Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Chapter 37


__ADS_3

"Ini uang yang mamah minta. Hanya ini, aku sudah tidak ada lagi...!" ujar Farah sembari menyodorkan dua gepok uang.


Mata Yunita langsung biru ketika melihat tumpukan uang yang berwarna merah.


"Dari mana kau mendapatkannya?" tanya Yunita penasaran.


"Aku meminjam dari teman ku!" bohong Farah.


"Jangan lupa ganti mobil mamah. Apa kamu gak kasihan lihat mamah kemana-mana naik taksi?"


Farah memejamkan matanya, dalam hatinya mengumpat kesal pada sang mamah.


"Iya, kalau aku ada uang pasti aku akan mengganti mobil mamah. Pakai saja mobil ku!"


Farah kembali masuk kedalam kamarnya. Sampai detik ini Farah juga belum mengetahui jika sang mamah adalah wanita penggila judi. Uang yang seharusnya di bayarkan utang nyatanya untuk modal judi Yunita.


Berbeda lagi dengan Wira, sejak sang mamah berada di luar kota pasangan ini memilih pergi makan di luar setiap hari. Contohnya seperti siang ini, Wira mengajak Mawar pergi makan siang di salah satu restoran yang menyajikan makanan ala timur tengah.


"Ehem, Wira....!" sapa Silla yang tanpa sengaja bertemu di sana.


Wira membuang pandangan, memutar bola matanya dengan malas.


"Oh, hai....!" Wira menyapa balik.


"Kau sedang makan siang kah? em, siapa dia?" tanya Silla dengan menunjuk ke arah Mawar.


Mawar dengan santai mengulurkan tangannya memperkenalkan diri.


"Mawar,...!"


Silla dengan senang hati membalas uluran tangan Mawar.


"Silla, rekan bisnis Wira," balas Silla menyombongkan diri.


"Mawar istri ku, kebetulan sekali ya...!" ujar Wira langsung membuat wajah Silla pias.


"Kampungan!" batin Silla, lalu memaksakan senyumnya, "aku dan Sekretaris ku akan makan di tempat ini. Bisakah kita makan siang bersama?"


Wira menoleh ke arah Mawar, Mawar yang sudah tahu tentang Silla sengaja mengizinkan Silla dan Sekretarisnya yang bernama Desi.

__ADS_1


"Tentu saja boleh, kau rekan bisnis suami ku. Silahkan duduk!" Mawar dengan senang hati mempersilahkan.


Silla dan Desi langsung duduk dan memesan menu makanannya.


"Oh ya Wira, aku akan lama berada di kota ini. Papah ku berencana membuka cabang perusahaan di sini," kata Silla memberitahu.


"Oh ya...? baguslah, itu artinya perusahaan keluarga mu berkembang dengan sangat pesat."


"Ehem...ngomong-ngomong, istri mu kerja apa?" tanya Silla yang mulai penasaran dengan Mawar.


Wira menoleh ke arah Mawar lalu menjawab.


"Istri ku tidak bekerja, dia hanya menjadi ratu di rumah tangga kami. Lagian, aku tidak mengizinkan dia untuk bekerja!"


Jleb,....


Silla langsung panas hatinya.


"Sebelumnya kerja apa?" Silla masih bertanya.


Mawar menoleh suaminya, perempuan ini tidak mau berbohong.


"Hanya seorang pelayan cafe!" jawab Mawar membuat Silla terkejut.


"Kalau dulu istri ku gak punya tempat usaha. tapi, kalau sekarang ada, ini lagi usaha membuat keturunan!". sahut Wira dengan sengaja.


Apa-apaan ini? Kenapa Wira sangat mesra di depan Silla. Tanpa rasa malu Wira menyuapi istri makan, tentu saja hal seperti ini sangat membuat Silla iri.


"Kami sudah selesai, jadi kami duluan. Semuanya sudah aku bayar!" ujar Wira sambil mengulurkan tangannya pada Mawar.


Silla hanya mengiyakan, entah kenapa dirinya merasa cemburu sekarang.


"Aku rela membujuk papah untuk membuka cabang perusahaan di kota ini demi lebih dekat dengan Wira."


"Kalau belum jodoh mau bagaimana lagi? setidaknya kita sudah berusaha!" sahut Desi langsung mendapatkan bentakan dari Silla.


