NENG SABRINA THE PERFECT MUSLIMAH

NENG SABRINA THE PERFECT MUSLIMAH
Episode 30 KESEDIHAN TAK BERUJUNG


__ADS_3

Gus Ali semakin panik melihat istrinya yang berkali\-kali keluar masuk kamar mandi. tak lama kemudian bik minah datang mengantarkan sarapan dan minyak kayu putih untuk Sabrina.



Sementara sabrina semakin lemas. ia menyandarkan tubuhnya ke pintu kamar mandi. melihat keadaannya, Gus Ali langsung menggendongnya menuju tempat tidur.


"maaf Gus.. aku merepotkan kamu"


kata wanita itu pelan.


"Gpp neng,, ini sudah menjadi tugasku sebagai suami kamu."


tanpa sadar kalimat itu di ucapkan oleh Gus Ali. membuat keduanya terdiam.


"Ayo sarapan dulu neng.. aku suapin ya."


"gak usah,aku bisa makan sendiri kok."


kata Sabrina.


"oh ya sudah.."


tapi wanita itu terlihat sangat lemas. tangannya bergetar ketika memegang sendok. Gus Ali pun memutuskan untuk menyuapinya.


"Sudah.. sini aku yang suapin."


kata Gus Ali menarik sendok dari tangan istrinya.


Satu suapan dari Gus Ali membuat perutnya kembali tak bersahabat. ia kembali ke kamar mandi untuk muntah.


lagi dan lagi Gus Ali membantunya berjalan menuju tempat tidur.


laki-laki itu menyodorkan minyak kayu putih pada istrinya.


"ini, oleskan minyak kayu putih ini diperut dan leher kamu biar agak enakan."


"trimakasih,Gus.. sekali lagi maaf sudah merepotkan."


"Gpp.. ya sudah kamu oleskan dulu minyak itu. mau mengoleskan sendiri ataaau... "


"aku bisa sendiri."


kata Sabrina.


"oh ya sudah kalau gitu."


seketika itu Gus Ali membalikkan badan. seolah tahu arti tatapan istrinya yang tidak ingin memperlihatkan aurotnya pada laki-laki yang sebenarnya sudah sah menjadi mahromnya.


"Sudah,Gus.."


ucapnya kemudian. membuat gus Ali kembali menghadap istrinya.


"coba makan lagi?"


tanya Gus Ali. tapi wanita itu menggelengkan kepalanya.


"Aku mau minum saja."


"oh ya sudah."


kata Gus Ali yang kemudian mengambilkan air minum untuknya.


DIRUANG MAKAN..


Tampak umik,Abi, neng zahwa dan suaminya sudah duduk di meja makan untuk sarapan.


"Loh.. Bina dan nak Ali mana?"


tanya abinya.


"bik minah.. minta tolong panggilkan neng bina dan Gus Ali untuk sarapan ya.."


kata umik neng bina.


"itu bunyai.. tadi Gus Ali meminta saya untuk mengantarkan sarapan buat neng zahwa. juga di suruh bawa minyak kayu putih."


kata bik minah.


membuat mereka kaget mendengarnya.


"Jangan-jangan Sabrina sakit,bi.. "


kata umiknya.


"Habiskan dulu sarapannya, baru kita lihat sabrina ke kamarnya."


kata abinya.


Setelah menyelesaikan sarapannya, unik dan neng zahwa pergi melihat keadaan sabrina di kamarnya. sementara Abi dan kakanya menemani tamu yang datang ke rumahnya.


tok..tok..tok..


"Assalamualaikum,bina.."


"waalaikum salam.. "


Gus Ali membukakan pintu untuk mereka.


""umik, neng zahwa.. "


"Bina sakit ya nak?"


tanya umik panik.


"iya mik.. tiba-tiba kurang enak badan. silahkan masuk,mik .. neng zahwa."


"iya.."


melihat keadaan bina yang lemas, umik dan neng zahwa khawatir.

__ADS_1


"kenapa, sayang?"


"Bina gpp mik.. cuma pusing sama mual-mual aja."


"mual?"


