
"Mas, mau ngapain?" tanya Mawar dengan suara serak karena masih mengantuk.
Dengan santainya Wira merayap di atas tubuh istrinya.
"Mau lagi, punya mas tiba-tiba bangun nih...!"
Mawar duduk, melihat jam di ponselnya.
"Jam dua malam. Mas gak salah?" tanya Mawar dengan polosnya.
Slep....
Wira menyibakkan selimutnya lalu menunjukkan pedang yang baru di asah satu kali itu.
"Lihat, berdiri kan?"
Buru-buru Mawar menutup selimut suaminya.
"Heran sama kamu, gak ada malunya sama sekali," ucap Mawar dengan mata yang sudah kembali segar.
"Sama istri sendiri ngapain malu. Kalau sama istri tetangga ya malu,...!"
Tidak peduli, Wira kembali menaiki tubuh istrinya. Tidak ada ciuman panas, langsung saja pada intinya karena batang Wira sudah sangat tegang.
Kres...kres...kres....
Bunyinya masih sama, rambut-rambut kecil mereka saling bergesekan menimbulkan suara.
Jbeel,....
"Akhirnya masuk juga, ku pikir lupa jalan masuknya!" bisik Wira di telinga istrinya, "kamu tidur aja kalau ngantuk. Biar mas yang main sendiri."
Sambil menggoyang, mulut Wora terus mengoceh.
"Gimana mau tidur, tangan kamu nakal seperti ini kok!"
"Mendesah sayang, ayo mendesah!" bisik Wira lagi.
Aaah....iiiih.....uuuh.....
Mawar mencengkram punggung suaminya. Ini terlalu perih, tapi rasa perih itu sirna saat Mawar merasakan ada sesuatu yang ingin keluar.
"Mas,.....!" lirih Mawar mengarahkan suaminya untuk mengisap ***********. Untung saja asi Mawar sudah tidak keluar, jadi Wira bebas mengisap di sana.
"Terus mas.....!" lirih Mawar membuat Wira menambah kecepatan gerakan maju mundurnya.
Plok....plok....plok...kress....
Aaaah.........
uuuh......
__ADS_1
Tubuh keduanya menegang, suara ******* kenikmatan mereka kembali menggema di kamar ini. Wira ambruk di samping istrinya, nafas pria ini ngos-ngosan begitu juga dengan Mawar.
Pergi ke kamar mandi sebentar untuk membersihkan cairan yang berhamburan di sela kaki. Setelah itu Mawar dan Wira kembali melanjutkan tidur mereka. Sungguh, suasana seperti ini yang sangat di rindukan Wira.
Byuur.......
Mawar di kejutkan dengan bunyi ombak yang menghempas di tepi pantai. Matanya masih mengantuk, tapi matahari sudah sangat tinggi.
"Astaga, sudah jam sepuluh!" ucap Mawar yang terkejut ketika melihat jam di ponselnya.
Mawar menoleh ke arah suaminya yang masih tidur dengan begitu pulasnya.
"Mas, bangun...!" Mawar membangunkan suami.
Terus membangunkan, akhirnya Wira yang binal bangun juga.
"Jam berapa sayang?" tanya Wira dengan suara serak khas bangun tidur.
"Jam sepuluh mas...!" jawab Mawar buru-buru pergi ke kamar mandi.
Keduanya sudah kembali segar, mereka langsung pergi untuk makan.
Huft,....
Mawar sedih, sampai detik ini Asti tidak mau memberi kabar tentang anaknya. Melihat suaminya yang makan dengan lahap, mata Mawar terus melirik tajam ke arah suaminya.
"Kenapa?" tanya Wira heran.
"Udah, tabung aja rindu mu. Tiga hari lagi kita akan pulang!"
"Kamu kalau ngomong ya enak. Gak sayang anak ya gitu," gerutu Mawar.
"Heh, kata siapa mas gak sayang anak? nanti kita balas mamah deh, setelah kita pulang mamah akan pergi keluar kota, ke rumah adiknya!"
"Lama-lama kamu kualat sama mamah. Kalau kamu jadi anak ku, sudah ku kutuk."
"Untung aku jadi suami mu!" sahut Wira tertawa mengejek istrinya.
Selesai makan, untuk menghibur kerinduan Mawar pada anaknya, Wira mengajak sang istri pergi berbelanja lagi.
