Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Chapter 56


__ADS_3

"Sayang,....Mawar ku....!!" lirih Wira dengan suara bergetar, "jangan tinggalkan aku. Kau sudah janji akan selalu mekar di hati ku. Ku mohon bangunlah...!!"


Sudah tidak sanggup lagi Wira melanjutkan ucapannya, tenggorokannya cekat seperti ada bongkahan batu yang menahannya di sana.


Wira dapat merasakan jika tubuh Mawar sangat lemas dan dingin. Merasakan itu semua Wira benar-benar tidak bisa menahan tangisnya. Apa lagi bayangan almarhum Dania terus menghantuinya.


"Aku tidak pernah mendengar mu mengeluh tentang kehidupan yang kau jalani selama ini. kau selalu kuat Mawar ku, tapi kenapa sekarang kau nampak lemah? sungguh kau membuat ku hancur."


"Wira,....!!" Lirih Asti yang baru saja di izinkan untuk masuk, "jangan menekan istri mu nak. Biarkan dia istirahat."


"Mawar pasti bangunkan mah? Apa Mawar akan meninggalkan ku sama seperti Dania?"


Tiba-tiba saja Wira memeluk mamahnya dengan sejuta rasa ketakutan di dadanya.


"Tidak, Mawar tidak akan meninggalkan mu. Mawar hanya layu, nanti dia akan mekar lagi. Mawar mu hanya tertidur sebentar nak. Jadi, kau jangan takut."


"Wira belum siap kehilangan Mawar. Wira mau Mawar dan anak Wira tetap hidup. Wira bisa gila mah!"


Erat sekali Asti memeluk anaknya, keadaan seperti ini yang di rasakan Asti sama seperti keadaan Dania meninggalkan Wira dulu.


Tidak bisa berlama-lama, Wira dan Asti juga Bayu dan Tia hanya menunggu di luar ruangan. Wira tersandar lemah, sesekali air matanya keluar membasahi pipi.


"Mas Wira,....!!" pak Norman menghampiri Wira, membuat Wira jadi ingat kenapa istrinya menjadi seperti ini.


"Pak, bagaimana hasilnya?" tanya Wira lalu pak Norman menunjukan satu rekaman yang membuat darah Wira mendidih.


Pria ini mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras penuh amarah. Bayu yang melihat Wira naik emosi langsung menenangkan Wira.


"Bajingan...!" umpat Wira, "Bambang, sudah lama dia menghilang sekalinya keluar membuat istri ku celaka. Awas saja dia...!!"


Meskipun Bambang menggunakan helm. Tapi, Wira masih bisa melihat dengan jelas wajah terong tua itu.


"Bay, cari dia...!" titah Wira pada sahabatnya ini.


"Aku akan mencarinya, sebaiknya kau tenangkan diri mu. Aku akan mengabari mu nanti."


Wira mengacak rambutnya frustasi, mengingat dirinya pernah menghancurkan Bambang. Tidak, bukan salah Wira. Wira hanya membalas apa yang mereka perbuat saja.


"Perasaan Bambang itu suka sekali mengusik keluarga kita dari zaman papah mu masih hidup. Maunya apa sih?"


Asti geram sendiri.


Jarum jam terus berputar, siang pun telah berganti malam. Tia juga masih setia menemani Asti yang menunggu Mawar di luar ruangan begitu juga dengan Wira.


Jam sudah menunjukkan pukul satu malam, Asti dan Tia terlelap saling bersenderan. Sedangkan Wira tidak bisa memejamkan matanya, hati dan pikirannya kalut. Sejak siang tadi, belum lagi Wira melihat sang istri.


"Pak Wira,....!"


suara perawat mengejutkan Wira.


"Ada apa sus?" tanya Wira.


"Istri bapak sudah siuman. Silahkan masuk!"


Wira membangunkan mamahnya, mengabarkan jika Mawar sudah sadar. Mereka di izinkan untuk masuk.

__ADS_1


"Sayang,...!!"


Wira langsung menghampiri sang istri yang masih lemah itu.


"Mas Wira,....!" lirih Mawar, wanita ini belum sadar jika dirinya sudah melahirkan anaknya.


"Sayang, kau sudah sadar. Mas khawatir memikirkan mu."


Mawar tidak menanggapi ucapan suaminya, tanganya yang masih lemas tiba-tiba meraba perutnya yang terasa nyeri.


