NENG SABRINA THE PERFECT MUSLIMAH

NENG SABRINA THE PERFECT MUSLIMAH
Episode 4 AKHIRNYA...


__ADS_3

 


Semangatku semakin berkobar. Tak sabar ingin segera melihat sang cinta.


 


Sore itu, kafe mawar jam 15.55...


Aku sengaja mengambil tempat duduk dekat pintu masuk. Agar aku bisa melihatnya dengan tenang dan jelas.


 


Lima menit kemudian, kulihat mobil avansa hitam berhenti didepan kafe. Aku yakin itu mereka, neng bina dan saira. Kutujukan pandanganku pada mobil itu, seseorang tampak turun dari mobil. Setelah kulihat siapa yang datang...


 


Sial....


Ternyata rion sahabatku yang datang. Hmmm... Kuhembuskan nafas dengan kecewa. Rion berjalan memasuki cafe.


"Eh, broo... Weeeeits.. Sendiri aja gk ngajak-ngajak nih. " celotehnya.


"Ngapain, bro. Lagi nungguin seseorang?. "


Tanyanya dengan nada mengejek.


"Sialan, ngapain lu ksini?. " tanyaku geram.


"Laper gw, males makan dirumah. Gw hubungin lu gk diangkat. "


Oh benarkah. Saking fokusnya menunggu sang cinta, sampai-sampai aku lupa bahkan tak mendengar dering handponku.


 


Beberapa detik kemudian, suara gelak tawa dua orang perempuan terdengar jelas ditelingaku. Kualihkan pandanganku ke pintu masuk. Oh benar, ternyata itu dia. Sang cinta, pujaan hatiku.


Mataku seolah enggan berkedip walau hanya sekali. Tak terasa, aku mulai tersenyum melihatnya. Akhirnya...


 


Aku bisa melihatnya walau dengan jarak yang tak terlalu dekat.



Mengetahui hal itu, rion sahabatku tiba-tiba tersedat dari minuman yang ia minum.


"Oh my goooooooddd...., sya.. Itu neng bina?. "


Tanya rion yang tak kalah kagetnya denganku ketika melihat neng bina.


Aku hanya menganggukkan kepala. Malas untuk mengeluarkan kata. Karena aku lebih memilih fokus untuk melihat sang cinta.


"Oh tuhaan, bagaimana bisa kau menciptakan perempuan yang secantik itu tuhan?. "


Celoteh rion membuatku mengangguk pelan membenarkan perkataannya.


"Yuk, sya.. Kita ksana, reunian sama mereka. Itu saira kan?. " ajak rion.


"Gila lu, rion... Jangan, biarkan mereka berdua aja. Kita cukup melihat dari sini aja. "


Ucapku dengan pandangan masih tertuju pada gadis cantik itu.


"Hmmmmmm.... " rion tampak menghela nafas panjang.


" Cemen banget lu, sya. Bertahun-tahun lu nunggu dia. Giliran udah ada didepan mata, lu gak berani nyamperin. Cowok macam apa lu, sya.. " ucap rion menghinaku.


"Gw cowok yang akan menjaga satu cinta. " jawabku asal.


"Mau sampai kapan lu kyk gini, menyedihkan... "


Ucap rion lagi yang kemudian meminum moccachino yang ada dihadapannya.


"Sampai takdir Allah menyatukan kita. " jawabku mantap didepan rion.


"Hadeeeeeeeuhh... Ya udah, lu disini gw yg kesana. "


"Rion apaan sih lu?. " tanyaku kaget.


"Gw bukan lu yang baper yang setia memendam rindu. Gw mau reunian sama mereka. " ketus rion yang kemudian berjalan menghampiri neng bina dan saira.


"Hay, neng bina dan saira kan?. " tanya rion mencoba memastikan.


"Iya. " jawab keduanya.


"Aku rion teman SMA, masih ingat?. "


"Oooh, kamu rion... Iya aku inget. " kata saira.


"Eeeee... Neng bina masih inget nggak sama aku?. "


Tanya rion yang masih tidak yakin melihat wajah gadis itu.


"Rion yang mana ya?. " tanyanya kemudian.


"Itu loh, neng.. Yang duduk sama arsya dulu. "


Ucap saira mencoba mengingatkan.


