Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Chapter 36


__ADS_3

"Mau apa dia menunggu ku di kantor? bukankah kerjasama kita sudah selesai?" tanya Wira heran.


"Saya juga tidak tahu pak. Ibu Silla memaksa untuk bertemu anda."


"Pergi aja lah mas, mungkin ada hal penting," ujar Mawar yang paham betul jika suaminya ini jarang pergi ke kantor.


"Jika mas pergi, nanti kamu kesepian," sahut Wira.


"Ehem,...ehem,....!" Dimas mendadak panas dingin.


Kening Wira berkerut menatap Dimas, "ada apa dengan mu?" tanya Wira heran.


"Oh, tidak pak. Ini tenggorokan saya gatal!" jawab Dimas gugup.


"Pergi saja kau duluan, aku akan segera menyusul!" titah Wira kemudian Dimas pun pamit.


"Makanya mas, kalau punya ponsel itu aktif dong. Aku kan gak enak sama Dimas!"


"Lah, kenapa kau merasa tidak enak dengannya?"


"Ya dia sampai menyusul mu ke rumah!"


"Udah biasa. Bos tidak pernah salah," sahut Wira membuat istrinya menarik nafas kesal.


"Dan ingat juga, apa pun kesalahannya, istri selalu benar!" sahut Mawar berlalu begitu saja.


Setelah berganti pakaian, Wira langsung pergi ke kantornya. Sebenarnya Wira agak malas bertemu dengan Silla terlebih lagi pertemuan mereka yang terakhir membuat Wira risih.


Ketika Wira memasuki ruangannya, Dimas dan Sekretaris Silla langsung keluar, tentu saja hal tersebut membuat Wira merasa heran namun sudah bisa di tebaknya.


"Maaf, ada masalah apa sehingga kau ingin bertemu dengan ku?" tanya Wira dengan tatapan sedikit tajam.


Silla tersenyum malu, jelas sekali jika wajah wanita ini memerah.


"Hai, ada apa dengan mu?" tanya Wira yang mulai jengah.


"Ah, tidak ada kenapa-kenapa. Em, maksud kedatangan ku sini bukan untuk membahas pekerjaan."


Wira langsung menghela nafas pelan, bibirnya tersenyum tipis seolah mengerti apa maksud kedatangan Silla.


"Lalu, masalah apa?" tanya Wira memancing.


"Em begini, perusahaan kita sudah bekerja sama sangat lama. Kita juga sudah saling mengenal....!"


"Lalu,....!" Wira memotong ucapan Silla.

__ADS_1


"Em,...sebenarnya aku ada hati pada mu!" timpal Silla dengan wajah malunya, berharap Wira bisa mengerti dengan apa yang ucapannya barusan.


"Maksudnya ada hati?" tanya Wira yang ingin Silla memperjelas ucapannya.


"Aku menyukai mu, masalah pertemuan kita yang terakhir saat kau mengatakan kau sudah menikah. Kau mungkin hanya bercanda. Aku tahu jika kau sudah menduda selama empat tahun."


Wira melipat kedua kakinya dan tersenyum tipis menatap Silla yang sejak tadi sudah tertunduk malu.


"Aku tidak pernah bercanda jika itu menyangkut pribadi ku. Maaf Silla, aku menolak mu. Aku benar sudah menikah dan istri ku sedang mengandung sekarang. Masalah pernikahan, maaf tidak mengundang mu," tutur Wira berterus terang, membuat darah Silla langsung mendidih karena malu di tolak.


"Kau lihat cincin ini, aku benar sudah menikah.Maaf Silla, selain pekerjaan aku tidak mau membahas apa pun lagi."


"Tapi,....!"


"Sekali lagi maaf Silla. Aku sangat mencintai istri ku. Jadi, silahkan pergi." Secara langsung Wira mengusir Silla.


Silla yang sudah kepalang malu langsung keluar begitu saja dari ruangan Wira. Hatinya sangat sakit mana kala cintanya bertepuk sebelah tangan.


"Bos.....!"


Dimana masuk kedalam ruangan.


"Ibu Silla menangis, kenapa?" tanya Dimas penasaran.


"Perempuan itu masih saja tidak percaya jika aku sudah menikah. Aku menolaknya. Lagian, aku heran dengan perempuan-perempuan itu, kenapa sangat suka mengusik ku?"


