Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Chapter 85


__ADS_3

"Gak usah ngurusin cafe. Udah, kamu duduk diam rebahan di rumah aja. Aku gak mau kamu kecapean atau kenapa-kenapa," ucap Bayu yang geram karena Tia memaksa untuk pergi ke cafe.


"Ya udah, kalau aku gak boleh kerja kamu gak usah kerja juga. Temani aku di rumah!"


Bayu menggaruk kepalanya tak gatal.


"Kalau aku gak kerja, kita mau makan apa? yang ada perusahaan ku bangkrut nanti."


"Belajar lagi sama Wira. Pasti dia punya solusinya!" Tia menyarankan suaminya.


"Ah, kau ini. Wira lagi dia lagi...!"


"Ingat, berkat berguru dengan Wira perut ku sudah kau buat bengkak!"


"Aku sungkan merepotkan Wira terus!"


"Aku juga mau di perlakukan seperti Mawar. Mawar mantan karyawan ku, masa iya nasib dia lebih baik dari aku?"


Melihat wajah manyun istrinya, Bayu langsung mengiyakan.


"Di tolak pasti gak dapat jatah. Gak di tolak pasti aku yang ribet," batin Bayu, "terserah kau lah Tia, kau ratunya di rumah ini...!"


Sejak hamil, Tia selalu menggelayut manja pada suaminya. Tidak bisa di bentak dan yang lebih anehnya, sejak hamil Tia lah yang suka minta jatah duluan.


Lain lagi dengan Mawar dan Wira, hari ini adalah acara peresmian hotel. Ramai sekali tamu undangan yang hadir. Tapi, ada hal yang membuat Wira jengkel ketika anak semata wayangnya yang tampan ini menjadi pusat perhatian. Istri dari beberapa rekan bisnis Wira suka sekali mencubit pipi gembul Al.


"Mas, wajah mu jangan di tekuk seperti itu ah!" tegur Mawar.


"Lihat anak kita, kenapa dia tidak menangis saja? suka sekali di gendong tangan orang banyak."


"Itu tandanya anak mu idola di sini. Biarkan saja, asal dia tidak rewel."


"Halah, kau tidak tahu berapa banyak kuman dan virus di tangan mereka?"


"Husss,...jangan ngomong seperti itu. Kalau ada yang dengar bagaimana?"


Ternyata, bukan hanya Wira yang jengkel. Asti juga dongkol sendiri melihat cucu kesayangan menjadi bahan rebutan.


"Aduh,...bekas lipstik siapa ini?" tanya Asti langsung mengambil Al.


"Maaf jeng, gak sengaja. Cucunya bikin gemas sih!"


Ingin sekali Asti menarik bibir ibu-ibu yang sebaya dengannya itu. Sebenarnya Wira ingin merayakan ulangtahun Mawar secara mewah namun sang istri menolak keras.


Pulang dari acara, rasanya lelah juga. Wira menidurkan anaknya, setelah itu menghampiri sang istri yang duduk di sofa. Sebagai suami yang baik, Wira langsung memijat kaki istrinya. Mawar menolak, tapi tetap saja dia akan kalah jika berdebat.


"Bagaimana, apa anu mu sudah baikan?" tanya Wira sungguh mengejutkan Mawar.


"Mas, apa gak ada pertanyaan lain kah?"

__ADS_1


"Gak ada, itu area penting bagi mas. Jadi, harus di pastikan baik-baik saja!"


"Em, memangnya punya mas gak lecet?" tanya Mawar malu-malu.


"Lecet kepalanya, tapi gak ngaruh. Mas bisa goyang sepuluh ronde lagi...!"


Mawar tertawa, ada-ada saja suaminya ini. Di rasa enakan, Wira menyuruh istrinya untuk istirahat sedangkan dirinya masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan lagi.


Keadaan Wiwi, wanita ini sudah kembali sehat. Hanya diam saja tak berani membuka suara, apa lagi wajah Farah seperti ingin menerkamnya.


"Berapa kali kau menggoyang dia?" tanya Farah langsung membuat mata Jonas melebar tidak dengan Joni dan Wiwi yang sudah biasa dengan hal seperti itu.


"Cuma satu kali...!" jawab Wiwi dengan jujur.


"Berapa lama waktunya?" pertanyaan Joni menimpali.


"Tidak sampai lima menit. Kakak mu ini sudah terangsang. Cepat sekali keluarnya!"


