Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Chapter 94


__ADS_3

"Kita selesaikan malam ini juga. Wiwi, kau maunya bagaimana?" tanya Joni ketika mereka sudah berada di apartemen.


Farah tidak mengizinkan Jonas untuk mengobati wajah Wiwi.


"Aku akan pulang besok. Baik buruk akan lebih enak hidup di tanah sendiri...!"


"Aku tidak mengizinkan kau pulang!" ucap Jonas dengan tegas.


"Kau tidak berhak mengatur ku!' seru Wiwi.


"Aku berhak mengatur mu karena kau istri ku!"


"Kalau begitu ceraikan aku!" pinta Wiwi, "pernikahan kita hanya sebuah lelucon. Aku tidak pernah menginginkan pernikahan seperti ini."


"Aku mengerti perasaan mu, tapi jangan teriak-teriak seperti ini. Kau sedang terluka sekarang!" kata Farah mencoba menenangkan Wiwi.


"Dia, dia berlaga polos tapi nyatanya sangat menikmati tubuh setiap malam. Aku di acuhkan, seolah aku ini barang yang hanya di gunakan seperlunya saja. Apa aku salah jika aku ingin mengakhiri ini semua?"


"Hai bajingan, kau memang kakak ku. Tapi kali ini aku tidak berada di pihak mu. Selesai malam ini juga masalah kalian berdua. Istri ku, ayo kita tidur!" Joni mengajak Farah pergi ke kamar.


"Jika kau memukulnya lagi, akan ku bunuh kau malam ini," ucap Farah benar-benar geram dengan Jonas.


Ruang tamu hening, Joni dan Farah sudah masuk ke dalam kamar. Jonas dan Wiwi duduk saling berhadapan, entah apa yang sedang mereka pikirkan.


"Sebaiknya kita pulang," ajak Jonas.


"Pulang kemana?" tanya Wiwi dengan menatap wajah Jonas.


"Kita selesaikan masalah ini di rumah kita saja!"


Wiwi tertawa sinis, ingin sekali rasanya menangis.


"Pulang, aku tidak memiliki rumah sebagai tempat ku untuk berpulang. Rumah mu, aku sama sekali tidak pernah menganggap jika itu adalah rumah suami ku!"


"Maafkan aku!"


"Tidak berguna!" ketus Wiwi, "lelaki seperti mu hanya bisa mengucapkan kata maaf saja!"


"Aku benar-benar tidak suka melihat mu berpakaian terbuka. Apa itu salah?"


"Sebenarnya tidak salah. Wajar jika seorang suami berkata seperti itu. Tapi, apa kau benar-benar suami ku? perasaan kau hanya menganggap ku sebagai pemuas nafsu mu saja setalah kau tahu nikmatnya bercinta."


"Tidak, semua itu tidak benar!"


"Lalu, yang benar itu seperti apa?"


"Aku menyukai mu sejak lama!" jawab Jonas membuat Wiwi tertawa, "aku serius, menurut mu untuk apa aku suka datang ke apartemen ini dulu jika bukan untuk melihat mu."


Wiwi terdiam, mengingat kembali bagaimana dirinya di ganggu oleh kedatangan Jonas setiap hari.


"Aku tidak bisa mengungkapkan apa yang ada di hati ku. Aku bukan laki-laki yang pandai dalam urusan cinta."

__ADS_1


"Kakak dan adik ternyata sama saja!" ucap Wiwi lalu membuang nafas panjang.


"Aku serius. Apa kau tidak merasakan jika setiap kali kau menyentuh tubuh diri ku tapi aku tidak pernah menolak?"


"Alasan saja!"


"Wiwi, aku serius. Ada baiknya kita pulang sekarang, tidak baik numpang ribut dalam rumah tangga orang."


Wiwi mendengus kesal, wanita ini memikirkan kembali Farah yang baru saja menikmati kebahagiaan rumah tangganya. Mau tidak mau Wiwi ikut pulang bersama Jonas.


Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan, Wiwi yang lelah dan mengantuk terlelap begitu saja. Setibanya di rumah, Jonas langsung menggendong istrinya menuju kamar.


Di rebahkannya Wiwi lalu di selimuti. Jonas mengusap rambut lembut istrinya.


