.
"Aduh, maaf ya Widya. Anak Mawar dan Wira belum boleh di gendong orang luar," jawab Asti yang tidak mengizinkan. Asti langsung mengajak Al masuk kedalam kamarnya.
"Kamu ngapain kesini sih?" tanya Wira dengan wajah dinginnya.
"Main aja, apa salahnya sih silahturahmi sama kakak ipar?" ujar Widya membuat telinga Wira panas.
"Ya kalau silahturahmi gak masalah sih. Asal jangan ada pemikiran lain aja!" celetuk Mawar membuat mata Widya melebar.
"Kau hanya orang baru, tidak berhak mengatur ku!"
"Aku istri mas Wira. Jadi, aku berhak mengatur siapa pun tamu yang tidak sopan masuk kedalam rumah ini."
Mendengar ucapan sang istri, Wira hanya tersenyum tipis.
"Sesekali melihat Mawar bertengkar dengan orang lain sepertinya seru juga!" batin Wira.
"Kau hanya istri pengganti, di hati mas Wira hanya ada kakak ku. Kasihan sekali...!"
__ADS_1
"Apanya yang kasihan?" tanya Mawar, "aku tidak pernah merasa cemburu dengan orang yang sudah meninggal. Aneh!"
****,....
Widya mengumpat dalam hatinya.
"Hayo terus sayang, aku ingin melihat wajah marah mu!" batin Wira terus mengadu.
"Mas Wira hanya mencintai kakak ku. Kau hanya pengganti, ingat. Kau hanya pengganti...!" Widya menekan ucapannya.
"Mencintai yang sudah meninggal itu wajar saja. Aku tidak pernah merasa sebagai pengganti kakak mu, kami menikah saling mencintai. Jika kami tidak saling mencintai, kenapa ada anak di antara kami?"
Jleb,...
Widya mati ucap.
"Sebaiknya kau pergi saja, kami ingin istirahat!" usir Wira.
"Tapi mas,....?"
"Ingat Widya, kau tidak berhak ikut campur dalam rumah tangga ku seperti kau ikut campur dalam rumah tangga aku dan kakak mu dulu. Jika kau tahu jalan keluar, silahkan keluar jika tidak aku akan menyeret mu lagi....!"
Wira langsung merangkul pinggang istrinya mengajak Mawar kembali ke kamar.
Widya menghentakkan kakinya kesal, tidak terima di perlakuan sekasar ini oleh Wira.
"Dari dulu sampai sekarang sama saja sikapnya. Tidak pernah berubah!" ucap Widya kemudian pergi dengan perasaan kesal.
"Mas, kenapa akhir-akhir ini dia suka main ke rumah sih?" tanya Mawar geram sendiri.
"Maafkan aku jika aku harus berkata jujur mas. Aku tidak suka dengan ipar mu itu...!"
"Jangankan kau sayang, aku saja tidak suka!"
"Menyebalkan!"
"Udah, gak usah bahas dia. Kita bahas bulan madu aja lah!"
"Bulan madu apanya?"
"Mamah sudah pulang. Mas juga udah ngomong kalau mas sama kamu akan pergi liburan."
"Al bagaimana?"
"Mas mau ajak tapi gak di bolehin sama mamah. Mamah bilang kita berdua aja yang pergi. Mau pulang atau gak terserah katanya asal Al jangan di bawa."
"Tapi, susunya...!"
"Sekarangkan asi kamu udah gak keluar. Al minum susu formula jadi mamah bisa mengatasi semuanya."
"Tapi mas, aku mana tega meninggalkan anak kita."
"Mas juga gak tega, tapi mamah selalu mengusir kita!"
"Mamah yang ngusir apa kamu yang merengek sama mamah?" tanya Mawar yang sudah bisa menebak.
__ADS_1
"Sayang,....!"
"Lagian aku belum bisa berhubungan badan. Dokter bilang minimal dua bulan tiga bulan!"
"Mas selalu menghitung hari loh sayang. Masih kurang satu minggu lagi kok!"
"Mas,....!"
"Kamu jangan ngeles, kalau gak mas gas sekarang nih...!"
Wira malah mengancam istrinya.
"Muatan sudah penuh sayang, pasti nanti akan meluber!"
"Mas, ih. Jorok!"
"Jorok tapi bikin nagih...!" seru Wira menggelitiki perut istrinya.
"Mas, jangan ah. Nanti jahitan rusak!"
"Operasi mu sangat mahal sayang. Mas tahu berapa lama dia akan sembuh!"
"Mas, kalau urusan begituan cari tahunya sampai ke akar. Heran deh!"
Tentu saja, Wira pria dewasa yang sudah lama berpuasa. Sebenarnya Mawar tidak tega melihat suaminya merengek setiap hari, namun dirinya masih takut jika harus berhubungan badan.
Lagi-lagi, Widya datang menemui Tia. Tia sebenarnya jengah, namun wanita ini penasaran apa yang akan di adukan Widya padanya hari ini.
Benar saja, Widya terus menjelekan Mawar. ketidaksukaannya pada Mawar membuat wanita ini terus mengarang cerita.
"Sebenarnya kau ini bekerja atau tidak sih?" tanya Tia.
"Untuk apa aku kerja?" Widya bertanya balik, "toh masih ada papah yang masih kuat bekerja!"
Glek,....
Tia menelan ludahnya kasar, tenggorokan cekat mendengar jawaban dari Widya yang tidak masuk di akal.
"Kau ini kebiasaan Widya. Zaman Dania masih hidup dia yang menanggung semua biaya hidup mu. Masa iya kau tidak mau mandiri sih?"
"Impian ku hanya menikah dengan laki-laki kaya yang bisa memanjakan ku, memenuhi semua kebutuhan ku," ucap Widya membuat Tia bergeleng kepala.
"Impian mu terlalu tinggi tapi kau sendiri tidak menunjukkan kualitas mu."
"Tidak ada hubungannya dengan kualitas. Yah, sebenarnya impian ku memiliki suami seperti mas Wira. Dia baik, tampan, kaya, sangat memanjakan istrinya. Makanya aku dulu sangat iri sama kak Dania...!"
"Aneh, kau iri pada saudara mu sendiri...!"
"Gak aneh sih, apa salahnya mengagumi kakak ipar sendiri...?"
Seakan mati ucap, Tia sudah tidak bisa lagi bicara. Pemikiran Widya sangat berani, bahkan Widya tanpa rasa malu atau sungkan bisa berterus terang dengan apa yang di rasakan.
"Aku masih ada pekerjaan, aku tinggal dulu...!" ujar Tia yang mulai bosan.
"Kalau begitu aku pergi dulu,....!" kata Widya membuat Tia bisa bernafas lega.
__ADS_1