
"Farah, cerita dong. Laki-laki tadi itu siapa? kok dia marah-marah sama kamu?" Wiwi bertanya lagi pada Farah karena penasaran.
"Kamu ketemu dengan siapa?" tanya Joni ikut penasaran.
Farah kemudian menceritakan siapa Wira pada Wiwi. Cukup tragis Wiwi mendengarnya, sekarang bisa di lihat jika raut wajah Farah penuh dengan penyesalan.
"Udah, gak usah di ingat lagi. Laki-laki bukan hanya satu Wira, masih ada aku!" ujar Joni membuat Farah kesal.
"Gak bakalan ada yang mau sama anak tongkol seperti kamu. Suka mabuk-mabukkan, jahat lagi...!"
"Di mana letak jahatnya aku?" tanya Joni tidak terima.
"Kalau kau orang baik, tidak mungkin kau menjual aku pada mami Ger. Sialan betul kau ini."
"Lah, ku pikir kau hanya di jadikan gadis karaoke. Eh ternyata malah tempe mendoan mu di jual sama mami Ger!"
"Bajingan, sialan kau!" umpat Farah benar-benar kesal.
Wiwi yang melihat Farah dan Joni saling jambak hanya bisa tertawa. Mendapatkan teman seperti mereka yang meskipun kehidupannya sangat kotor, tapi jika di lihat mereka ini sebenarnya orang baik.
Untuk sekarang, Farah sudah sangat kecewa pada mamahnya. Wanita ini sama sekali tidak berniat untuk menjenguk sang mamah lagi dan bertekad pergi keluar negeri demi hidup yang lebih baik melupakan semua masalah yang pernah dia alami di kota ini.
Kabar Bambang, sampai dengan detik ini Wira masih menyekap pria tua tersebut. Wira ingin memberi pelajaran pada Bambang atas kesakitan yang sempat di rasakan Mawar beberapa waktu yang lalu.
Dengan sisa tenaganya, Bambang mencoba mencari jalan keluar dari gudang ini. Namun, sangat di sayangkan karena gudang tua ini hanya memiliki satu pintu dan ventilasi kecil.
Buk,...buk,....
Bambang mencoba menendang pintu yang sangat kokoh tersebut hingga membuat kakinya sedikit terkilir.
"Bedebah!" umpat Bambang dengan wajah babak belurnya, "aku tidak ingin mati di tangan bocah ingusan itu...!"
Krek,....
Pintu tiba-tiba terbuka hingga membuat Bambang terkejut.
"Bawa dia pak...!" titah Bayu pada dua orang pria yang berpakaian serba hitam.
"Mau di bawa kemana aku hah?" tanya Bambang ketakutan.
"Tempat di mana seharusnya kau berada. Di mana lagi kalau bukan hotel bintang sepuluh!" jawab Bayu lalu tertawa.
__ADS_1
Sesuai permintaan Wira pada Bayu yang menginginkan Bambang di jebloskan ke penjara setelah puas menghajarnya.
Bambang di borgol, sebelum di bawa ke kantor polisi pria tua ini di mandikan terlebih dahulu karena tubuhnya sangat kotor dan bau dengan kotoran dirinya sendiri.
"Pelan-pelan, aku ini orangtua!" ujar Bambang yang tidak terima ketika dua orang polisi tersebut menyiramnya dengan seember air.
"Orangtua yang tidak pantas di sebut orangtua. Hampir saja kau membuat dua nyawa melayang, apa kau tidak sadar akan kesalahan mu hah?"
Bayu gemas sendiri ingin menarik kumis Bambang yang nampak memanjang.
"Kalian sama bajingannya!" ucap Bambang membalas perkataan Bayu.
Setelah bersih, Bambang langsung di gantikan pakaian lalu di masukan kedalam mobil polisi.
Terus menganggap dirinya tidak bersalah, Bambang masih tidak mau mengakui jika dirinya yang sudah mencelakai Mawar beberapa waktu yang lalu.
Kedua anak Bambang datang ke kantor polisi setelah polisi memberitahukan jika sang papah sedang berada dalam masalah sekarang.
Huft,...
Anak perempuan Bambang membuat nafas kasar.
"Sampai kapan papah ingin seperti ini?" tanya anak perempuan Bambang yang bernama Nirina.
