Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Chapter 102 (TAMAT)


__ADS_3

Dengan keseharian rumah tangga Mawar dan Wira yang sangat bahagia sambil menanti kelahiran anak kedua mereka.


Tidak ada lagi yang berusaha mengusik keluarga mereka. Memiliki Mawar dalam hidupnya telah membuat Wira banyak berubah. Sakit karena kehilangan pada akhirnya di gantikan dengan orang baru yang membawa kebahagiaan.


Mencintai Mawar lebih dari dirinya sendiri, apa pun akan di lakukan oleh Wira asal istri bahagia. Begitu juga dengan Mawar, tidak mungkin bagi dirinya berpaling dari Wira karena sejatinya Wira lah yang sudah mengubah kehidupannya.


Pernah berada di titik paling terendah, Mawar dan Wira berusaha menjadikan masa lalu sebagai pelajaran terutama Wira. Pernah kehilangan anak dan istrinya membuat Wira menjaga betul-betul rumah tangganya.


Meskipun setiap harinya Mawar harus semakin melebarkan dada untuk rasa sabar menghadapi tingkah konyol sang suami.


"Apa yang kau lamunkan mas?" tanya Mawar membuyarkan lamunan Wira yang duduk di samping istrinya.


Mawar menurun kaki dari atas ranjang, menatap wajah suaminya yang terlihat semakin tampan.


"Aku bahagia saja saat melihat mu dan Al tidur. Aku tidak percaya jika Tuhan telah memberi ku nikmat setelah rasa luka dari kehilangan beberapa tahun silam."


"Setiap orang pernah merasakan kehilangan mas. Tapi, rasa kehilangan setiap orang pasti berbeda-beda."


"Dan sekarang aku sangat takut kehilangan kau dan anak-anak kita," ucap Wira dengan menatap dalam mata istrinya, "setiap lelucon yang aku buat, itu bisa membuat ku lupa dengan segala luka. Kau tahu jika almarhum Dania meninggal secara sengaja di buat adiknya sendiri. Percayalah Mawar, aku masih sakit akan hal itu."


Mawar menarik nafas panjang, meraih tangan sang suami.


"Yang terjadi ikhlaskan mas, dia sudah mendapatkan hukuman atas kejahatannya."


"Maka dari itu mas sangat takut kehilangan kamu. Wira sangat mencintai Mawar," ucap Wira dengan manjanya memeluk sang istri.


"Mawar juga mencintai Wira...!" balas Mawar tak mau kalah.


Wira memangku Mawar, pasangan suami istri ini malah asyik menonton baby Al yang masih terlelap tidur. Tentu saja belum bangun, karena sekarang baru pukul lima pagi.


"Al semakin besar semakin mirip kamu mas. Tampan menggemaskan!"


"Semua anak harus mirip dengan aku!"


"Lah, enak banget kamu. Gak adil...!"

__ADS_1


"Ya emang, kan aku yang punya benih...!" ucap Wira dengan bangganya sambil mengusap perut sang istri.


Mendengar suara ribut dari kedua orangtuanya, Al terbangun lalu duduk dengan wajah cemberut menoleh ke arah Mawar dan Wira.


Mawar dan Wira terdiam, menatap wajah anaknya yang dingin menatap mereka.


"Sopankah kau menatap orangtua mu seperti itu Al?" celetuk Wira pada anaknya yang masih sibuk mengumpulkan nyawa setelah bangun tidur.


"Mas,...!"


Mawar menghampiri anaknya, berniat menggendong Al namun bocah tampan itu menolak.


Al merangkak, turun dari atas ranjang lalu naik ke pangkuan sang papah.


"Apah Al....!" ucap bocah kecil yang baru belajar bicara itu. Al menatap wajah mamahnya dingin sekali. Seakan tidak suka jika Mawar duduk di pangkuan Wira.


"Iya, papah punya Al. Mamah tadi nakal, main duduk aja di pangkuan papah!" adu Wira yang bukan-bukan.


"Mas, ini termasuk fitnah pada ku. Menyebalkan!"


Sama seperti Wira, kehidupan rumah tangga Farah dan Joni semakin bahagia. Joni juga banyak belajar bagaimana bersikap romantis.


Mereka mungkin pernah berada di jalan yang salah. Hidup dalam dunia gelap dan berbuat jahat. Tapi Farah dan Joni sekarang sadar jika semua tidak membuat mereka bahagia.