"iya,mik. beberapa kali bina muntah."


kalimat itu membuat umiknya tersenyum.


"kenapa umik tersenyum?"


"jangan-jangan kamu hamil muda sayang"


kata umik membuat sabrina dan Gus Ali seketika itu bertatapan.


"gk kok mik. bina mungkin kecapean setelah seharian keluar. mungkin bina masuk angin karena kemarin bina kehujanan."


kata Sabrina mencoba menjelaskan.


"loooh.. bisa saja kan. lagian kalian menikah sudah hampir enam bulan. kapan mau ngasih umik cucu."


kata umiknya membuat sabrina bingung dan merasa bersalah.


sementara Gus Ali hanya bisa diam dan sesekali tersenyum jika di lihat umik.


"ya sudah kalau begitu.. istirahat ya. unik mau ke kamar dulu. "


"iya,mik.."


"Nak Ali.. umik nitip bina ya."


"insyaallah,mik"


kata Gus Ali tenang.


"Ayo Zahwa.."


ajak umiknya.


"eeh.. Zahwa disini dulu ya mik. mau nemenin dek bina sebentar."


kata neng zahwa.


"oh ya sudah kalau begitu."


setelah umiknya keluar, Gus Ali juga pamit keluar sebentar untuk membuatkan teh hangat untuk istrinya.


kini mereka sedang berdua. Sabrina dan neng zahwa.


"Dek.. bener kamu gpp. apa mau ke rumah sakit aja?"


tanpa jawaban , sabrina langsung memeluk wanita yang ada di hadapannya itu.


tangisnya tiba-tiba pecah dipelukan neng zahwa.


"Ada apa dek? cerita sama neng zahwa?"


air matanya semakin deras mengalir.


"jadi seharian kamu sama dia kemarin?"


"gk neng.. Arsya udah pulang ketika duhur, tapi aku tetap disana sampai malam.. aku menangis dan sakit hati neng. Arsya tega banget sama aku. dia menyuruhku untuk melupakannya. aku gk bisa neng."


"Tapi Arsya melakukan itu pasti dia punya alasan dek.. karena sepertinya dia sangat mencintai kamu."


"alasannya.. karena dia gak mau merusak rumah tanggaku. dia nyuruh aku untuk jadi istri yang baik neng."


tangisnya kembali pecah.


"tapi menurut neng zahwa, Arsya benar juga dek. kamu sudah menikah.. dan selama ini, kamu hanya memikirkan Arsya. tanpa tahu bagaimana perasaan Gus Ali."


kalimat itu membuat Sabrina terdiam dengan Isak tangisnya.


"Neng zahwa gk bisa berbuat apa-apa untuk kamu, tapi neng harap.. kamu belajar melupakan Arsya dan belajar menerima suamimu. dia orang yang baik dek, jangan sampai kamu melukai hatinya. "


Sabrina hanya diam dan perlahan menganggukkan kepalanya. neng Zahwa pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya.


Di tangga menuju kamar Sabrina, neng zahwa berpapasan dengan Gus Ali adik iparnya.


"Loh.. kok sudah keluar neng?"


sapa Gus Ali dengan sopan.


"iya, biar dek bina bisa istirahat"


"oh iya neng"


Sesampainya di kamar..


Gus Ali mendapati istrinya sedang berbaring.


"Aku bawakan teh hangat buat kamu.. biar perut kamu jadi hangat."


kata Gus Ali sambil menyodorkan segelas teh hangat itu pada Sabrina.


"terimakasih,Gus"


kata Sabrina setelah meminum teh hangat itu.


"sama2.. yakin kamu gak mau periksa?"


"Gak usah, nanti juga sembuh kok."


kata Sabrina mencoba tersenyum pada laki-laki itu.


"ya sudah kalo gitu.. kamu istirahat aja. kalo butuh apa-apa panggil aku ya."


Sabrina menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Terimakasih"


kata wanita itu.


Gus Ali kembali duduk di balkon kamarnya. ia akan menjaga wanitanya yang sedang sakit itu.


Dari tempat tidur..


Sabrina menatap lurus pada laki-laki yang tengah duduk di balkon kamarnya itu.