Tidak salah perkiraan Wira, semangat istrinya kembali cerah lagi ketika memasuki toko besar yang menjual khusus perlengkapan dan pakaian bayi.
Sementara itu, Widya yang datang bertamu ke rumah Wira langsung di usir oleh penjaga rumah. Widya merasa kesal, mulut pedasnya terus mengeluarkan kata-kata mutiaranya.
"Aku kesini datang untuk menjenguk keponakan ku. Kenapa kau melarang ku hah?"
"Aduh, sudah ku bilang yang punya rumah sedang pergi liburan. Masih aja ngeyel!"
"Kau hanya seorang penjaga, jangan coba-coba menghalangi ku. Akan ku laporkan kau pada tante Asti...!" ancam Widya yang tidak tahu diri.
"Terserah. Pergi sana...!"
__ADS_1
Sekali lagi penjaga rumah mengusir Widya.
"Dasar pak tua, di gaji berapa sih kau ini. Sombong sekali....cuiih...!''
"Bodoh amat!" seru penjaga tersebut, "keponakan, ngaku aja!"
"Anak mas Wira ya keponakan ku. Biarkan aku masuk!"
Widya berusaha menerobos masuk namun penjaga rumah dengan cepat menariknya keluar dari pagar.
"Jika kau tidak pergi juga, akan ku teriaki kau maling!" ancam penjaga tersebut membuat Widya takut.
Wanita ini pergi dengan sumpah serapahnya. Setibanya di rumah, Widya langsung membanting mainan yang sengaja dia bawa untuk Al agar bisa menarik perhatian Wira padanya.
"Kau ini kenapa? mainan siapa yang kau rusak ini?" tanya Hartanto, papah Widya.
"Aku pergi ke rumah mas Wira. Tapi, aku malah di usir. Sombong sekali keluarga mereka sekarang!" adu Widya yang kesal.
"Kau ini, kenapa suka sekali merecoki Wira hah? keluarga kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa sekarang. Widya, papah mohon jangan membuat masalah nak."
"Siapa yang mau buat masalah hah?" sentak Widya dengan beraninya.
"Wira sudah memiliki kehidupan baru. Jangan mengganggu rumah tangganya, apa kau lupa jika dulu kau suka sekali merecoki rumah tangga kakak mu hah?"
"Udah deh pah. Diam aja!"
Sekali lagi Widya membentak papahnya.
"Mas Wira itu tidak cocok menikah dengan perempuan yang bernama Mawar itu. Matanya buta gak bisa milih istri."
Hartanto hanya bergeleng kepala mendengar perkataan kasar yang keluar dari mulut anaknya.
"Kau ini sebenarnya kenapa?" tanya Hartanto bingung sendiri dengan kelakuan anaknya, "Ingat Widya, Wira bukan siapa-siapa kita lagi." Sekali lagi Hartanto mengingatkan anaknya ini.
Berada di luar negeri dengan waktu yang cukup lama bukannya membuat sikap Widya berubah malah bertambah parah.
"Akan menjadi siapaku jika mas Wira bisa menjadi suami ku. Ciiih,....sejak lama aku menginginkan mas Wira!" ucapnya membuat pak Har terkejut.
"Apa maksud mu Widya?"
"Pah, aku menginginkan mas Wira!" ucap Widya serius.
"Kenapa baru sekarang kau mengatakan hal ini, kenapa tidak dari dulu saat Wira masih sendiri hah?" tanya Hartanto tiba-tiba membuat wajah Widya panik.
Hantanto merasa aneh dengan sikap anaknya ini.
"Widya, kau kenapa?" tanya pak Har.
"Gak kenapa-kenapa, aku mau ke kamar dulu!" jawab Widya bergegas masuk ke kamarnya.
Sebenarnya Widya ini bukan anak kandung Hartanto, Widya hanya anak tiri bawaan dari almarhum istrinya. Tapi, keluarga mereka sudah sepakat untuk merahasiakan status Widya. Makanya, sikap dan kelakuan yang di miliki almarhum Dania dan Widya sangat berbeda jauh.
__ADS_1
"Aduh, aku harus hati-hati dalam ucap. Bahaya jika mereka tahu tentang ini semua!" ucap Widya yang sedang menyimpan ketakutan akan satu hal.