
Setelah pertemuanku dengan dia pujaanku, aku dan rion langsung kembali kejakarta.
'Sampai jumpa dua tahun lagi neng'
Gumamku.
"Gimana liburannya kesemarang sayang?. "
Tanya mama sambil membawakanku segelas jus.
"Sungguh luar biasa ma. "
Jawabku senyam-senyum.
"Eeehhmmm... Ada apa? Sepertinya bahagia sekali ini. "
Terka mama.
"Alhamdulillah... Sungguh luar biasa kuasa Allah ma. "
Jawabku sembari menengadahkan tangan kelangit.
Kulihat mama mengerutkan kening tanda tidak mengerti dengan kalimatku.
"Jadi gini, ma.. Kemarin rion ketemu dan ngobrol dengan neng bina dipesantrennya ma.. Yaaah meski cuma tiga menit aja. "
Jelasku singkat pada mama.
"Loh.. Kok bisa ketemu? Gimana ceritanya sayang?. "
Tanya mama penasaran.
Akhirnya aku menceritakan semuanya pada mama. Beliau dengan senang menyimak ceritaku.
"Jadi gitu ma.. " kataku mengakhiri ceritaku.
"Dua tahun?? Dua tahun itu lumayan lama dong sayang. "
Kata mama kemudian.
"Gpp ma.. Arsya siap menunggu. "
Jawabku mantap tanpa ragu.
"Eeeemm... Ya sudah kalo gitu, sementara itu.. Kamu fokus sama kuliahnya juga ya... "
"Siap ma, arsya janji.. Arsya akan jadi seorang dokter hebat yang bisa menolong banyak orang nantinya. "
Tekadku.
@@@
Hari yang cerah. Musim telah berganti. Hujan sedang mengguyur kotaku. Kududuk didekat jendela. Bertrmankan secangkir kopi dan gemericik air hujan yang agak berisik.
"Arsyaaaa.. "
"Neng bina. "
Ucapku yang kaget melihatnya tengah berdiri didepan pagar rumahku.
Seolah mimpi tapi nyata. Aku melihat gadis itu tengah menatapku lekat. Seolah memanggilku untuk datang menemuinya.
Segera aku mengambil payung dan berlari kearahnya. Tapi dia tampak benar-benar sudah basah dengan guyuran hujan.
"Neng.. Kok hujan-hujanan malam -malam begini?. " tanyaku iba sekaligus heran.
"Aku takut, sya.. "
Ucapnya dengan sedikit gemetar.
"Takut? Takut apa neng? "
Melihatnya gemetar aku mengajaknya masuk tapi dia menolak.
__ADS_1
"Aku takut, sya... "
Kalimat itu kembali diucapkannya.
"Ada apa neng? Takut apa?. "
Tanyaku kebingungan. Tambah bingung lagi karena dia menolak payung dariku.
Kulihat air matanya mengalir bersamaan dengan air hujan.
"Katakan ada apa neng?. "
"Aku takut kita tidak bisa bersama. "
Ungkapnya kemudian.
Aku terdiam mendengar pengakuannya.
"Janji.. kamu akan nepati janji kamu kan sya? Kamu akan datang meminangku kan?."
Dia terisak dengan tangisnya. Ingin rasanya memeluk dan menenangkannya. Tapi belun saatnya.
"Janji.. Aku akan segera datang meminangmu neng. Sesuai perjanjian kita, Dua tahun lagi. "
Ucapku meyakinkan kegelisahannya.
"Tapi aku masih takut... "
Ucapnya lagi. Mengulang kalimat yang sama seperti sebelumnya.
Sebelum aku menanggapi kalimatnya lagi, dia berlari menembus guyuran hujan yang semakin lebat.
"Neng binaaaaaa..... "
Aku langsung terbangun kahet. Kulihat jam tanganku masih menunjukkan pukul 01.30 pagi.
Keesokan harinya..
Aku masih memikirkan mimpi itu. Mimpi yang yang aneh menurutku.
Dering massage hpku mengagetkanku. Membangunkanku dari mimpi anehku.