"Kamu orang baik Gus. kamu perhatian banget sama aku. aku janji.. aku akan berusaha menerimamu dalam hidupku. "


batin Sabrina yang kemudian terlelap dalam tidurnya.


@@@


Keesokan harinya neng zahwa di temani bik minah pembantu rumah tangganya pergi berbelanja ke supermarket.


Di tengah kesibukannya memilih sayuran, neng zahwa melihat Arsya di kasir.


"Bik minah.. bibik lanjutkan belanjanya ya. aku mau bertemu sama temanku dulu."


kata Zahwa.


"baik neng"


kata bik minah.


Neng zahwa mengejar Arsya yang sudah keluar dari supermarket itu.


"Arsya... "


panggil Zahwa.


laki-laki itu menghentikan langkahnya.


"Neng Zahwa.. assalamualaikum neng"


kata Arsya.


"Waalaikum salam,sya.. maaf mengganggu."


"Gpp kok neng. ada yang bisa saya bantu?"


"oh gk ada kok. kamu lagi ngapain disini. kok banyak banget belanjaannya?"


tanya Zahwa.


"Oh ini neng, aku beli keperluan buat pergi ke rumah nenek di kampung."


kata Arsya menjelaskan.


"Sya.. boleh minta waktunya sebentar, ada yang mau saya bicarakan sama kamu"


"Oh iya,neng.. kita ngobrol di sana saja mungkin ya.."


kata neng zahwa sembari menunjuk ke sebuah kafe kecil di sebelah supermarket.


"iya neng."


kata Arsya.


Sesampainya di kafe itu, keduanya mulai mengobrol.


"Jadi langsung saja ya.. maaf sebelumnya kalo neng zahwa lancang. kata bina... "


kalimat neng zahwa langsung di potong oleh Arsya.


"iya Gpp neng. maaf memotong pembicaraan. biar Aku sendiri yang menjelaskan. aku emang nyuruh neng bina buat ngelupain aku neng. tapi aku lakuin itu demi neng bina. aku gk mau, cuma gara-gara aku rumah tangganya hancur. aku pikir ini yang terbaik buat kita berdua.. terutama buat neng bina."


penjelasan panjang lebar dari Arsya.


"iya.. neng zahwa sangat mengerti maksud kamu. dan neng zahwa sangat menghargai keputusan kamu. itu sudah benar,sya."


kata neng zahwa.


"Trimakasih neng. kalo boleh tau, gimana keadaan neng bina sekarang?"


"Dia masih sakit. mungkin dia syok dengan keadaan ini. dan sepertinya dia masih belum bisa menerima kenyataan."


kata Neng Zahwa.


kalimat itu membuat Arsya menundukkan kepala dihadapan neng Zahwa.


"Tapi kamu tenang aja.. aku akan bantu dia buat ngelewatin semua ini. aku akan temani dia untuk bisa menerima kenyataan dan bisa menjalani hidup barunya."


"Terimakasih neng.. aku cukup lega mendengarnya. "


kata Arsya yang mencoba tersenyum.


"Oh iya.. memangnya kamu mau ngapain pergi ke rumah neneknya?"


"Rencana sih aku mau tinggal disana neng. buat nenangin diri. mencoba move on dari neng bina. agar dia juga bisa menjalani hidup barunya dengan tenang. "


"kapan berangkat ke rumah neneknya? terus kuliah kamu gimana? "


"insyaallah besok neng. Sekalian aku mau menyelesaikan skripsiku di sana neng. setelah itu, mungkin aku lanjut kuliah ke luar negeri."


"MasyaAllah.. semoga kamu sukses ya.


dan semoga kamu di pertemukan dengan jodoh yang tepat buat kamu."


"aamiin ya Allah.. trimakasih doanya neng."


"iya sama-sama.."


perbincangan mereka berakhir sampai di situ.


Perasaan lega dan tenang menyelimuti hatinya. ia tidak khawatir lagi pada Sabrina, karena ada neng zahwa yang akan terus bersamanya.

__ADS_1


@@@


__ADS_2