"Oh iya aku baru inget. Maaf ya rion. " ucap sabrina meminta maaf pada rion. Karena merasa tidak enak dengan ekspresi kecewa rion padanya.

__ADS_1


"Iya santai aja, neng. Makin cantik aja nih. "


Puji rion yang membuat sabrina tersenyum simpul.


"Biasa aja kok. " jawabnya lembut.


"Eh, rion.. Kesini sama siapa, sendiri?. "


Tanya saira.


"Sama si arsya, tuh orangnya... " kata rion sembari menunjuk kearah rion berada. Kedua gadis itu sontak melihat kearah yang ditunjukkan rion.


Sedangkan disana, rion pura-pura sibuk dengan hpnya.


"Kenapa arsya gk diajak kesini. " tanya saira sengaja.


"Gk tau, dia salting sama kamu, neng bina. "


"Loh kok gitu?. " tanya sabrina kaget dengan ucapan rion.


"Diakan udah lama suka sama kamu, neng?. "


Kalimat itu begitu lancar melesat dari bibir rion. Yang sontak membuat arsya pingin sekali meninju wajahnya.


"Panggil aja kesini. Sekalian kita reunian. Anggap aja gitu ya, neng?. " ucap saira.


"Iya. " jawab sabrina santai.


"Gapapa kan, neng?. " tanya saira sekali lagi. Memastikan kalau sabrina benar-benar tidak keberatan mereka memanggil arsya untuk bergabung bersama mereka.


"Iya, gpp ra.. " kalimat persetujuan dari sabrina.


Rion akhirnya memanggil arsya untuk bergabung dengannya.


"Apaan sih, lu malu-maluin gw tau. "


Ucap arsya.


Hingga akhirnya mereka duduk bersama.



Akhirnya...


Kami duduk bersama. Karena malu takut terlihat salting didepan mereka, akhirnya aku mencoba tenang seperti biasa.


" Assalamualaikum. " ucapku mencoba membuka obrolan.


"Waalaikum salam. " jawab keduanya bersamaan.


"Bagaimana kabarnya, neng.. Sehat?. "


Tanyaku memberanikan diri.


"Alhamdulillah kalo gitu. Aku juga sehat. " jawabku ala kadarnya.


"Haduuh... Kaku banget sih kalian berdua. Santai dong man.... Ayolah, kita nikmati pertemuan ini. " celotehan rion membuat kami tertawa. Tapi tidak dengan neng bina, dia hanya tersenyum manis dihadapanku.


"Nah, aku rindu senyum itu...


Aku rindu melihatmu tersenyum padaku...


Teruslah seperti itu, agar aku bisa terus mengukir senyummu dihatiku.. "


Batinku berkata demikian.


"Besok kita ketemuan lagi yuk. Sekalian ajak teman-teman yang lain. " ucap rion antusias.


"Aku gk bisa. " tiba-tiba sabrina angkat bicara.


"Loh, knapa neng?. " tanya rion


" nanti malam aku sudah harus kembali kepesantren. " ucap sabrina masih tetap dengan senyum manisnya.


Kalimat itu membuat kami kecewa.


Tapi mau bagaimana lagi. Itu sudah peraturan dari pesantrennya mungkin.


Tiba-tiba saira pamit ketoilet. Sedangkan rion sedang menerima telepon dari papanya.


Kini, tinggallah kami berdua. Aku dan juga sang cinta.


Hening beberapa saat, hingga akhirnya aku mencoba memecah keheningan diantara kita.


"Neng bina.. " panggilku.


"Iya, kak.. ". Jawabnya masih dengan pandangan tertunduk seolah sedang fokus mengaduk-aduk minuman yang ada dihadapannya. Padahal aku tahu bahwa dia sedang menyembunyikan rasa malu dan sekaligus menjaga pandangannya dariku.


"Tadi siang.., benarkah kau yang meneleponku?. "


"Maaf jika mengganggu. " ucapnya singkat.


"Nggk kok, nggk sama sekali. Justru aku senang. " ucapku asal agar dia tenang.


"Gimana mondoknya.? "


"Alhamdulillah lancar, kak. "


"Alhamdulillah kalo gitu. "

__ADS_1


Kembali hening...


Hingga akhirnya..


