Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Chapter 51


__ADS_3

"Sejak kau hamil, aku sudah tidak bisa lagi meremas dan mimik di sini. Sungguh menyedihkan!" ucap Wira lalu menirukan gaya menangis seperti anak kecil.


"Astaga mas, kau ini kalau bicara asal mangap saja!"


"Itu memang kenyataan!" seru Wira, "kita juga sudah lama tidak menirukan gaya kodok, gaya cicak yang merayap dan gaya ikan."


"Terserah kau mau ngomong apa mas. Aku bisa gila sendiri...!"


"Sayang,....setelah kau melahirkan nanti, anak kita titip sama mamah aja ya...!"


"Lah terus, kita sebagai orangtua ngapain?",


"Bulan madu, sebenarnya aku belum puas menikmati kebersamaan kita berdua. Tapi, aku juga tidak sabaran untuk menjadi orangtua."


"Kau ini mas, ada-ada aja. Bulan madu kan untuk pengantin baru...!"


"Memangnya pengantin baru doang yang mau bulan madu? aku juga mau kali. Apa kau mau aku menikah lagi dan pergi bulan madu bersama madu mu?"


"Mas Wira,...kalau ngomong suka gitu deh. Gak di takar lagi...!!"


Mawar yang gemas mencubit perut suami.


"Kamu ini, suka sekali mencubit di perut mas. Sakit tahu,....!"


"Dari pada urat batang mas yang aku cubit!"


"Lebih baik itu, semakin di cubit akan semakin menegang. Semakin menegang, akan semakin cepat dia masuk kedalam lubang!"


Hahaha....Wira tertawa terbahak-bahak. Jika dinding kamar ini bisa bicara, mereka pasti sudah protes dengan kelakuan Wira setiap hari.


"Lubang tanpa batas memberi kenikmatan yang aku sendiri tidak bisa berkata-kata. Sayang, kau sungguh luar biasa!"


"Udah deh mas, udah tua itu yang di bahas tentang masa depan anak. Bukan masalah ranjang seperti ini. Malu sama umur!"


"Anak ya anak, kalau sama kamu beda lagi. Lagian, di banding anak aku lebih mencintai mu sampai mati."


"Hus, mas gak boleh ngomong gitu!" tegur Mawar.


"Gini loh sayang, anak itu memang tanggung jawab kita. Sudah tugas kita membesarkan dan mendidik mereka. Tapi, di masa tua itu hanya pasangan kita yang akan setia menemani kita sedangkan anak-anak, mereka pasti memiliki kehidupan dan keluarga sendiri. Jadi, tidak salah jika aku ambil kesimpulan jika aku lebih mencintai mu dari pada mereka. Benar jika mereka adalah harta kita. Aku sangat mencintaimu, jika aku kehilangan mu lebih baik aku mati saja!"


"Mas, dari pada kamu ngomongnya ngaco. Ada baiknya kamu bikin jus atau apa gitu. Aku haus...!"

__ADS_1


"Kau ini, kalau di ajak ngomong serius ada aja ngelesnya. Iya,...tunggu sebentar!"


Begini lah rumah tangga Mawar, jika dia terus menanggapi omongan Wira akan kemana-mana merembetnya. Bisa jadi yang mustahil di cerna otak Mawar pun harus di paksa mengerti olehnya.


Kabar Yunita, wanita ini terbukti bersalah sudah mencuri barang di rumah Silla. Bahkan, polisi saja tidak percaya jika ibu-ibu seumur Yunita masih suka bermain judi. Silla benar-benar kecewa, niat baiknya di balas tindakan jahat oleh Yunita. Pada akhirnya, Silla dan Desi memutuskan untuk pulang ke kota mereka sedangkan kasus Yunita di serahkan sepenuhnya kepada pengacara.


Si Farah juga tidak tahu tentang kabar sang mamah sedang mendekam di kantor polisi. Kehidupan wanita ini telah hancur, orangtuanya lah yang sudah menghancurkannya sendiri.


"Joni,....!!"


****,....


Farah mengumpat ketika melihat Joni datang mencarinya.


"Bajingan, kau menjual ku ke tempat ini...!"