"Astaghfirullohaladziim... Apa maksud mimpi ini ya Allah?. "
Gumamku pelan.
Kulihat layar hpku.
Tertulis massage dari saira. Segera kubuka isi massage nya.
Ada waktu nggk? Ketemuan bentar yuk.. Asa yang mau aku omongin kekamu..
Begitulah isi massage itu. Kebetulan, aku akan menceritakan mimpiku pada saira. Lagi pula sudah lumayan lama aku tak bertemu dengannya.
Aku Segera bersiap menemuinya ditempat yang sudah kita sepakati.
Di Kafe bunda
Disini kami bertemu.
"Sehat, ra? " tanyaku membuka obrolan.
"Alhamdulillah sehat, sya. Kamu? "
"Alhamdulillah aku juga sehat. "
Kami memsan makanan stelah itu menikmatinya sambil ngobrol.
"Ada apa, ra.. Kenapa mendadak ngajak ketemuan? "
"Jadi gini, sya.. Tadi malam neng zahwa, kakak ipar neng bina.. Masih inget nggak?."
Tanya saira.
"Neng zahwa.. Oh iya, aku inget. Kenapa?. "
__ADS_1
"Nah.. Tadi malem ditelpon, neng zahwa cerita ke aku kalo ada cowok ngelamar neng bina. Tapi abi dan umiknya menolak karena cowok itu ngajak nikah tahun ini. Sedangkan neng bina masih mau tugasan dulu katanya.
Nah, setelah cowok ini ditolak.. Besoknya ada cowok lagi yang mau ngelamar neng bina lagi. Umiknya cocok, tapi abinya masih kurang cocok katanya. Akhirnya lamaran itu ditolak lagi. Gitu ceritanya, sya.. "
Saira mengakhiri cerita panjang lebarnya.
Aku menundukkan kepala seolah lemas mendengar cerita itu.
"Sya... Kamu gpp kan?. "
Tanya saira kemudian.
"Aku ngerti sekarang.. "
Ucapku.
"Maksudnya?. "
Tanya saira tak mengerti dengan ucapanku.
"Jadi gini, ra.. Tadi malem aku mimpi neng bina dan dimimpi itu.... "
Begitulah aku menceritakan mimpiku pada saira.
"Aku paham sekarang, sepertinya neng bina takut ada cowok lain yang meminangnya. "
Ucapku.
"Emmm... Pastilah.. Secara dia kan cantik dan putri dari seorang kyai sekaligus Pengusaha.. Siapa aja pasti tertarik padanya.
Mungkin karena itu, dia khawatir.. "
Kata saira.
Aku mengangguk membenarkan perkataannya.
"Kalo gitu.. Kenapa gk kamu lamar aja langsung. Masalah nikah kan bisa nunggu sampai neng bina lulus. "
"Gk bisa, karena aku udah jaji padanya akan meminangnya dua tahun lagi sampai dia menyelesaikan study plus tugasannya. "
Kataku.
"Loh, kok bisa.. Kalian ketemuan?. "
Tanya saira yang bingung dengan pengakuanku.
Akhirnya kuceritakan tentang weekendku disemarang hingga akhirnya bertemu dengannya.
"Kalo itu udah keputusan kalian berdua, aku doain.. Semoga Allah berkehendak atas apa yang kalian rencanakan. "
Kata saira sembari melihat jam dilayar hpnya.
"Amiiin.. " jawabku.
"Udah jam 10.20 sya.. Aku harus pulang, mau nganterin ibuk keswalayan. "
Kata gadis itu.
"Oh oke.. Thanks ya atas info dan waktunya, ra."
"Iya sama-sama. Semangat ya nunggu dua tahunnya. Hehe"
Kata saira sedikit meledekku.
"Siap.. Kamu saksi cinta kita. "
Ucapku kemudian.
"Ohyaa???. "
Kali ini aku menteraktir gadis itu. Karena dia sangat baik san banyak membantuku.
Setelah itu kami pun pulang.
@@@
__ADS_1