
Sudah hampir satu Minggu setelah acara pernikahan itu digelar. tapi sabrina masih tampak kaku dengan suaminya.
Saat itu..
"Neng,bangun.. sholat subuh dulu"
kata Gus Ali suaminya.
seketika itu sabrina bangun. tanpa sepatah katapun terucap dari lisannya, ia langsung berjalan ke kamar mandi.
meninggalkan suaminya yang hanya bisa diam dengan sikap istrinya.
Setelah melaksanakan sholat subuh berjamaah dengan keluarga yang lain, seperti biasa, Sabrina membaca Alquran dibalkon kamarnya. sembari menikmati udara pagi yang sangat sejuk.
Tampak Gus Ali, suaminya tengah memperhatikannya dari tempat tidur.
keduanya tak banyak bicara. tanpa komunikasi dan obrolan. kecuali sekedarnya saja.
setelah Sabrina menyelesaikan bacaan Alquran nya, Gus Ali mendekat dan berdiri disamping istrinya.
"Neng..."
panggil laki-laki itu.
"Dalem,Gus"
jawab Sabrina pelan.
"Pernikahan kita sudah berjalan hampir satu Minggu. tapi kenapa hubungan kita masih seperti ini?"
Ungkap Gus Ali kemudian.
"Apa ada yang salah denganku,neng?"
tanya Gus Ali.tapi istrinya tetap diam dengan pandangan lurus kedepan.
"Atau mungkin, kamu tidak berkenan dengan pernikahan ini?"
Gus Ali kembali melontarkan pertanyaan pada istrinya yang masih tetap membisu.
"Maafkan aku,Gus.. aku belum siap"
ucap gadis itu tiba-tiba dan langsung berjalan meninggalkan suaminya.
keduanya kembali terdiam. hingga akhirnya terdengar suara neng zahwa memanggil Sabrina dan Gus Ali untuk sarapan.
Suasana ramah dan bahagia terjadi dimeja makan saat semuanya tengah sarapan.
tak terkecuali Gus Ali dan Sabrina.
Seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka berdua.
jam seolah berputar begitu cepat.
hari-hari Sabrina berjalan begitu hambar. penuh keheningan dan kebisuan.
Malam itu seperti biasa..
meski keduanya tidak seperti layaknya pengantin baru yang dimabuk asmara, tapi mereka tetap satu ranjang.
Malam itu tampak hening dan sunyi.
Sabrina sudah memejamkan mata dengan posisi membelakangi suaminya.
tiba-tiba...
Sabrina kaget mendapat pelukan dari belakang.
Gus Ali dengan perlahan memeluk istrinya.
Sabrina hanya diam menahan degup jantungnya.
Gus Ali merasakan gemetaran ditubuh istrinya. mungkin karena ini adalah kali pertamanya Gus Ali menyentuh gadis itu.
Melihat istrinya diam tak merespon, Gus Ali semakin mempererat pelukannya.
Perlahan,laki-laki itu mencium leher istrinya.
dalam beberapa detik ia menciumi leher dan telinga Sabrina.
__ADS_1
tapi wanita itu masih diam dengan gemetaran disekujur tubuhnya.
perlahan,laki-laki membenarkan posisi istrinya. membuat wanita itu terlentang.
tapi apa yang terjadi, wanita itu diam dengan tangisnya. air mata yang mengalir deras dari pelupuk matanya,membuat Gus Ali mengurungkan niatnya untuk melakukan hal lain pada istrinya.
"Neng..."
panggil Gus Ali merasa bersalah.
"Maaf.. maafkan aku neng. aku hanya meminta hak ku sebagai suami."
kalimat itu begitu membuat Sabrina merasa bersalah.
tapi ia tetap diam dengan tangis dan memejamkan matanya.
sementara suaminya mundur dan mengambil kan segelas air minum untuk wanita yang tengah pilu dengan tangisnya.
"Bangunlah.. minum dulu."
kata Gus Ali. perlahan gadis itu duduk dan mengambil segelas air minum yang disodorkan suaminya.
"Maafin aku,neng.."
kalimat itu terucap lagi dari lisan Gus Ali.
ia sangat menyesal dengan apa yang telah diperbuatnya.
tapi wanita itu enggan menjawab. ia memilih kembali berbaring dan memaksa matanya untuk terpejam.