Masa lalu mungkin tidak bisa di lupakan, tapi keduanya percaya jika mereka bisa menjalani hidup yang baik. Mungkin jauh dalam benak Farah sudah pasti menyimpan penyesalan terdalam.


"Apa yang kau pikirkan di pagi buta seperti ini hah?" tanya Joni sembari memeluk Farah dari belakang.


"Menurut mu, apa pendosa seperti kita ini bisa bahagia?" Farah bertanya balik.


"Setiap manusia berhak bahagia. Sebanyak apa pun dosa kita, hanya Tuhan yang berhak menilai. Tugas kita sekarang berusaha agar menjadi manusia lebih baik lagi. Percaya pada ku, kita bisa bahagia. Anak-anak kita kelak juga bisa bahagia. Farah, mencintai mu!"


"Aku juga mencintai mu!''


Semakin erat pelukan Joni, memberi kehangatan di pagi hari. Farah dan Joni sudah tidak sabar lagi menanti lahirnya anak mereka, anak yang di harapkan bisa memberikan kehidupan yang bisa membuat mereka lebih dewasa lagi.

__ADS_1


"Ingatlah wahai istri ku, jangan mengingat masa lalu sebagai ketakutan akan karma di masa yang akan datang. Tuhan tidak akan membiarkan umatnya terus berada di dalam kesesatan. Kita telah sadar dalam segala kemaksiatan, tugas kita nanti belajar bagaimana menjaga dan belajar menjadi orangtua yang baik untuk anak kita kelak. Kita berhak bahagia, percaya pada ku, kita pasti akan bahagia," tutur Joni panjang lebar menyakinkan sang istri.


Begitu pula dengan Wiwi, di kehamilannya yang sekarang dirinya merasa takut akan karma yang akan berjalan pada anaknya. Pernah hidup dalam garis kemaksiatan, membuat Wiwi merasa was-was sekarang.


Bukan kemauannya hidup dalam lingkup seperti itu, orangtua lah yang menjadi penyebab dasarnya. Rumah yang seharusnya menjadi tempat berpulang paling aman nyatanya seperti neraka jahanam. Orangtua yang seharusnya melindungi nyatanya membui dirinya dalam kemaksiatan. Sungguh Wiwi takut jika mengingat masa lalunya.


"Aku tidak suka melihat kau diam seperti ini, ada baiknya kau mengoceh seperti burung beo peliharaan ku!" ujar Jonas yang sejak tadi memperhatikan istrinya.


"Aku hanya takut,...!" lirih Wiwi menatap wajah suaminya.


"Buang rasa takut mu, kau mungkin pernah kotor. Tapi, Tuhan tidak akan menutup mata pada hambanya yang ingin merubah diri."


"Tapi aku takut. Bahkan derajat kita saja berbeda, sewaktu-waktu kau bisa menendang ku."


Jonas menarik nafas panjang, sudah beberapa kali dirinya menyakinkan Wiwi.


"Setiap orang memiliki masa lalu dan yang aku tahu bukan mau mu hidup seperti itu. Mereka yang jahat pada mu, yakin pada ku jika mereka lah yang akan menerima karma mu!"


Mata Wiwi berkaca-kaca, memandang wajah tampan suaminya.


"Apa kau mencintai ku?"


"Tentu saja, sejak awal aku melihat mu ada rasa suka yang tak bisa aku ungkapkan. Makanya aku selalu mencari celah untuk bertemu dengan mu. Sudahlah, jangan menangis. Aku tahu masa lalu mu tapi aku tidak mau mempersalahkannya."


"Kau laki-laki yang baik," ucap Wiwi bangga.


"Masa lalu hanyalah buku usang berdebu, meskipun ia tak bisa di lupakan setidaknya bisa kita ambil sebagai pelajaran. Wiwi, aku mencintaimu!"


"Aku juga mencintaimu sekarang!"


Jonas mengecup kening istrinya, memeluk wanita yang telah bertambat di hatinya. Ini lah nikmatnya berumah tangga, saling menerima kekurangan dan saling terbuka termasuk kunci bahagia. Kepercayaan adalah tahta paling utama dalam berumah tangga.


*****TAMAT****


Hallo kakak, yuk mampir di novel baru ku😁 di angkat dari kisah nyata seseorang yang minta di tulis dalam sebuah novel dengan beberapa karangan😁 masih tetap sama, tema rumah tangga dan perselingkuhan yang menjadi faktor utama😁 kisah pembalasan seorang istri yang di selingkuhi suaminya😁**

__ADS_1



__ADS_2