Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Chapter 48


__ADS_3

"Mas, aku pengen makan sate," rengek Mawar di pagi buta.


"Iya, sebentar lagi kita akan pergi beli sate ya...!" ujar Wira yang sebenarnya dia sendiri tidak tahu apa ada orang yang jual sate ayam di pagi hari.


"Tapi,.....!"


Mawar tidak melanjutkan ucapannya.


"Tapi apa hem,...?"


"Tapi, aku mau gerobak dan tukang satenya ada di depan rumah!"


Jleb,.....


Wira langsung tercengang mendengar ucapan sang istri. Mata yang masih mengantuk mendadak terang.


"Sayang, di mana ada yang jual?"


"Gak mau tahu, aku mau sate sama gerobak nya!" rajuk Mawar, "kalau mas Wira gak mau ya udah, aku gak mau mandi. Gak mau makan dan gak mau keluar dari kamar!"


Wira menggaruk kepalanya tak gatal, pria ini bingung sendiri ingin melakukan apa.


"Gosok gigi dulu, sisanya di pikirkan sambil bab!" batin Wira langsung pergi ke kamar mandi.


Butuh waktu setengah jam bagi Wira untuk bercengkrama di kamar mandi.


"Sayang, aku pergi ya....!!" pamit Wira namun Mawar hanya mengeluarkan jempolnya.


Wira bergeleng kepala, menghadapi sikap Mawar yang suka berubah-ubah setelah hamil, membuat Wira harus menumpuk lagi rasa sabarnya.


Masih pukul setengah enam pagi, Wira mulai sibuk memutari jalanan mencari tukang sate bergerobak sesuai permintaan sang istri. Mau di tolak tapi Wira paham jika istrinya sedang mengidam. Mau tidak mau Wira mengabulkan permintaan Mawar.


Berkat bantuan seorang teman, akhirnya Wira menemukan tukang sate yang sedang bersiap menata dagangannya. Pada awalnya si tukang sate menolak, namun Wira yang tidak kehabisan akal berhasil membujuk si tukang sate.


Dengan menyewa satu mobil bak terbuka, Wira berhasil mengangkut si tukang sate bersama gerobaknya menuju rumah.


"Kalau uang ya langsung gas. Untung demi Mawar ku, kalau buat istri tetangga mah ogah!"

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama, Wira dan si tukang sate tiba di rumah. Di bantu pak Norman dan penjaga rumah, mereka menurunkan gerobak sate tersebut.


"Pak, kobongkan saja satenya sekarang. Saya masuk dulu untuk memanggil istri ku!" kata Wira langsung di iyakan si tukang sate.


Wira masuk ke dalam rumah, ternyata Mawar kembali tidur setelah suaminya pergi. pria ini langsung membangunkan Mawar lalu mengajaknya keluar tanpa mencuci wajah.


"Wuah,...ini sama seperti mimpi ku loh mas. Pagi hari makan sate di halaman rumah. Terimakasih suamiku!" ucap Mawar tanpa malu mencium pipi suaminya.


"Orang kaya mah bebas!" seru si tukang sate langsung di benarkan pak Norman.


Tidak hanya untuk istrinya, Wira juga mengizinkan para pembantu, supir dan penjaga rumahnya untuk makan sate bersama.


Setelah puas dengan apa yang di idamkan, si tukang sate mulai berkemas untuk melanjutkan jualannya lagi. Berhubung hari ini hari minggu, jadi si tukang sate di antar kembali menuju pusat kota.


"Terimakasih mas, kalau istrinya ngidam sate lagi. Panggil saya saja!" ucap si tukang sate sebelum pergi.


Wira memicingkan matanya kesal, kata-kata yang baru saja di ucapkan si tukang sate sangat menggelitik di kuping Wira.


"Enak saja, masa iya kamu rela meninggalkan aku yang tampan dan kaya raya ini demi si tukang sate tua itu?"


"Mas, hais.....!!" Mawar gemas sendiri, "kamu tuh ya, bisa gak pikirannya jangan aneh-aneh?"


