
"Cepat suruh sejoli itu keluar!" titah Jonas dengan wajah datarnya.
"Maaf pak, sudah saya bilang mereka tidak ada. Mereka pulang ke Indonesia...!" kata Wiwi sedikit takut pada Jonas.
"Minggir kau...!" ketus Jonas lalu menerobos masuk ke dalam apartemen.
"Pak, saya tidak bohong!" seru Wiwi juga ikut masuk.
"Joni, keluar kau. Sudah lima hari kau dan Farah tidak pergi ke kantor. Cepat keluar...!"
Jonas berteriak mencari adiknya.
"Pak, saya sudah bilang mereka tidak ada. Mamahnya Farah meninggal, jadi mereka pulang."
"Diam kau!" sentak Jonas.
"Bapak itu yang diam!" Wiwi membalas sentakan Jonas dengan berani, "sudah di bilang gak ada, masih aja ngeyel. Dasar Jones, jomblo ngenes!"
Wiwi kesal.
Mata Jonas melotot, pria tampan yang sudah berusia tiga puluh empat tahun ini tidak terima dengan ejekan Wiwi.
"Berani juga kau meledek ku ya...?'' Jonas berkacak pinggang.
"Lah, bapak sendiri aneh. Saya bilang mereka tidak ada. Mamahnya Farah meninggal dunia. Masa gitu aja saya harus bilang berulang kali?"
"Kalian itu bertiga itu tidak bisa di percaya. Sama-sama nakalnya!''
"Wah, mulut bapak ini benar-benar harus di beri pelajaran!" ujar Wiwi semakin kesal, wanita ini tidak peduli lagi jika dirinya akan di pecat oleh Jonas.
"Kau ini sangat berani pada bos mu yaa....!''
"Di kantor bapak memang bos saya. Tapi, kalau di luar kita tidak terikat apa pun," sahut Wiwi semakin berani melawan Jonas.
"Kau aku pecat!" ucap Jonas dengan tegas.
Wiwi hanya mencibir, menatap pria yang lebih tua empat tahun darinya ini.
"Mau kena,....!" ujar Wiwi yang geram. Wanita ini maju selangkah, membuat Jonas langsung mundur kebelakang.
"Heh, mau apa kau hah?" tanya Jonas mendadak panik.
Wiwi hanya diam saja, wanita ini terus menatap Jonas tanpa berkedip membuat Jonas mulai gugup di dekati Wiwi.
Buk,.....
Jonas terduduk di sofa tanpa bisa melawan Wiwi.
Cup.....
Tiba-tiba saja Wiwi meraup bibir Jonas, menciumnya dengan mesra. Tubuh Jonas menegang, pria ini seperti patung tak berani melawan. Tiga puluh empat tahun dia bernafas baru sekarang ada seorang perempuan yang berani mencium dirinya.
__ADS_1
"Sekali lagi mengancam ku, akan ku patahkan gigi mu!" ancam Wiwi setelah melepas ciumannya.
Jonas masih syok, bahkan pria ini tidak sadar jika Wiwi sudah menyeretnya keluar dari apartemen.
Jonas bersandar di pintu, mengusap dadanya yang berdebar kencang. Jonas menyentuh bibirnya, bingung ingin bersikap seperti apa.
"Perempuan sialan!" umpat Jonas yang tersadar kemudian pergi dari apartemen.
Sementara itu, Wiwi hanya bisa berguling-guling di atas tempat tidur mengingat keberaniannya yang mencium Jonas tadi.
"Mati lah aku, jika begini aku akan resmi menjadi pengangguran di negara orang!" ucap Wiwi lalu menggerutuki dirinya sendiri.
Jika sudah begini, Wiwi tidak akan berani berangkat bekerja besok. Apa lagi Jonas sudah mengatakan dengan lantang jika dirinya di pecat.
Beda lagi dengan Farah, wanita ini merasa sangat amat kesal pada Joni yang tiba-tiba membawanya ke kantor urusan agama.
Ingin sekali Farah menghajar Joni,pria yang beberapa menit lalu sudah resmi menjadi suaminya ini.
Plak,.....
Farah menggeplak kepala Joni ketika mereka masuk kedalam mobil.
"Kenapa memukul kepala ku? apa kau lupa jika aku suami mu sekarang?"