"Mas, kenapa perut ku kempes?" tanya Mawar syok, "di mana anak ku mas...di mana anak ku...?"


Mawar panik, syok bahkan tangisnya seketika pecah ketika sadar jika perutnya sudah datar.


"Sayang tenang...!"


"Mawar tenang nak,...!"


Tia tidak maju, wanita itu tidak kuat melihat pemandangan di depannya.


"Anak kita mas, di mana anak kita? kenapa perut ku kempes?"


"Anak kita sudah lahir, dia ada di ruangan berbeda. Kamu yang tenang, anak kita ada."


"Aku ingin melihat anak kita mas. Mas Wira pasti bohong!"


"Mas gak bohong sayang, anak kita ada di ruangan yang berbeda."


"Mah, mas Wira pasti bohong kan?" Mawar bertanya pada mertuanya.


"Tidak Mawar, anak kalian ada di ruangan yang berbeda."


"Besok pagi ya, sekarang kamu istirahat dulu." Wira membujuk istrinya.


"Gak mau, aku ingin melihat anak kita. Aku gak percaya jika anak kita sudah lahir. Mas,....!!


Mawar kembali tidak sadarkan diri, membuat seisi ruangan panik. Dokter yang masih berada di dalam ruangan meminta Wira keluar kembali.


Buk,....


Tanpa sadar Wira kembali menonjok tembok lagi.


"Wira,....!!"


Bayu yang baru saja datang langsung menampar wajah Wira agar lelaki itu sadar.


"Mawar ku,....!" lirih Wira yang sudah terduduk lemas.


"Aku sudah menangkap pak Bambang. Tenanglah...!"


"Pasti dia bekerjasama dengan Farah. Aku tahu betul jika mereka sangat dendam pada ku!"


"Aku juga tidak tahu itu, aku hanya menemukan pak Bambang."


Obrolan mereka terhenti ketika Dokter keluar.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan istri ku Dok?" tanya Wira kembali khawatir.


"Untuk sekarang biarkan istri anda istirahat. Dia masih syok, jangan di ganggu dulu."


Huft,....


Mendengar istrinya baik-baik saja Wira bisa bernafas lega sejenak.


"Tia, tolong temani mamah ku. Aku akan pergi sebentar," pinta Wira pada istri sahabatnya itu.


"Iya,...!"


"Kamu mau kemana Wira?" tanya Asti.


"Aku akan membuat perhitungan pada terong tua itu...!" jawab Wira lalu mengajak Bayu pergi.


Di rumah sakit, Asti hanya di temani Tia dan pak Norman.


Wira dan Bayu pergi ke gudang tua yang lumayan jauh. Emosi Wira langsung naik ketika melihat Bambang yang sudah terikat di kursi tua.


Buk,.....


Tanpa aba-aba lagi Wira menendang Bambang yang sedang tertidur.


"Bajingan,....brengsek. Bangun kau pak tua...!!"


uhuk,...uhuk,....


Bambang terbatuk-batuk....


Wira mencengkram leher Bambang.


"Istri ku tidak memiliki salah apa pun pada mu. kenapa kau menyakitinya hah?"


"Dia memang tidak salah, tapi kau yang salah!" ucap Bambang membuat darah Wira semakin panas.


Buk,...buk,...buk,.....


Wira menghajar pria paruh baya itu. Bayu tidak mau melerai, lelaki itu membiarkan Wira melampiaskan emosinya.


"Katakan, di mana Farah?" tanya Wira, "kau dan dia pasti sudah merencanakan ini semua!"


"A-ku,...aku tidak tahu di mana ****** itu!" jawab Bambang semakin membuat Wira emosi.


"Brengsek! persetan dengan kau yang sudah tua...!!"


Buk,...buk,...buk....


Wira terus menghajar Bambang sampai pria tua itu tidak sadarkan diri.


"Sudahlah....ayo kembali....!"


Bayu mengajak Wira pergi.


"Biarkan aku menghajar bedebah ini sampai mati...!" ujar Wira yang belum puas.

__ADS_1


"Dia sudah pingsan, lanjutkan besok saja. Ingat anak istri mu jauh lebih penting sekarang."


Mengingat Mawar dan anaknya, emosi Wira kembali redam. Pria ini pada akhirnya menurut dengan omongan Bayu. Mereka kembali ke rumah sakit.


__ADS_2