"Kak arsya.. " panggil gadis itu dengan lembut. Rasanya aku tenang sekali mendengar iya menyebut namaku.


"Iya. "


"Boleh nanya?. " ucapnya.


"Iya, mau nanya apa, neng?. "


"Sejak kapan kakak menungguku?. "


Deegggggg....


Kalimat pertanyaan yang sungguh membuatku gemetar.


"Sejak kita masih duduk dibangku SD, neng. Aku sudah menunggumu. "


pengakuanku membuat gadis itu terdiam. Membuatku khawatir, takut-takut pengakuanku membuatnya tidak nyaman.


"Maafkan aku, neng. "


Dia tetap membisu. Mungkin masih syok mendengar pengakuanku. Hingga akhirnya saira datang, rion pun ikut menyusul.


Keduanya meminta maaf karena telah meninggalkan kita berdua. Tapi aku bersyukur karena bisa ngobrol berdua dengan neng sabrina.


Dering handpon neng sabrina membuat kami tertarik untuk mendengarnya. Gadis itu mengambil hp ditas bunga-bunga miliknya.


"Assalamualaikum, iya abi..... Oh iya, sebentar lagi bina pulang, bi.... Iya, waalaikum salam. "


"Abi kamu, neng?. "


Tanya rion memastikan.


"Iya rion. ra.. Abi menyuruhku pulang untuk siap-siap kembali kepesantren. "


"Loh katanya nanti malam, neng?. " tanya saira bingung.


"Iya, katanya abi masih mau mampir kerumah saudara dulu. "


"Oh ya udah, ayok aku anter pulang. "


Ajak saira.


"Maaf aku harus pulang dulu. Terimaksih atas waktunya ya... " ucap sabrina dengan senyum yang masih tersungging dibibirnya.


"Iya, senang bertemu kamu, neng... Semangat belajarnya yaa..., fighting..!!!. "


Ungkapan semangat dari rion. Sementara aku hanya bisa diam menatapnya.


Tak rela rasanya untuk berpisah kembali. Tapi ini sudah ketentuannya.


. Aku dan rion berdiri melepas kepergian dua gadis berhijab itu. Ketika hendak masuk kedalam mobil, tiba-tiba ada seseorang berjalan yang mungkin tidak sengaja menabrak neng bina hingga hampir terjatuh. Melihat kejadian itu, sontak aku berlari menghampirinya.


"Gpp, neng?. " tanyaku khawatir.


"Gpp, kak. Aku yang salah. " ucapnya.


Padahal jelas-jelas orang itu yang menabrak neng sabrina, subhanallah...


Betapa indah akhlakmu, neng..


Ketika gadis itu hendak masuk kedalam mobil, seketika aku memanggilnya.


"Neng bina.. "


"Iya.. " jawabnya singkat.


"izinkan aku untuk terus menunggumu, neng bina. " pintaku padanya.


Sempat terdiam sejenak mendengar ucapanku barusan. Hingga akhirnya gadis itu membuka tas bunga-bunga yang ia pegang.


Tiba-tiba ia mengelurkan sebuah tasbih kecil berwarna cokelat dan menyodorkannya padaku sembari berkata..


" Berdzikirlah selagi kau menunggu. Jangan biarkan penantianmu sia-sia. Karena kita tidak tau takdir Allah untuk kita. "


Ucapnya lembut sembari menatap mataku.


Iya.. Ini kali pertamanya kami bertatap muka.


"Semoga kau selalu dalam lindungan Allah., kak. Assalamualaikum.. "


Ucapnya kemudian menakhiri pertemuan kita.


"Waalaikum salam. " aku baru bisa menjawab salamnya beberapa detik setelah iya menghilang dari pandangan.


Hatiku bertanya...


"Tuhan, apa ini artinya neng sabrina benar-benar mendukung cintaku? Agar aku terus setia menunggu kehadirannya?


Tuhan.. Aku akan menunggu takdirMU menyatukan kita dalam cinta. "


Aku kembali tersenyum mengingat ucapan terakhirmu neng. Dengan menggenggam erat sebuah tasbih yang kau berikan.


"Bismillah... Insyaallah aku akan istiqomah berdzikir kepada Allah neng, bukan karena dirimu semata.. Tapi karena lillah. "


 

__ADS_1


@@@


 


__ADS_2