Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Chapter 92


__ADS_3

"Astaga, ini serius apa bercanda sih?"


Mata Mawar terbelalak saat melihat alat tes kehamilan yang iseng dia coba.


"Perasaan aku baru telat satu bulan...!" gumam Mawar.


Perasaan bercampur aduk antara senang dan sedih. Anaknya baru berusia enam bulan tapi sekarang dirinya sudah hamil lagi.


"Kok bisa ya, padahal aku sudah minum pil sesuai anjuran dari Dokter....!"


Mawar mengusap dahinya, wanita ini bersandar di wastafel dalam kamar mandi.


"Sayang, kamu ngapain di dalam?" Wira berteriak dari luar, "cepat keluar, lama banget!"


Bergegas Mawar membuka pintu, kedua tangannya dia sembunyikan di belakang.


"Kamu ngapain sih?" sekali lagi Wira bertanya.


Gugup lah wajah Mawar, bingung ingin menjawab apa.


"Apa yang kamu sembunyikan?" tanya Wira curiga karena kedua tangan istrinya terus berada di belakang.


"Gak ada kok mas!" bohong Mawar yang belum siap memberitahu Wira.


Wira mendelik lalu menarik tangan istrinya. Alat tes kehamilan tersebut jatuh, mata Wira langsung terbelalak lebar. Wira mengambil benda kecil tersebut lalu melihatnya.


"Sayang, kau hamil lagi kah?" tanya Wira tidak percaya.


"Aku juga gak tahu mas, aku iseng aja tes. Eh malah garis dua!"


Wira menarik nafas panjang, kakinya langsung lemas terduduk di lantai.


"Kok bisa hamil, gimana ceritanya coba?"


Wira berguling-guling di lantai. Bukan tidak menerima kehamilan Mawar, hanya saja Wira belum siap jika harus memiliki dua anak. Nyatanya kebutuhan biologis Wira akan kembali terganggu.


"Sayang, kok bisa hamil?" sekali Lagi Wira bertanya karena tidak percaya.


"Ya bisalah mas. Kamu hampir setiap malam menggarap ku!"


"Kalau kamu hamil lagi, mas bagaimana?"


"Apanya bagaimana?" Mawar bertanya balik.


"Mas gak bisa enak-enak seperti biasanya dong!"

__ADS_1


"Makanya di kurangi. Masa iya setiap malam kamu menggempur ku. Giliran aku hamil aja protes!" Mawar sewot.


Sudahlah, Wira pasrah. Pria ini memeluk istrinya, mengusap perut yang masih datar itu.


"Kita ke Dokter sekarang!" ajak Wira untuk memastikan kebenarannya.


Mereka bersiap-siap, kemudian menemui sang mamah sebelum pergi.


"Mau kemana kalian?" tanya Asti heran karena ekspresi wajah anak dan menantunya ini begitu sedih.


"Mau ke rumah sakit mah!" jawab Wira lesu.


"Mau ngapain, siapa yang sakit?" Asti panik.


"Mau cek kondisi kandungan Mawar!"


Mata Asti melebar, dirinya tidak percaya jika Mawar hamil lagi.


"Mawar, kamu hamil?" tanya Asti.


"Iya mah!" jawab Mawar singkat.


Bukan main senangnya Asti, dirinya langsung memeluk Mawar. Impian memiliki dua cucu akhirnya terkabul juga.


"Kamu hebat Wira, dalam waktu singkat Mawar sudah hamil lagi. Kalau seperti ini Al ada temannya. Mamah senang sekali...!"


Asti benar-benar girang atas kehamilan Mawar. Sedangkan Wira hanya diam saja tidak bisa mengekspresikannya sekarang. Mereka pergi ke rumah sakit, bertemu dengan Dokter kandungan Mawar yang dulu.


Benar positif, mau bagaimana lagi semua sudah terjadi. Padahal Mawar dan Wira sudah sepakat untuk menunda memiliki anak lagi.


"Namanya rezeki mau bagaimana lagi?" ujar Wira lalu mengajak istrinya pergi ke rumah Bayu.


Wira galau, namun tidak dengan Mawar yang merasa bahagia karena dirinya bisa di anugerahi kehamilan kedua.


"Apa, Mawar hamil lagi?" tanya Tia tidak percaya.


"Iya, kenapa?" ketus Wira.


"Kau memang guru terbaik!" puji Tia.


