NENG SABRINA THE PERFECT MUSLIMAH

NENG SABRINA THE PERFECT MUSLIMAH
Episode 58. CINTA DALAM BATIN


__ADS_3

Malam itu saira di telpon mamanya untuk segera pulang. sedangkan neng Zahwa juga mendapat kabar kalau anaknya sedang demam.


"tidak apa-apa neng.. pulang saja. bina ngerti kok"


kata Sabrina memegang tangan neng Zahwa yang tampak bingung.


"Tapi kamu sama siapa,dek?"


tanya Zahwa panik.


"Kan ada suster yang bisa jaga bina dan si kecil ini. neng Zahwa gk perlu khawatir ya"


"Beneran gpp dek?"


"iya gpp,neng.. "


kata sabrina mencoba menenangkan wanita itu.


"Tapi kalau ada apa-apa langsung hubungi neng Zahwa ya dek!"


perintah neng Zahwa.


"iya neng.."


kini neng Zahwa sudah keluar dari ruangan itu. dengan berat hati ia harus meninggalkan adik iparnya yang baru melahirkan sendirian disana.


tapi neng Zahwa tidak kehabisan akal.


ia berjalan menghampiri salah satu suster yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Permisi sus..."


"iya,Bu.. ada yang bisa saya bantu?"


"Dokter Arsya dimana ya?"


"Baru saja beliau masuk keruang kerjanya Bu.. mari saya antar"


suster itu mengantarkan Zahwa menuju ruangan Arsya.


"ini ruangan dokter Arsya Bu.."


"Terimakasih suster"


ketika suster itu sudah pergi, tanpa membuang waktu neng Zahwa langsung mengetuk pintu dan segera masuk.


"Assalamualaikum.."


kata neng Zahwa pada Arsya yang sedang menulis sesuatu di meja kerjanya.


"Waalaikum salam.. neng Zahwa, mari silahkan duduk neng"


kata Arsya kaget mengetahui siapa yang datang.


"Terimakasih dek.. kamu sedang sibuk?"


tanya neng Zahwa seketika.


"Tidak neng.. ada yang bisa saya bantu?"


tanya Arsya dengan sopan pada wanita itu.


"Jadi begini dek.. kalau tidak keberatan dan tidak merepotkan, saya mau minta tolong nitip jagain dek bina. karena anakku sedang demam di rumah jadi saya harus pulang"


kata neng Zahwa menjelaskan.

__ADS_1


mendengar ucapan neng bina membuat Arsya senang dan bahagia karena ia mendapatkan kesempatan untuk bisa bersama neng bina walaupun hanya sebentar saja.


"Baik, insyaallah saya akan menjaga neng bina dan bayinya. neng Zahwa tidak perlu khawatir ya"


kata Arsya dengan lembut.


mendengar kesanggupan Arsya membuat Zahwa merasa tenang dan lega meninggalkan Sabrina di sana.


kemudian ia pamit pulang pada Arsya yang masih menahan senyumnya di sana.


Zahwa tahu bahwa Arsya terlihat sangat bahagia. dan Zahwa percaya bahwa baik Arsya maupun Sabrina tidak akan melebihi batas karena Zahwa percaya bahwa keduanya tahu akan aturan agama dan tidak mungkin melanggarnya.


setelah Zahwa pergi, Arsya melanjutkan untuk menulis laporan kesehatan beberapa pasiennya. setelah itu ia memutuskan untuk menemui Sabrina sekaligus mengontrol keadaan si bayi.


"Assalamualaikum..."


ucap Arsya sembari berjalan menuju ranjang neng bina berada.


tampak wanita itu terburu-buru memakai cadarnya kembali ketika melihat Arsya datang.


"Maaf neng.. aku lancang masuk begitu saja"


kata Arsya yang sudah membalikkan badan seolah memberi kesempatan pada wanita itu untuk memakai cadarnya.


"Gpp,sya.. kamu kan dokter disini. jadi itu hak kamu"


kata sabrina tenang.


mendengar ucapan itu saja membuat hati Arsya merasa tenang seketika.