"Jangan kebanyakan omong, cepat bebaskan papah dari tempat ini," ujar Bambang yang kesal di hakimi kedua anaknya.
"Pah, papah sudah tua. Tahun ini sudah enam puluh tahun, kapan papah tobatnya hah?"
Nirina benar-benar kecewa dengan papahnya.
"Nanti, setelah aku mati," sahut Bambang dengan santainya, "cepat bebaskan papah!"
"Papah tetap akan di proses secara hukum. Tindakan papah yang ingin menghilangkan nyawa seseorang sudah sangat keterlaluan. Jadi, maafkan kami tidak bisa membantu!" ujar Yuda membuat emosi Bambang langsung naik.
"Pergi sana, dasar anak durhaka. Kalau aku tahu kalian akan membuang ku seperti ini, lebih baik aku membuang kalian ke closed saat mengeluarkan kalian dulu."
Kedua anak Bambang hanya mendengar namun tidak menanggapi. Jika di lihat papahnya ini tidak ada rasa penyesalan hingga membuat mereka berdua memutuskan untuk tidak membantu sang papah dalam kasusnya sekarang.
Beda lagi dengan Wira yang sekarang sedang menikmati perannya menjadi orangtua. Sebagai ayah yang baik, Wira belajar mengganti popok anaknya setelah bab.
Baunya luar biasa, untuk pertama kalinya Wira membuang tumpukan emas di pan*at anaknya.
__ADS_1
Sambil mendengar arahan dari sang mamah, Wira melakukan semuanya dengan gerakan lambat membuat Asti sebenarnya geram begitu juga dengan Mawar.
"Lihat burungnya, kenapa kecil sekali? ini bukan warisan ku, pasti ini warisan almarhum papah. Iyakan mah?"
Plak,....
akhir-akhir ini Asti suka menjitak kepala anaknya.
"Kalau ngomong asal mangap saja. Mamah bisa gila menghadapi kamu ini Wira."
"Mas, kamu ini kalau ngomong gak sopan banget sih!"
"Aku kan bicara kenyataan. Lihat ini, masih besar juga jari kelingking ku!" ujar Wira yang menyandingkan jarinya dengan burung anaknya.
"Wira, sebaiknya kamu keluar saja sana. Pergi kemana kek, nongkrong atau apa gitu. Biasanya dulu kamu gak betah di rumah kok!"
Asti malah mengusir anaknya sendiri lalu menoleh ke arah Mawar yang sampai detik ini Asti sangat yakin jika pikiran Mawar yang polos sudah di racuni dengan anaknya sendiri.
"Lah ngusir, ini anak ku. Bukan anak mamah!"
Plak,....
Sekali lagi Asti menjitak Wira.
"Melihat kelakuan kamu yang sekarang, mamah yakin pasti banyak perempuan di luar sana yang mundur jika mereka tahu. Mawar, sungguh sial Mawar bertemu dengan laki-laki seperti kamu ini," ucap Asti geram.
Mawar hanya tertawa, dirinya tak menyangka jika mertuanya bisa mengatakan hal seperti ini.
"Iya nih mah, baru kenal langsung ngajak nikah aja!" timpal Mawar berada di kubu mertuanya.
"Dari pada zina, mending nikah. Gitu aja kok repot!" sahut Wira yang sudah selesai mengganti popok baby Al. "Wuah, sudah tampan dan Wangi. Sayang, sebaiknya kita pergi keluar untuk mencari cewek cantik ya...!" Wira bicara pada anaknya.
"Mas,....!" Mawar sudah tidak bisa mengeluarkan kata-kata lagi.
"Jangan ajari anak mu seperti itu Wira. Huh, kamu ini bikin emosi saja!"
"Hanya bercanda, kenapa sih mamah dan Mawar selalu menganggapnya serius?"
"Candaan kamu udah kelewatan!" seru Mawar.
"Ya tidak ada salahnya dong jika Al menerima warisan ketampanan dari papahnya yang banyak di gandrungi wanita-wanita cantik!"
__ADS_1
Asti menyenggol tangan Mawar, itu tandanya Asti melarang Mawar untuk menanggapi ucapan Wira yang sudah kemana-kemana itu. Pusing, cukup pusing bicara sama Wira. Asti memilih pergi ke kamarnya untuk mengistirahatkan kepala yang panas ini.