NENG SABRINA THE PERFECT MUSLIMAH

NENG SABRINA THE PERFECT MUSLIMAH
Episode 10 WAJAH SENDU


__ADS_3

Sudah dua hari aku dan rion mencari hana yang tak kunjung ketemu. Kami juga sudah meminta bantuan polisi untuk mencari tahu keberadaan hana sekarang.



Hari ini aku dan rion memutuskan untuk berpencar mencarinya. Setelah hampir seharian aku mencari, tetap hasilnya nihil. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk pulang.



Namun ditengah perjalanan pulang, ketika aku melewati sebuah pantai, dari kejauhan.. Tampak seorang perempuan dengan rambut panjang tengah duduk menatap lautan pantai yang begitu luas didepannya.



Aku merasa bahwa itu hana. Ku hentikan motorku dan segera aku berjalan menuju kearahnya.



Setelah memastikan kalau perempuan itu benar\-benar hana,tanpa meminta persetujuannya aku langsung duduk disebelahnya.



"Lautnya bagus ya. "


Tanyaku meminta pendapatnya.


Tapi dia tetap tak menoleh kearahku.


"Dari mana aja, han?Kakak kamu nyariin loh."


Kataku.


"Aku ingin sendiri, sya. "


Ucapnya kemudian.


"Udah makan?. "


Tanyaku tak menggubris ucapannya yang aku tahu dia sudah mengusirku dari sana.


"Kalau mau nangis.. Nangis aja, biar hati kamu lega. Biar beban pikiran kamu sedikit berkurang. "


Ucapku memberi masukan padanya.


Tiba-tiba gadis itu berdiri. Berjalan beberapa langkah kedepan dan berteriak....


"Tuhaaaan... Kenapa kau tidak adil padaku???


Kenapa kau tak tak pernah mendengarkan setiap do'a-do'akuuuuu.....??? "


Gadis itu sesenggukan dengan tangis dan teriakannya.


Aku mengerti apa maksud perkataannya barusan. Tapi aku memilih diam tak menanggapinya. Biarlah dia tenang dulu, pikirku.


Tak lama kemudian, kulihat gadis itu seakan oleng pertahanan tubuhnya. Aku berlari kearahnya dan tepat, dia pingsan dipelukanku.


"Han.. Hana... Bangun han.. "


Berulang kali aku mencoba menyadarkannya, tapi dia tetap pingsan. Aku tak bisa mengantarnya pulang karena aku bawa motor bukan mobil.


Aku mencoba menghubungi rion, tapi hp nya tidak aktiv.


Aku tak bisa berlari mencari bantuan, karena hana ada dipelukanku. Akhirnya, aku memutuskan untuk menemaninya sampai sadar.


Kulihat gadis itu yang tampak pucat. Rambutnya yang biasa terurai dengan cantik kini terlihat kusut. Penampilannya kacau. Aku mengerti bagaimana hancurnya gadis ini.


Ditinggal kedua orang tua dengan alasan yang menurutku sungguh tidak terpuji.


Hampir 2 menit ku membiarkan gadis itu pingsan diatas kakiku yang sengaja aku selunjurkan agar dia merasa nyaman. Tak lama kemudian, tampak gadis itu tengah mulai membuka matanya perlahan.

__ADS_1


"Akhirnya kamu sadar juga, han.. "


Ucapku lega melihatnya telah sadar dari pingsannya.


Sadar bahwa dia sedang tidur dan bersandar dikakiku, ia sontak perlahan hendak menarik kepalanya untuk bangun, tapi aku dengan sigap memegangnya untuk kembali bersandar dan beristirahat kembali dikakiku.


Hana tampak diam dengan perlakuanku.


Gadis itu seolah enggan untuk berbicara.


" tuhan itu gk adil padaku, sya. "


Ucapnya sembari menatap lurus kelautan sana.


"Kenapa memangnya?. "


Tanyaku yang ingin tahu apa alasannya beranggapan begitu.


"Kenapa tuhan tega membuat keluargaku hancur? Papa mama lupa pada anaknya akibat selingkuhannya masing-masing. Aku capek, sya. "


celanaku serasa basah hingga menembus kepaha. Aku tau dia sedang menitikkan air mata. Tapi sambil mendengarkan perkataannya, aku juga memilih untuk menatap lurus kedepan, melihat deburan ombak yang begitu tenang.


"Tuhan itu bukan gk adil, han. Dan DIA gk mungkin membuat hidup kamu dan keluargamu hancur. Tuhan itu gak akan memberi ujian diluar batas kemampuan hambaNYA. Jika Allah memberimu ujian seperti ini, itu artinya kamu kuat dimata Allah. Tinggal kamunya aja, mau sadar dan terus berusaha apa cuma mau nangis dan menyerah?. "


Ucapku panjang lebar. Berharap dia bisa mengerti maksud perkataanku.