"Maafkan aku Gus.. aku belum siap"
batin Sabrina.
sementara Gus Ali terus memperhatikan wanita disampingnya itu.
rasa cintanya semakin besar kepada Sabrina. tapi wanita itu masih belum bisa menerima dirinya.
sejak malam itu,Gus Ali tidak berani lagi menyentuhnya.
ia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menunggu sampai sabrina benar-benar siap dengan hal itu.
Keesokan harinya..
Sabrina tiba-tiba memeluk dan menagis dipelukan neng zahwa,kakak iparnya.
tanya neng zahwa kaget.
"Neng, Gus Ali.. dia menyentuh ku tadi malam. aku .."
wanita itu tak kuasa melanjutkan kalimatnya. ia kembali menangis dipelukan kakak iparnya.
"Dek, dengerin ya.. itu hal yang wajar dilakukan oleh suami istri. kamu sebagai istri harus memenuhi hak biologis suamimu. dosa kalau kamu menolak"
kata neng zahwa menjelaskan.
"aku tahu,neng.. tapi aku gak bisa.
aku gak mau."
"apa alasan kamu belum bisa menerimanya sebagai suami kamu?"
Sabrina diam dengan pertanyaan itu.
"Arsya.. apa karena dia kamu seperti ini?"
Sabrina kembali diam.
"Dek, dengarkan neng.. kamu sudah menjadi istri orang lain. kamu sudah menikah. jadi kamu harus bisa melupakan Arsya. penuhi hak-hak suamimu. laksanakan kewajiban mu sebagai istri. kamu faham maksud neng?"
"Aku gak bisa,neng.. aku gak bisa"
jawab Sabrina yang kemudian pergi meninggalkan neng zahwa.
pikirannya kalut. ia bingung. hatinya terasa sesak. ia ingin menemui orang itu. laki-laki yang benar-benar membuatnya tak berdaya.
hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke rumah Arsya.
ketika hendak mengambil tas dikamarnya, Gus Ali sedang membaca buku disana.
"Mau kemana,neng?"
tanya Gus Ali
"Mau keluar sebentar."
kata Sabrina.
__ADS_1
"Aku antar ya?."
kata Gus Ali menawarkan.
"gak usah Gus.. aku mau sendiri aja.
trimakasih"
ucap Sabrina yang kemudian keluar kamar.
dari balkon kamarnya, Gus Ali tengah melihat Sabrina menyetir mobilnya.
"Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini padaku?."
kata Gus Ali pelan seolah bicara pada dirinya sendiri.
@@@
Sabrina sudah ada dihalaman rumah Arsya.
setelah ucap salam, wanita itu disambut dan dipersilahkan masuk oleh mama Arsya.
"Assalamualaikum,Tante"
"Wa'alaikum salam,sayang.. akhirnya kamu kesini lagi.ada apa ,ada yang bisa Tante bantu?"
"Arsya ada Tante?"
tanya wanita itu tanpa basa basi.
"Arsya..."
kalimat itu menggantung.
Tiba-tiba seorang Arsya dengan wajah pucat dan tubuhnya yang lemas, muncul perlahan menuruni anak tangga.
"Ma.. Arsya lapar."
ucapnya perlahan.
sontak mama Arsya berlari untuk membantu anaknya berjalan dan duduk dimeja makan.
"Sebentar mama siapakan makanan dulu sayang."
"iya."
Arsya masih duduk dimeja makan dengan menyandarkan kepalanya diatas meja.
"Arsya..."
kalimat itu membuatnya mendongak dan membuka mata.
"Neng bina"
ucapnya kaget melihat wanita itu duduk lurus dengan dirinya.
"loh,kapan datang neng.. kok aku gak tau."
"Barusan."
jawab sabrina singkat. ia tidak tega melihat keadaan Arsya.
"kamu lagi sakit,saya?"
tanya Sabrina khawatir.
"cuma kecapean aja mungkin,neng."
jawab Arsya pelan.
membuat wanita itu semakin tak tega melihat keadaannya.
"ya sudah.. kamu istirahat aja. aku pulang dulu.permisi tante. assalamualaikum"
ucap Sabrina yang langsung pergi begitu saja.
"loh.. neng bina.."
kata mama Arsya kaget.
"udah biarin aja dulu ma. kalo Arsya udah sembuh, aku akan menemuinya ma."
kata Arsya santai.
__ADS_1
@@@