
pagi itu juga Arsya langsung keluar untuk menemui permintaan Sabrina.
"mau kemana,sya. sarapan dulu?"
tanya mama Arsya yang sudah berada di meja makan bersama keluarga yang lainnya.
"Nanti saja, ma.. arsya ada urusan sebentar"
kata lelaki itu yang langsung membuka pintu rumahnya.
"Arsya pergi dulu. assalamualaikum"
pamitnya.
Arsya sudah sampai di sebuah taman kota yang lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah Sabrina.
Lelaki itu menoleh ke segala arah mencari wanita hamil bercadar.
tepat di sebelah kirinya, wanita itu sudah duduk menunggu di kursi panjang berwarna putih yang ada di taman itu..
"Assalamualaikum.."
sapa arsya
"Waalaikum salam, duduklah.."
kata Sabrina.
"Maaf telat, neng.."
"iya gpp,sya.. aku juga baru aja sampai"
"Bagaimana kabarmu,neng?"
tanya Arsya yang kini duduk satu kursi dengan wanita itu, namun ada jarak di antara kita. Sabrina tampak duduk di ujung kanan kursi sedangkan Arsya berada di ujung kiri kursi. keduanya benar-benar masih menjaga jarak. mereka tidak berdua di sana. banyak orang dan anak-anak kecil lalu lalang di hadapan mereka.
"Ada apa ngajak ketemu,neng?"
tanya Arsya tanpa basa basi.
"Maaf sebelumnya mengganggu waktunya,sya.. aku hanya ingin menyampaikan sesuatu sebelum aku pergi untuk selamanya"
kata Sabrina sembari menghela nafasnya.
"Maksudnya,neng?"
tanya Arsya yang masih tidak mengerti dengan ucapan wanita itu.
"Besok aku akan berangkat ke Singapura,sya. keluargaku memilih tinggal di sana sementara sampai aku lahiran"
"ooh.. memangnya sudah berapa bulan kandungannya,neng?"
__ADS_1
tanya Arsya mencoba mengabaikan rasa sesak di hatinya.
"Alhamdulillah sudah 8 bulan,sya.. doanya"
kata Sabrina sambil mengelus perutnya.
melihat wanita itu mengelus perutnya, entah mengapa membuat Arsya juga ingin mengelus perut buncit itu. karena saking cintanya pada wanita itu, sampai-sampai Arsya membayangkan jika itu adalah anaknya.
"aku harap kita bisa menjalani hidup masing-masing,sya. aku benar-benar sakit dengan perasaan ini. aku belum bisa sepenuhnya melupakanmu meski aku sudah hamil anak suamiku... "
Arsya kaget bercampur bahagia mendengar pengakuan Sabrina.
'ternyata benar neng bina masih ada rasa padaku'
batin Arsya.
"... tapi tidak lagi,sya.. setelah bayi ini lahir, aku berjanji pada diriku sendiri untuk menghapus mu dari hidupku untuk selamanya"
lanjut pengakuan neng bina.
Degg...
hati arsya kini seolah di hantam batu besar hingga hancur tak tersisa.
kini pengakuan Sabrina membuatnya benar-benar terluka.
tapi dia memilih diam dan terus mendengarkan pengakuan wanita bercadar itu.
tanya Sabrina kemudian membuat lelaki yang menundukkan kepalanya seketika mendongak dan menoleh ke arahnya.
"Mungkin sulit dan butuh waktu,neng.. karena rasa ini benar-benar sudah mengakar dalam hatiku. tapi jika itu sudah menjadi keputusanmu, baiklah.. aku akan berusaha semampu ku. tapi tolong, jangan pernah hadir lagi di hadapanku jika kau tidak mau cinta ini tumbuh kembali "
pinta Arsya dengan kesedihannya.
"Lagi pula.. aku sudah bertunangan,neng.. jadi jangan khawatir.. kau bisa hidup tenang dan bahagia bersama keluarga kecilmu mulai sekarang"
kata Arsya mencoba tegar.
"Ooh... syukurlah kalau begitu.. semoga bahagia dengan calon istrimu"
kata Sabrina mencoba menyembunyikan rasa kagetnya.
"aku harus pulang,sya.. "
kata Sabrina yang sudah berdiri dari duduknya.
"Terimakasih sudah meluangkan waktunya untukku.. semoga bahagia dengan calon istrimu.. assalamualaikum,sya"
"Waalaikum salam,neng.."
jawab arsya yang merasa ngilu sendiri melihat wanita hamil itu berjalan pelan menuju mobilnya.
__ADS_1
tapi gua hanya bisa diam dan menatap kepergiannya.
'benarkah ini pertemuan terakhir kita,neng?'
gumam arsya pelan.
ia masih duduk di atas kursi panjang itu.
melihat dia yang sudah masuk ke dalam mobil hingga mobil itu berlalu dari pandangannya.
'andai kisah ini seperti di film-film yang pasti akan bertemu lagi di kemudian hari.. tapi itu hanya film.. rasanya mustahil terjadi dalam hidup ini'
ia kembali bergumam pelan seolah bicara pada dirinya sendiri.
hingga akhirnya ia memutuskan untuk pulang.
sesampainya di rumah..
"Assalamualaikum.."
salam itu tampak lemas terucap dari kedua bibir lelaki yang benar-benar patah hati untuk kesekian kalinya.
tapi kali ini ia benar-benar merasa hancur tak berdaya.
"Waalaikum salam.. dari mana saja,sya?"
tanya mama Arsya sambil menggendong anak ayu.
tapi arsya enggan menjawab pertanyaan itu. ia memilih trus berjalan menuju kamarnya. menaiki satu persatu anak tangga dengan pandangan kosong dan kebisuan.
melihat hal itu.. mama Arsya, ayu dan neneknya langsung khawatir terhadap apa yang terjadi pada Arsya.
mama Arsya bersiap untuk menyusul langkah putranya, tapi ayu melarang tantenya.
"Biarkan dulu mas Arsya istirahat Tante. biar sedikit tenang hati dan pikirannya. ayu yakin semua ini ada hubungannya dengan neng Sabrina.. karena hanya dia yang bisa membuat mas Arsya seperti ini"
kata ayu mencoba menenangkan tantenya yang sedih melihat keadaan putranya.
"kamu benar ayu.. kita harus bagaimana sekarang?"
tanya mama Arsya pada ayu. mencoba mencari solusi apa yang harus beliau lakukan.
"Tante tenang dulu, nanti sore biar ayu yang akan bertanya pada mas Arsya"
"Terimakasih ayu.. kamu benar-benar mengerti terhadap mas mu"
kata mama Arsya sambil memeluk keponakan satu-satunya itu.
"Sudahlah.. kalian tidak perlu susah. cucuku arsya adalah orang yang kuat "
kata nenek arsya sambil menonton televisi di ruang tamu itu.
__ADS_1
@@@