"Aku minta maaf, aku tidak sengaja tadi. Aku tidak suka jika kau pamer pria lain di hadapan ku," ucap Jonas lalu mengecup kening istrinya.


Jonas yang lelah dan mengantuk pada akhirnya ikut tertidur di samping Wiwi.


Matahari hari ini begitu cerah, sejak kehamilan Mawar yang kedua Wira semakin giat untuk bekerja. Tidak, bukan untuk berangkat ke kantor. Wira kembali bekerja dari rumah lagi, pria ini hanya ingin menjaga dan merawat istrinya.


Di kehamilan kedua ini Mawar nampak biasa saja seperti kehamilan anak pertama.Justru Wira lah yang suka mengeluh.


"Sayang, malam ini kita menginap di hotel Mawar ya..." ajak Wira.


"Ngapain nginap di sana mas?"


"Mas pengen aja, Al juga ikut kok."


"Mas lagi pengen tidur di sana nih. Ayo dong sayang...!" Wira merengek pada istrinya, membuat Asti ingin muntah melihat kelakuan anaknya ini.


"Cepat bilang iya Mawar. Mamah geli melihat kelakuan suami mu ini."


"Mamah aja geli apa lagi aku...!" kata Mawar.


"Mah, masakin Wira sop buntut dong. Sekarang tapi....!"


Wira bergantian merengek pada mamahnya.


"Ah kamu ini, gak bisa lihat orangtua senang!"


"Ayo dong mah, Wira pengen makan sama sop buntut nih."


"Belikan bisa, atau gak di masakin sama bibi aja!" ujar Asti yang sedang malas berada di dapur.


"Giliran minta cucu aja ya paling semangat. Kalau anaknya ngidam ya gak mau ngurusin. Adilkah?" celetuk Wira kesal.


Mawar tertawa, ada-ada saja kelakuan suaminya ini.


"Aku yang masak aja ya mas?" ujar Mawar.


"Gak, kamu gak boleh capek-capek!"

__ADS_1


"Iya, mamah masakin. Dasar, semoga anak-anak kamu gak seperti kamu ini," ucap Asti yang kesal.


Asti pergi ke dapur, untung saja semua bahan ada di dalam kulkas. Sambil menunggu sup buntut, Wira bermain bersama anaknya.


"Al si gembul, sudah berapa banyak ngabisin duit papah buat beli susu hemmm?"


Mawar bergeleng kepala mendengar ucapan suaminya.


"Kalau sudah besar jangan rebutan warisan ya sama adik kamu. Sudah papah bagi dua kok!"


"Mas, kamu ini ada-ada aja!"


"Cuma memberitahu, apa salahnya. Dasar Mawar, gak bisa di ajak bercanda!"


"Lah kamu ini aneh!" seru Mawar.


"Kamu yang aneh, udah kb kok bisa bobol?"


"Lah kok yang salah aku? kan kamu sendiri yang setor benih setiap malam!"


"Ya sekarang setor benihnya sudah. Tinggal di pupuk biar subur, nanti malam lagi ya!" Wira mengedipkan sebelah matanya.


"Gak ada!"


"Tenang, keluar di luar kok. Mas kan udah berpengalaman!"


"Mas,....!"


"Atau mau keluar di dalam?"


Wira sekali menggoda istrinya.


"Mas, kalau ada yang dengar gimana? malu ah...!"


"Biarin aja,....!"


"Terserah kamu!"


"Kalau terserah mas, nanti bakal mas keluarin di dalam setengah di luar setengah deh!"


Mawar yang geli dengan perkataan suaminya langsung menyumpal mulut Wira menggunakan botol susu anaknya. Al yang melihat hal tersebut langsung tertawa.


Apa pun tema obrolannya bersama Wira, sudah pasti akan menyambung ke hal goyang menggoyang.


"Mas, akhir minggu ini anterin aku ke makam Andini ya. Aku kangen sama dia...!" pinta Mawar.


"Iya sayang, jangan lupa makam orangtua kamu juga."


"Itu tidak akan pernah lupa."


Jika mengingat Andini, Wira masih ingat betul pertama kali dirinya melihat kehidupan Mawar yang begitu susah. Wajar saja jika sekarang Wira sangat memanjakan istrinya ini.

__ADS_1


__ADS_2