"Brengsek...! bajingan...!" Farah mengumpat, "bisa-bisanya kau mengajak ku nikah tiba-tiba seperti ini hah?"
"Kenapa kau tidak menolak tadi?" tanya Joni membuat Farah bingung ingin menjawab apa.
"Aku tidak peduli, sekarang kau istri ku. Kau harus menurut dan bersikap baik pada ku!"
"Ceraikan aku!" seru Farah.
"Enak aja, belum ada satu jam menikah kok udah minta cerai. Mata mu....!"
"Kau lihat saja, akan ku potong anak tongkol mu itu...!"
"Terserah kau sayang...!" seru Joni lalu mencolek pipi Farah.
Farah yang kesal menepis tangan Joni. Tidak pernah terbayangkan oleh Farah jika kehidupan pernikahannya akan berakhir seperti ini.
"Kenapa nasib ku seperti ini....hiks...hiks.....!" tidak sedih tidak juga bahagia. Farah bingung ingin bersikap seperti apa.
"Ambillah...!" ujar Joni menyodorkan satu buah kartu.
"Untuk apa ini?" tanya Farah.
"Nafkah untuk mu...!" jawab Joni dengan santainya.
Farah hanya tertawa, wanita ini tidak percaya jika Joni memberikan sebuah kartu tanpa batas untuknya.
"Ini hanya mainan anak-anak!" cibir Farah tidak percaya.
__ADS_1
"Kau ini bodoh sekali, apa kau tidak bisa membedakan mana yang asli dan mainan hah?" Joni kesal, "mau apa gak, kalau gak aku simpan lagi...!"
Hup....
Dengan cepat Farah mengambil kartu tersebut.
"Kalau urusan duit aja cepat!" celetuk Joni.
"Kalau tidak ikhlas ambil saja. Dasar bajingan, kau sudah mempermainkan hidup ku!"
Joni tertawa, mengacak rambut wanita yang sudah resmi menjadi istrinya. Tentu saja hal tersebut membuat Farah semakin kesal di buatnya.
"Sudah, jangan marah-marah. Nanti kau cepat mati, aku tidak ingin menjadi duda muda!"
Geram betul Farah dengan Joni, wanita ini hanya bisa menarik nafas panjang tidak ingin menanggapi Joni.
Beda lagi dengan kehidupan rumah tangga Wira, pria ini sedang berdebat dengan sang mamah yang menginginkan cucu lagi untuk teman Al.
Wira menolak keras, dirinya dan Mawar sudah sepakat untuk menunda untuk memiliki anak. Bukannya apa-apa, Wira dan Mawar hanya ingin fokus merawat Al.
"Apa kalian gak kasihan melihat Al gak punya teman?"
"Apa mamah gak kasihan sama Wira dan Mawar?" Wira malah bertanya balik.
"Lah, ngapain mamah kasihan sama kalian berdua hah?"
"Mah, anak mamah ini menduda empat tahun lamanya. Syukurnya baru menikah langsung di beri anak. Mamah pasti paham maksud Wira!"
Huft,....
Asti membuang nafas kasar, "kamu ini,....!"
Asti tidak ingin menerusakan ucapannya karena dia sendiri paham apa yang di maksud sang anak. Sedangkan Mawar hanya diam saja, segala keputusan ada di tangan suaminya. Mawar tidak ingin memperpanjang perdebatan antara suami dan mertuanya.
"Jika kalian maunya begitu, kalian gak usah larang mamah menghabiskan waktu sama Al."
"Lah, selama ini kan Al memang dekat sama mamah. Ya kan sayang?"
"Hehe,...iya mas!" sahut Mawar merasa tidak enak hati.
Asti kemudian pergi mengajak Al untuk jalan-jalan sore. Bukan jalan-jalan, dirinya sudah janji makan malam bersama-sama teman-temannya nanti.
"Terus, kita ngapain sekarang?" tanya Mawar bingung.
"Kamu maunya ngapain?" Wira bertanya balik.
"Gak tahu. Kenapa aku tidak ikut bersama mamah saja tadi?"
"Dan meninggalkan suami mu sendiri di rumah, begitu maksud kamu?"
"Lah, terus bagaimana?"
__ADS_1
"Ya gak tahu. Udah ah, lebih baik kita kelon aja....!" ujar Wira lalu mengajak istrinya pergi ke kamar.