"Tapi kau senang bukan?"


"Brengsek!" umpat Farah, "selama bertahun-tahun aku menyembunyikan jati diri ku pada akhirnya aku masuk juga ke lubang seperti ini. Sial!"


"Nikmati saja alur hidup mu Farah. Tidak usah munafik, bangkai yang kau sembunyikan pasti akan tercium juga. Kau memang seorang pela*ur, kenapa kau harus marah sekarang?"


"Diam kau brengsek!"


"Mamah mu masuk penjara. Aku melihat beritanya tadi pagi, dia mencuri perhiasan di rumah majikannya untuk modal berjudi. Apa kau tidak tahu kabar itu?"


Farah terdiam, satu sisi Farah sangat merindukan mamahnya namun di satu sisi Farah sangat membenci mamahnya yang sudah menyebabkan hidupnya menjadi seperti ini.


"Aku sudah tidak peduli, biarkan saja mamah seperti itu."


"Kau memiliki banyak uang sekarang, kenapa tidak menebusnya saja?"


"Sudah ku bilang biarkan saja. Selama ini uang ku habis dan aku rela hancur hanya untuk memenuhi semua kesenangannya.''


"Apa kau akan berada di tempat ini selamanya?" tanya Joni, "kenapa kau tidak menikah saja dengan ku?"


Farah tertawa, lucu sekali mendengar pertanyaan Joni.


"Aku tahu jika kau seorang bajingan, apa bisa kau menjamin hidup ku?" Farah Mencibir lelaki yang duduk santai tidak tersinggung dengan ucapannya itu.


"Kenapa? apa kau masih mengharapkan duda mu itu?"

__ADS_1


****,....


Wira, Farah sudah lama tidak mendengar kabar pria itu.


"Apa yang kau harapkan dari pria beristri hah?" tanya Joni dengan raut wajah meledek, "di luar sana banyak pria yang masih sendiri. Jangan mengusik rumah tangga orang. Nama mu sudah di pandang rendah, setidaknya jangan menjual lagi rasa hormat mu dengan menjadi pelakor!"


"Lalu, apa bedanya dengan aku yang hampir setiap hari melayani suami orang hah?"


"Ya beda, kau di bayar sebagai pengguna jasa. Jika kau merebut suami orang, kau akan merusak banyak perasaan. Setidaknya dengan keadaan kau yang sekarang, jangan sampai kau menjadi wanita perebut suami orang."


Farah hanya tertawa renyah, menertawakan dirinya yang sudah sia-sia menunggu seorang pria.


"Perasaan itu kalau di mulai dengan niat jahat, pasti tidak akan terlaksana. Aku yakin kau paham dengan maksud ku!" ujar Joni membuat Farah terdiam sejenak.


"Cih,....kau datang hanya untuk menasehati ku kah?"


"Tidak juga, aku hanya merindukan mu. Jangan lupa, kita adalah teman lama!"


"Joni,...Joni,...teman kok jual teman!"


"Dari pada kau hidup dalam cengkraman terong tua tak berguna itu. Lebih baik kau di sini, siapa tahu kau mendapatkan jodoh dari salah satu pelanggan mu!"


"Jon, aku ingin keluar dari tempat ini...!" bisik Farah tiba-tiba.


"Jangan main-main kau. Mami di sini sangat kejam!"


"Kau kan hebat, carikan aku siapa pun yang bisa mengajak ku keluar dari tempat ini. Lebih baik lagi jika ada yang mau mengajak ku pindah ke luar negeri.."


Joni mematikan rokoknya, sedikit membungkuk lalu menatap wajah Farah.


"Apa kau serius?" tanya Joni.


"Jon, aku lelah hidup seperti ini. Kau tahu sendiri keadaan keluarga ku bagaimana, aku butuh tempat untuk berpulang!"


Joni bisa melihat wajah sedih Farah.


"Jika kau ingin tempat berpulang, kenapa kau tidak mati saja?"


Plak,....


Farah langsung menjitak kepala Joni.

__ADS_1


"Bajingan seperti mu tidak ada habisnya mengusik ku!"


__ADS_2