"Membuat ku geli...!" seru Wira, "sudahlah, aku mau pulang. Istri ku kesepian di rumah!"


Wira langsung pulang, tidak mampir kemana-mana karena lelaki ini cukup khawatir jika meninggalkan sang istri di rumah sendirian.


"Mawar ku lebih segalanya bagi ku. Mana mungkin aku berkhianat dari Mawar ku!" ucap Wira sambil mengemudi.


Berbeda lagi dengan Farah yang saat ini sedang bertengkar dengan sang mamah. Yunita terus menuntut uang dan uang dari anaknya.


"Mamah tidak mau tahu, besok pagi kau harus memberi mamah uang dua puluh juta. Farah, apa kau ingin mamah mati di gorok orang hanya karena utang papah mu?"


"Mah, kemana aku harus mencari uang sebanyak itu. Mamah tahu sendiri jika tabungan ku sudah habis."


"Kalau begitu, kembalikan mobil mamah." Farah mengancam.


"Iya,...besok Farah akan memberikan uang pada mamah!" ucap Farah yang tidak punya pilihan lain. Wanita ini mengambil tasnya kemudian pergi.


Kemana Farah akan pergi, wanita ini bingung. Uang penjualan mobil sudah habis untuk membayar dua preman yang tidak berguna itu, di tambah lagi dia harus membayar dengan tubuhnya sendiri.


Mau tidak mau Farah menemui salah satu teman laki-lakinya, meminta temannya untuk mencarikan seorang sugar daddy.

__ADS_1


"Kenapa tua sekali...?" bisik Farah pada Joni, temannya.


"Tua-tua banyak uangnya. Istrinya sedang sakit stroke, dia butuh kehangatan!" balas Joni.


Lelaki paruh baya yang sudah berusia hampir lima puluh sembilan tahun. Tersenyum penuh gairah ketika melihat Farah.


"Sepertinya aku pernah melihat mu!" ucap pria yang bernama Bambang itu.


Farah kaget, wanita ini mencoba mengingat.


"Benarkah? kapan ya...?" tanya Farah penasaran.


"Bukankah kau Sekretaris Wira, pemilik perusahaan Sakti Dewangga?"


Jleb,....


Wajah Farah langsung kikuk.


"Maaf, aku sudah lama berhenti dari perusahaan itu," kata Farah.


Bambang tertawa pelan, meneguk minuman kerasnya sedikit.


"Oh, tapi aku tidak peduli. Aku hanya butuh kau setia pada ku, maka aku akan memenuhi semua kebutuhan mu!"


"Kalau begitu, beri aku uang lima puluh juta!" pinta Farah mencoba memancing.


"Berikan nomor rekening mu!" ujar Bambang seolah menerima permintaan Farah.


Farah dan Joni saling pandang.


"Cepat....!!" Joni menyenggol lengan Farah. Farah langsung memberikan nomor rekeningnya pada Bambang.


"Cek lah!" titah Bambang, Farah yang tidak percaya langsung membuka ponselnya. Mata wanita ini terbelalak ketika melihat nominal yang masuk.


"Ini serius. Terimakasih om,...!" ucap Farah girang.


"Aku tunggu kau malam di hotel xxx, jika kau berani membohongi ku. Akan ku penggal kepala mu!" ancam Bambang kemudian beranjak pergi.


Farah masih tidak percaya jika dia mendapatkan uang sebanyak ini dengan begitu mudah. Wanita ini tidak melupakan Joni dan mentransfer beberapa rupiah untuk teman lelakinya itu.


Sedangkan Wira, setibanya di rumah pria ini langsung menceritakan apa yang sudah terjadi di kantor tadi. Mawar tidak marah, justru wanita ini merasa bangga pada suaminya karena posisinya sebagai seorang istri sangat di hargai.


"Terimakasih mas, aku sangat bahagia mendengar ini," ucap Mawar dengan mata berkaca-kaca.


"Ganti saja terimakasih mu dengan goyangan yang lebih heboh. Mas suka itu,...!" Wira malah bergurau, membuat perasaan haru Mawar berubah geram.

__ADS_1


"Apa pun yang di bahas, pasti larinya ke arah sana. Mas, kau ini sungguh kegatalan!"


Wira tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan istrinya. Pria ini senang sekali jika harus menggoda sang istri setiap hari.


__ADS_2