"Sudah neng?"


tanya Arsya.


"Apanya yang sudah,sya?"


kata Arsya singkat


"Oh sudah,sya.. "


mendengar jawaban itu sontak membuat Arsya kembali berbalik badan.


"Boleh aku cek bayinya neng?"


tanya arsya


"silahkan.."


kata sabrina mempersilahkan Arsya untuk memeriksa si kecil.


"Bagus neng.. perkembangannya baik sekali. bagaimana ***** nya neng? eh maksud saya bagaimana menyusunnya?"


kata Arsya lumayan kaku dan salah tingkah di hadapan Sabrina.


namun ia mencoba profesional selayaknya dokter.


"Oh Alhamdulillah lancar,sya.. dia antusias banget nyusunya"


kata Sabrina yang kini mencoba mengimbangi sifat santai Arsya.


"Alhamdulillah kalau begitu.. dan kalau hasil periksa malam ini baik, besok kamu dan si kecil boleh pulang"


kata Arsya sembari tersenyum menatap Sabrina yang ia tahu bahwa sedari tadi wanita itu tampak menatapnya.


"Terimakasih... "

__ADS_1


ucapnya singkat masih dengan pandangannya menatap lelaki itu.


kini keduanya sudah bisa saling bersikap santai. Arsya memposisikan dirinya sebagaimana seorang dokter yang merawat pasien agar ia tidak terlihat kaku di hadapan Sabrina.


sedangkan Sabrina mencoba menganggap Arsya sebagai seorang dokter yang bertugas untuk memeriksanya sehingga ia bisa bersikap tenang dan santai.


dengan kedua pikiran mereka itu membuat ucapan keduanya menjadi santai dan tenang.


tiba-tiba terdengar suara tangis bayi di ruangan itu. dengan sigap Arsya menggendong bayi itu dan mencoba menenangkannya..


"Mungkin dia haus,sya..."


kata Sabrina yang sudah melihat bayinya dalam gendongan lelaki tampan itu.


"Tidak,neng.. sepertinya dia terganggu dengan suara kita"


kata Arsya sembari menggendong bayi kecil itu. dan sesekali terlihat laki-laki itu dengan lembut mencium pipi si kecil.


jawaban Arsya membuat Sabrina terdiam.


'Andai bayi itu adalah anak kita.. pasti aku sangat bahagia,sya.. melihatmu bahagia dan menemaniku di sini'


batin saira walau dengan pandangan masih menatap lelaki yang sedang menggendong anaknya.


'Andai saja dulu aku tidak terlambat meminangmu,neng.. pasti saat ini kau sudah memberiku bayi kecil ini'


batin Arsya sambil menatap wajah mungil bayi itu.


benar...


ternyata bayi itu kembali tertidur dalam buaian Arsya.


terlihat nyaman dan nyenyak sekali si kecil dalam gendongannya.


beberapa detik kemudian..


suara handphone Arsya membuat bayi itu kembali menangis.


sontak Arsya menyerahkan bayi itu pada ibunya.


"Maaf neng.. aku mau menjawab telepon dulu"


kata Arsya sembari menyerahkan si kecil.


"iya,gpp sya.. "


kata Sabrina yang sudah menenangkan bayinya.


Sementara Arsya langsung mengambil hp yang ada di saku seragam dokternya.


"Hallo.. ok baik saya segera kesana"


kata Arsya kemudian mengakhiri telponnya.


"Neng.. ada pasien kritis yang harus segera aku tangani, aku tinggal dulu gpp?"


kata Arsya yang tampak berat untuk meninggalkan wanita itu dan bayinya.


"... aku suruh suster untuk menemanimu di sini ya?"


lanjut Arsya.


"Pergilah,sya.. pasien itu sangat membutuhkan kamu sekarang. aku gpp kok. dan gak perlu panggil suster karena aku ingin berdua dengan anakku"


kata sabrina dengan senyum cantiknya.

__ADS_1


tanpa berlama-lama lagi Arsya segera pergi meninggalkan wanita itu. karena ia sangat terburu-buru.


@@@


__ADS_2