
"Mas, jangan melamun. Bahaya!" tegur Mawar khawatir melihat suaminya yang mengemudi sambil melamun.
"Mas gak melamun, tapi mas heran aja."
"Heran kenapa?" tanya Mawar juga ikutan heran.
"Itu, si Farah itu sudah lama menghilang tiba-tiba nongol eh perutnya sudah besar. Heran, dengan sikap dia yang terlihat lebih baik sekarang."
"Lah, itu termasuk kabar bagus. Berarti mbak Farah sudah berubah."
"Sepetinya ia, lihat aja dari cara berpakaiannya sekarang jauh lebih sopan."
"Itu tandanya suami mbak Farah bisa mendidik dia ke jalan yang lebih baik. Harusnya kamu ikut bersyukur, orang yang dulu memiliki sifat tidak baik mau berubah ke arah yang lebih baik."
"Ini yang ku suka dari mu Mawarku. Kau selalu berpikiran positif, tidak menyimpan dendam pada siapa pun yang pernah menyakiti mu."
"Jangan suka memuji ku berlebihan mas. Itu adalah hal yang wajar saja menurut ku."
"Suka-suka mas lah mau muji kamu. Emang ada larangan muji istri sendiri? kalau muji istri tetangga ya bahaya!"
"Kamu ini mas, udah ah!" Mawar langsung keluar dari mobil dan langsung masuk kedalam rumah.
Senang sekali rasanya melihat sang mamah mertua bisa bermain dengan kedua cucunya.
"Kok udah pulang, cepat sekali?"
Asti protes.
"Lah kenapa?" tanya Wira kesal, "semua urusan sudah selesai masa iya mau di luar terus!"
"Itu gimana, masalah Hotel Mawar?" Asti bertanya lagi.
"Hasilnya sangat memuaskan mah, berkat kerja keras mas Wira Hotel Mawar sudah banyak di kenal orang."
"Syukurlah kalau begitu, jangan lupa ya semua itu milik Al dan Ar. Kalian hanya babu mereka!"
Mawar dan Wira saling pandang, mamahnya benar-benar lebih mengutamakan kedua cucunya di banding mereka.
"Mana ada babu tampan dan cantik seperti ini...!" ketus Wira dengan wajah kesal.
"Ya ada, kalian kan bekerja kalau bukan untuk anak-anak kalian untuk siapa lagi?"
"Lebih tepatnya tujuh puluh lima persen untuk anak, dua puluh lima persen untuk masa tua kami," sahut Wira yang tidak mau kalah.
"Mas, sama mamah aja kok di perpanjang. Heran deh sama kamu, suka sekali melebarkan pembicaraan."
__ADS_1
"Kamu dan mamah sama aja. Gak ada uang belanja!" ancam Wira kemudian berlalu pergi.
Asti melempar bola ke arah anaknya, menghadapi sikap Wira yang seperti ini, anehnya tidak pernah membuat tekanan darah Asti naik.
Kabar Wiwi, syukurnya siang ini Wiwi sudah sadar. Untuk beberapa menit Wiwi hanya diam memperhatikan setiap sudut ruangan. Jonas bisa bernafas lega, setidaknya ketegangan yang di rasakan bisa sedikit berkurang.
"Perut ku, di mana anak ku?" tanya Wiwi yang baru sadar jika perutnya sekarang sudah kempes. Wiwi menangis mencari di mana anaknya.
"Sayang, tenanglah. Anak kita ada, kau sudah melahirkannya," ucap Jonas menenangkan.
"Tidak, aku tidak percaya. Di mana anak ku?"
"Anak kita ada di ruangan yang berbeda. Dia sehat dan baik-baik saja."
Jonas memeluk istrinya, menenangkan Wiwi yang masih sibuk mencari anaknya. Tepat sekali dengan seorang perawat masuk untuk mengecek keadaan Wiwi.
"Sus, tolong bawa anak kami ke sini....!" pinta Jonas.
"Baik pak!"
"Tenanglah, anak kita ada. Kau terlalu lama tidur!" ujar Jonas langsung membuat Wiwi terdiam.
"Tidur, berapa lama aku tidak sadarkan diri?"