Setelah puas makan sate, Mawar pergi mandi. Wira kembali keluar setelah bi Jum memberitahu jika ada tamu yang datang.


"Mau apa kau kesini?" tanya Wira tidak suka dengan kehadiran Silla, "dari mana kau tahu alamat rumah ku?"


"Em, ini. Aku tadi masak banyak, aku ingat kamu. Jadi, aku bawakan saja untuk mu!" kata Silla yang benar-benar tidak tahu malu.


"Di mana letak rasa malu mu hah?" tanya Wira, "aku sudah beristri. Kenapa kau sangat berani menginjakan kaki mu di rumah ku? Silla, apa kau lupa jika kita hanya rekan bisnis?"


Rantang yang di pegang Silla menggantung di udara, Wira sama sekali tidak tertarik untuk mengambilnya.


"Apa salahnya jika aku seperti ini?" tanya Silla membuat Wira tertawa.


"Tentu saja salah. Tidak pantas bagi seorang perempuan datang ke rumah pria yang sudah beristri. Jadi, silahkan pergi...!" usir Wira.


"Tapi Wira,....!"

__ADS_1


"Pergilah, aku ingin menggejot istri ku!" celetuk Wira dengan sengaja dan langsung masuk kedalam rumah.


Hati Silla panas, nafasnya naik turun menahan emosi. Dengan perasaan sakit hati, Silla langsung pergi dari rumah Wira.


Wira menghubungi Dimas, mengajak pria itu bertemu untuk membahas sesuatu yang penting.


"Sayang, mas ada janji sama Dimas. Ada pekerjaan penting!" ujar Wira seperti orang terburu-buru, "kalau kamu mau makan sesuatu atau lainnya, telpon mas saja ya."


"Iya mas, hati-hati di jalan!"


Sebelum pergi tidak lupa Wira mengecup kening istrinya dan mencium perut buncit sang istri.


Wira dan Dimas janjian di sebuah cafe yang berada tak jauh dari komplek perumahan Wira.


"Untung saja kau datang duluan, jika tidak akan ku tendang kau!" celoteh Wira yang baru saja masuk dan melihat Dimas sudah menunggunya.


Mereka memesan minuman, Dimas yang penasaran dengan pekerjaan yang di berikan Wira langsung bertanya.


"Pekerjaan apa ya pak?" tanya Dimas.


"Batalkan semua kerja sama perusahaan kita dengan perusahaan Mustika Berlian, kalau pun kita di kenakan denda. Ganti saja semuanya!" titah Wira membuat Dimas heran.


"Loh pak, kok di batalkan. Perasaan kerjasama kita selama ini baik-baik saja."


"Aku sudah tidak tahan lagi dengan Silla. Dia sudah berani datang ke rumah ku. Ini sama saja dia bisa merusak rumah tangga ku."


"Oh, saya mengerti. Baiklah, akan saya kerjakan setelah pulang ini."


"Menjijikan, dulu Farah sekarang Silla. Kenapa ada saja perempuan yang tega merusak rumah tangga perempuan lain?"


"Sebenarnya itu hanya obsesi saja pak. Mereka merasa belum puas jika belum memiliki. Jadi, meskipun itu salah tapi mereka tidak peduli."


"Mawar ku adalah segalanya bagi ku. Aku tidak peduli dengan kerugian yang akan kita tanggung. Besok-besok, kita cari klien yang tua saja."


"Perempuan pak?" tanya Dimas tidak mengerti.


"Menurut mu?"

__ADS_1


"Hehe,.....!!"


Silla, wanita ini baru saja pulang dan langsung marah-marah tidak jelas. Desi juga hanya diam saja, karena sudah bosan menasehati bosnya ini. Sedangkan Yunita sibuk mengompori Silla, membuat Desi semakin curiga padanya. Semakin hari melihat sikap Yunita, Desi sangat yakin jika Yunita bukan orang baik-baik. Namun, Desi tidak ingin bersuara karena takut jika dirinya memfitnah orang lain.


__ADS_2