Wajah Jonas seperti di lempar kotoran bebek, ingin sekali menggeraut wajah Wiwi yang sangat sudah berkata jujur ini.


"Aku,.....!" Jonas gugup.


"Kakak mu ini terlalu polos. Aku tidak suka laki-laki seperti ini...!" cibir Farah.


"Dan kau beruntung menikah dengan aku. Kau saja bisa mati kutu di atas ranjang ku buat!" sahut Joni.


Pembicaraan macam apa ini, Jonas geli sendiri mendengarnya.


"Mau pulang, obrolan kalian sungguh menjijikan!"


"Bawa dia bersama mu!" ujar Farah langsung di tolak Jonas, "bukankah kau sudah menikahinya? dia istri mu, kenapa masih di bebankan pada kami?"


Semakin bingung, Jonas melirik ke arah Wiwi lalu membuang wajah.


"Aku tidak mau ikut dia...!" ujar Wiwi.


"Jika kau tidak mau ikut bersama kakak ku, akan ku buang kau ke sungai...!" sahut Joni.


"Berisik...!" seru Jonas, "kemasi barang mu dan ikut bersama ku!"


Pernikahan macam apa ini, Wiwi benar-benar bingung di buatnya.


"Cepat atau ku tinggal!" ancam Jonas membuat Wiwi langsung mengemasi semua barangnya.


Sambil merangkul pundak istrinya, Joni dan Farah melambaikan tangan melepas kepergian Wiwi.


"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya Farah mulai bingung.


"Apa lagi kalau bukan.....!'' ucap Joni sambil menirukan goyangan ranjang.

__ADS_1


"Sialan!" umpat Farah, "kau adalah suami terbajingan yang pernah aku temui...!"


"Jangan banyak bacot. Masuk kamar cepat...!"


Entah ada rasa cinta atau tidak di antara mereka berdua ini. Yang jelas Joni dan Farah sudah sepakat untuk menjalani hubungan ini.


"Joni, brengsek kau! tidak bisakah bermain lembut sedikit?"


"Kau sayang menggoda ku sayang. Kenapa kita tidak menikah sejak dulu saja ya?"


"Kau menjual ku bajingan. Apa kau lupa hah?"


"Kau yang minta, jadi aku hanya mengabulkannya saja!"


"Nakal sampai ke dasar sumur eh gak tahunya nikah sama kamu. Sial sekali hidup ku!"


Tidak peduli dengan ocehan Farah, Joni sedang asyik dengan gerakannya. Farah juga sangat menikmati permainan Joni, kedua manusia ini liar. Hubungan suami istri bukan hal tabu lagi bagi mereka berdua.


"Aku yakin, dari banyak laki-laki yang kau tiduri pasti tongkol ku ini kan yang paling besar?"


Farah tidak menjawab, membuat Joni yakin jika itu benar.


"Joni, aku hampir keluar!" bisik Farah mulai sibuk mencengkram punggung Joni.


"Tunggu aku sayang!"


Joni mulai mempercepat gerakannya.


Plok,....plok.....plok....


Nyaring sekali bunyinya, kamar ini tidak kedap suara tapi untuk saja hanya ada mereka berdua.


Aaaaaah....."Joni,....!!"


Gerakan Joni begitu cepat, membuat Farah semakin berada di ujung.


Cepak....cepak....cepak....


Aaaah....aaaaah....


Keduanya *******, berada di puncak sebuah kenikmatan dalam berhubungan suami istri. Tidak peduli masih siang, yang penting hajar terus.


Joni terhempas di samping Farah, pria ini menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.


"Sebenarnya, kita menikah ini untuk apa sih?" tanya Farah dengan nafas ngos-ngosan.


"Ya untuk berumah tangga!"


"Kenapa kau tidak menikah dengan perempuan lain saja?"

__ADS_1


"Kalau ada di depan mata kenapa harus mencari yang lain?" Joni bertanya balik, "ada rasa yang tidak bisa aku jelaskan tapi bisa aku praktekan. Kau tahu bagaimana sifat ku bukan?"


Farah bingung, hatinya merasa hangat ketika mendengar ucapan Joni yang barusan. Cinta, seperti apa cinta itu? Farah tidak pernah mendapatkan cinta dari almarhum papannya, jadi dia tidak tahu bagaimana rasanya di cintai seorang laki-laki.


__ADS_2