"Enam hari, kau koma enam hari...!" jawab Jonas seketika membuat Wiwi terdiam sejenak, "sayang, kenapa?" tanya Jonas heran.
"Tidak, aku tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi. Jangan berpikir yang macam-macam. Ku mohon jangan berpikir terlalu jauh!"
Jonas dapat melihat dengan jelas wajah kesedihan dan trauma yang sangat dalam di mata istrinya.
Tak berapa lama suster yang tadi masuk dengan menggendong seorang bayi laki-laki. Bayi tampan dan sehat itu langsung di serahkan pada Wiwi.
"Anak ku,...!" lirih Wiwi tanpa terasa air matanya mengalir, "dia sangat mirip dengan mu,"
"Karena aku papahnya, sang pemilik bibit berkualitas unggul!" sahut Jonas yang masih sempatnya melemparkan candaan pada istrinya.
"Aku yang mengandung, aku yang menahan semua sakitnya. Menurut ku ini tidak adil...!" Wiwi menarik ingus yang hampir menetes keluar.
"Tetap saja aku yang punya benih!"
Kesedihan seketika lenyap, Jonas malah tertawa melihat wajah istrinya yang sangat lucu saat menangis.
Wiwi seakan lupa dengan masalah yang beberapa waktu lalu. Hanya dengan melihat wajah anaknya, Wiwi bisa melupakannya.
Bahagia sekali pasangan ini, Wiwi seakan tidak mau melepaskan anaknya. Bahkan wanita ini tidak mau bergantian menggendong.
__ADS_1
"Sayang, kau harus istirahat. Sekarang biarkan aku yang menggendong anak kita ya," bujuk Jonas.
"Tapi aku hanya ingin menggendongnya!"
"Ayolah sayang, kau baru sadar dan masih harus banyak istirahat. Lihat perut mu, di jahit seperti kain." Jonas menakuti istrinya.
Wiwi mengintip perutnya, melihat bekas jahitan di perut. Sungguh mengerikan, wanita ini merinding melihatnya.
"Heh, kau kenapa?" tanya Jonas heran.
"Seumur hidup ku baru sekarang sekarang aku melakukan operasi. Ini sangat mengerikan!"
"Kau ini, sudahlah jangan banyak bicara lagi. Istirahat...!"
Semakin lega Jonas karena sekarang anak dan istrinya bisa satu ruangan. Dirinya tidak lagi harus bolak balik antar ruangan.
Melihat Wiwi yang kembali terlelap setelah makan, Jonas hanya bisa mengusap wajah lelahnya.
"Aku tidak tahu seberapa besar rasa trauma mu terhadap keluarga. Tapi, aku berjanji akan memberikan mu keluarga yang utuh," gumam Jonas dalam hatinya.
Ada waktu untuk beristirahat, Jonas memejamkan mata untuk sekedar membuang rasa ngantuk dan lelah.
Farah dan Joni yang berada di negeri seberang juga ikut bernafas lega saat Jonas memberikan kabar tentang Wiwi. Mereka semakin bersemangat menunggu kelahiran sang anak.
Farah dan Joni sedang bekerja sama menata kamar untuk anak calon anak mereka. Gemas sekali, Farah terus memeluk pakaian bayi yang sedang ia susun di lemari.
"Kau ini lebay sekali...!" celetuk Joni.
"Sewot, kau juga sama!" sahut Farah.
"Hih, masih mending aku. Kau itu sangat berlebihan!"
"Dari pada kau, belum apa-apa sudah memborong banyak mainan. Kau pikir bayi baru lahir sudah bisa bermain?"
"Suka-suka aku lah, itu tandanya aku sayang anak!"
"Ya kalau begitu suka-suka aku juga. Aku juga sayang anakku!" Farah yang tidak mau kalah selalu membalas celotehan suaminya.
"Terserah kau!" seru Joni.
"Untung saja perut ku besar, kalau tidak sudah ku patahkan tulang mu. Dasar tongkol basi...!"
"Wah, si apem hambar semakin besar kepala saja!"
"Hambar-hambar begini bisa bikin kau menggelinjang!"
__ADS_1
Terus begitu, sambil menata kamar pasangan suami istri ini saling mengejek.