"Ya, kau hebat Wira. Anak ku saja belum lahir tapi Mawar sudah hamil lagi. Ngomong-ngomong ada gaya baru kah?" canda Bayu langsung mendapatkan lirikan tajam dari Wira.


"Gaya mata mu!" seru Wira kesal.


"Mawar, kamu hebat!" Tia memuji Mawar.

__ADS_1


"Hehe,...iya mbak!" ucap Mawar bingung.


Mereka hanya mampir sebentar, kemudian pulang. Setibanya di rumah Mawar langsung pergi tidur karena dia bilang sangat mengantuk.


Wira menatap wajah polos istrinya. Pria ini tidak percaya jika dia akan segera bergelar bapak dari dua anak.


Wira mengusap wajah istrinya, lembut sekali penuh dengan kasih sayang.


"Kau terlihat cantik hari ini. Ingin sekali aku memakan mu saat kau tidur seperti ini, tapi kecebong kecil itu mengejek ku sekarang!" ucap Wira benar-benar kesal pada dirinya sendiri.


Wira mengacak rambutnya frustasi, hatinya bingung ingin bersikap seperti apa.


"Mari menyiapkan warisan untuk keturunan ku!" ujar Wira lalu pergi ke ruang kerjanya.


Wira jenis pria yang telaten, saat Mawar hamil Al dirinya sudah menyiapkan segala keperluan untuk masa depan Al dan sekarang harus menyiapkan keperluan untuk anak keduanya lagi.


Setelah selesai dengan coret menyoretnya, Wira melihat jam yang menunjukkan pukul tiga sore. Tanpa izin dengan istrinya, Wira pergi ke makam almarhum Dania.


Pria ini meletakan setangkai bunga Mawar. Sampai kapan pun Wira tidak akan pernah melupakan wanita yang pernah mengisi sebagian cerita hidupnya ini.


"Dania, apa kabar sayang? maaf jika aku jarang pergi ke rumah mu sekarang. Istri ku hamil lagi, aku ingat kau dan anak kita. Apa kalian bahagia di sana? hmmm, sama seperti ku, aku tidak percaya jika sekarang aku akan memiliki dua orang anak."


Wira mengusap batu nisan almarhum istrinya.


"Kau dan anak kita jangan bersedih, aku tidak akan pernah melupakan kalian. Jujur saja, aku sangat merindukan kalian."


Sore ini sendu, entah kenapa Wira merasa sangat sedih sekali. Tentang masa lalunya, Wira masih merasa sakit telah kehilangan cinta pertamanya ini.


Dari makam, Wira pergi ke penjara. Pria ini ingin melihat wajah orang yang telah membunuh istrinya ini.


Sudah sekian bulan tidak melihat Widya, Wira hanya mentap dingin ke arah mantan adik iparnya itu.


"Mas Wira,...!" lirih Widya dengan wajah sedihnya, "ku mohon bebaskan aku. Aku janji akan menjadi manusia yang lebih baik lagi."


"Setelah apa yang kau lakukan pada Dania dan anak ku?"


"Aku mohon mas, aku tidak bisa hidup di dalam tempat seperti ini?"


"Lalu bagaimana dengan ku hah? kau telah menghancurkan rumah tangga ku, rumah tangga kakak mu sendiri bahkan kau membunuhnya. Benar jika aku sudah mengikhlaskan kepergian Dania. Tapi aku tidak pernah ikhlas jika orang seperti mu bebas berkeliaran!"


"Aku berjanji tidak akan mengulangi perbuatan ku mas. Aku akan pergi jauh seperti dulu...!"


"Enak sekali permintaan mu ini. Di banding tidak melihat mu, aku lebih puas jika melihat kau membusuk di penjara ini," ucap Wira dengan senyum sinisnya.


"Mas, lagian sekarang kau sudah memiliki istri dan anak. Kenapa masih memasukan ku penjara?" Widya memberikan pertanyaan bodoh pada Wira yang membuat Wira tertawa.

__ADS_1


"Kau pembunuh Widya, kau harus di hukum. Ingat dalam hati mu yang paling dalam, kau adalah seorang pembunuh!" ucap Wira penuh penekanan. Pria ini beranjak dari duduknya kemudian pergi, Widya terus berteriak, memohon pada Wira agar di bebaskan dari penjara. Widya sendiri di vonis hukuman seumur hidup atas rencana pembunuhan yang mengakibatkan dua nyawa melayang sekaligus.


__ADS_2