"Aneh, lelaki sempurna seperti Wira kenapa bisa memilih istri model seperti itu? aku sangat yakin jika perempuan itu tidak memiliki latarbelakang pendidikan yang tinggi."


Silla mendengus kesal, makanan tadi terasa hampar saat melihat perlakuan Wira pada Mawar. Sedangkan Wira dan Mawar, suami istri ini terus tertawa membayangkan ekspresi Silla tadi.

__ADS_1


"Mas, ternyata dia sangat cantik dan kaya. Kenapa kau tidak tertarik padanya?"


"Kalau aku mau, sudah dari dulu aku mengejarnya. Tapi, mau secantik apa pun seorang perempuan kalau dia bukan pilihan hati, maka tidak bisa di paksakan," tutur Wira.


"Mas, latarbelakang hanya seperti ini. Terkadang aku malu jika kau mengajak mu bertemu dengan rekan bisnis mu yang rata-rata berpendidikan. Apa kau tidak malu memiliki istri yang sekolah menengah atas saja tidak lulus?"


"Mas tidak pernah merasa malu memiliki istri seperti kamu. Lagian, kita menikah untuk saling melengkapi bukan saling menyombongkan diri."


"Tapi, mas Wira sudah terlalu banyak menutupi kekurangan ku!"


"Sekali lagi kau merendahkan diri mu, akan mas buat mobil ini bergoyang!" ancam Wira membuat Mawar langsung terdiam.


Melihat istrinya mati ucap, Wira tertawa lucu. Wira sangat suka mengancam sang istri dengan kata goyang.


Setibanya di rumah, Wira yang pengertian langsung memijat kaki Mawar. Karena Wira paham betul jika seorang ibu hamil pasti mudah lelah.


"Istirahatlah, mas akan pergi ke ruang kerja. Ada pekerjaan sedikit."


"Iya mas!"


Wira tidak pergi ke ruang kerja, melainkan pergi ke gudang. Tempat di mana semua barang-barang milik almarhum Dania di simpan di sana. Bahkan, foto pernikahan mereka juga ada di sana.


Wira menatap foto yang sudah berdebu itu, ada rasa rindu yang tidak bisa Wira salurkan secara nyata selain doa.


"Kau akan tetap hidup dalam hati ku Dania. Kau dan Mawar, aku sangat mencintai kalian berdua. Terimakasih untuk kenangan kita, berbahagialah sayang," ucap Wira dengan perasaan campur aduk. Demi membahagiakan Mawar, pada akhirnya Wira memutuskan untuk membuang sisa barang milik Dania yang sudah rusak. Bahkan, foto pernikahan mereka saja sengaja di robek Wira. Biar bagaimana pun, Wira tidak ingin Mawar melihat foto pernikahannya bersama Dania meskipun Wira tahu Mawar akan menerima hal itu.


Farah, wanita ini sebenarnya merasa geli saat Bambang menggerayangi tubuhnya. Tapi, mau bagaimana lagi? semua sudah terlanjur apa lagi Bambang bisa memberikan uang padanya.


Duduk di atas pangkuan Bambang, lelaki tua mata keranjang yang haus akan belaian. Ingin sekali Farah mencekik lelaki tua ini.


"Om, beliin mobil dong. Aku gak punya mobil nih!" Farah membujuk Bambang, mengeluarkan segala rayuan mautnya padahal dia sendiri hampir muntah mengucapkannya.


"Ada satu syarat. Jika kau bisa memenuhi syarat itu, aku akan membelikan mobil dan memberi mu uang. Bagaimana, apa kau setuju?"


"Kalau untuk melayani om di atas ranjang. Aku sudah siap, itu hanya hal kecil om."


"Bukan itu yang aku maksud!" ujar Bambang membuat Farah penasaran.


"Lalu apa?"

__ADS_1


Bambang kemudian memberitahu syaratnya. Farah sempat terkejut, namun demi sebuah mobil dan uang wanita ini menerima pekerjaan dari Bambang meskipun Farah sendiri merasa takut jika dia membuka suara.


Bambam tertawa puas, pria paruh baya ini langsung merobek gaun Farah dan memangsanya di dalam kamar hotel. Sudahlah, Fatah sudah tidak peduli lagi. Bercinta dengan Bambang, Farah hanya bisa membayangkan wajah seorang aktor tampan saja.


__ADS_2