Tapi dia kembali diam membisu.


Akhirnya kutawarkan untuk mengantarnya pulang, tapi ia malah menolak.


"Dirumah gak ada orang, sya.. Yang ada aku akan semakin sedih nantinya kalo inget papa mama. "


Tuturnya. Sehingga membuatku berinisiatif untuk mengantarnya kerumah kakaknya.


"Jangan, sya.. Kasian kakak.. Nanti dia menjadi repot dengan adanya aku disana. Lagi pula dia sedang mengurusi sikecil yang sedang sakit. " ungkapnya.


"Oh, tapi setidaknya kamu kabari kakakmu agar dia tidak khawatir lagi. "


"hpku gk ada. "


Jawabnya singkat.


"Loh kemana?." tanyaku kaget.


Kemudian hana menunjuk kelaut.


"Knapa kamu melemparnya ke laut, han? "


"Biar aku tenang. "


Jawabnya meski aku kurang faham dengan alasannya.


Kulihat jam yang melingkar dipergelangan tanganku. Jam menunjukkan pukul 23.40..


Tanpa sadar aku sudah seharian mencarinya, akhirnya ketemu juga.


"Boleh pinjem hpnya, sya?. "


Tanya gadis itu yang masih tampak cantik walau penampilannya terlihat kacau.


Aku mengambil hpku yang kuletakkan disaku celanaku. Dan memberikannya pada hana.


Kulihat dia sedang menekan tombol angka hingga menjadi sebuah nomer telepon.


Tak lama kemudian,


"Halo, kak.. Ini hana. "

__ADS_1


Aku tak mendengar jawaban orang dibalik telepon itu, tapi yang jelas hana sedang menghubungi kakaknya.


"Iya.. Jangan khawatir kak.. Hana baik-baik aja kok. Hana mau nginep dirumah temen dulu ya kak. Hana pengen nenangin diri dulu. "


Ucap hana yang kemudian mengakhiri teleponnya.


"Makasih, sya. "


Ucapnya sembari mengembalikan hpku.


"Oke, sama-sama. "


"Boleh aku nginep dirumah kamu, sya?. "


Tanyanya membuatku kaget.


"What?? Eee... Bukannya gk mau sih han, tapi kan kamu cwek, masak ia mau nginep dirumah cwok. "


Ucapku apa adanya.


"Oh ya udah kalo kamu keberatan, aku pergi dulu. " ucapnya sembari berdiri beranjak hendak pergi.


"Han, bukannya gitu. Tapi kamu mau nginep dirumahku?. "


"Knapa emang, rumahmu dikuburan hah?. "


Sergahnya kesal.


Menyerah dengan perkataannya, aku pun menggenggam tangannya kemudian menariknya untuk mengikuti langkahku menuju motorku.


Sesampainya disebelah motorku, aku menyodorkan helm yang satunya untuk dia pakai. Iya menerimanya dan segera memakainya. Kami pun mulai meninggalkan pantai tenang itu menuju rumahku.


Perjalanan dari pantai kerumah kurang lebih memerlukan waktu sekitar 15 menit.


Kini kami sudah sampai dirumahku.


Sesampainya dirumah...


Ini sudah larut malam. Orang tuaku pasti sudah tidur. Aku membuka pintu perlahan.


"Masuk, han... "


ucapku mempersilahkan gadis itu masuk kedalam rumahku.


Kupersilahkan hana duduk.


"Sebentar, akan ku ambilkan minum dulu untukmu."


"Makasih, sya. " ucapnya sambil tersenyum.


Aku berjalan menuju dapur. Kubuatkan dia teh hangat agar badannya juga merasa hangat.


Kulihat dimeja makan tampak roti cokelat yang masih utuh berukuran sedang buatan mama.


Aku yakin dia lapar. Kubawa sekalian roti itu untuk kusuguhkan pada hana.


Sesampainya diruang tamu, kulihat hana sudah tertidur pulas. Ia merebahkan tubuhnya diatas sofa panjang diruang tamuku.


"Mungkin ia kecapek'an. " pikirku.


Tidak tega melihat gadis itu tidur disofa. Aku pun menggendongnya dan memindahkannya kekamar tamu.


Ia tampak lelah. Tubuhnya agak kurusan setelah beberapa hari ia meninggalkan rumah.


Setelah aku menyelimutinya, aku pun pergi meninggalkannya menuju kamarku. Aku juga lelah seharian tak henti mencarinya.


Besok saja aku kabari rion bahwa aku sudah menemukan hana. Karena sudah larut malam, rion pun juga pasti sedang istirahat.

__ADS_1


"Selamat malam, hana.. Istirahatlah. "


@@@


__ADS_2